Mohammad Mochtar

Mohammad Mochtar atau dikenal juga denngan nama Raden Mochtar adalah bintang film Indonesia yang masa mudanya disebut Tarzan van Java atau Tarzan Indonesia, atau juga "glamour boy". Kelahiran Cianjur, 1 Juli 1917 dan meninggal di Jakarta, 1 Desember 1981. Pendidikan SD dan hanya sampai SMP (kelas I) Taman Siswa di Bandung. Semula diajak Miss Riboet untuk memperkuat kesebelasan sepak bola, tetapi kemudian tertarik untuk menjadi pemain sandiwara. Ditemukan oleh Albert Balink untuk pembuatan film Pareh (1935). Setelah Balink berbulan-bulan lamanya mencari pemuda Indonesia yang dalam bayangannya bisa tepat memegang peranan pemuda desa yang menarik dan gagah. Film ini banyak ditonton oleh kalangan terpelajar, dan nama Mochtar banyak disebut-sebut. Tapi ia mulai terkenal sejak filmnya yang kedua bersama Miss Roekiah, Terang Boelan (1937). Sejak munculnya pasangan ini maka "sistem bintang" (star system) dimulai, dunia film kita baru mulai meletakkan perhatian pada pentingnya kedudukan pemain. Film lainnya yang terkenal sebelum perang adalah Gagak Hitam (1939), Siti Akbari (1939), Moestika Dari Djemar (1941) bersama Dahlia. Di tahun 1939 tampil dalamm film Alang-Alang sebagai Pemain Utama, dan sejak itu mendapat julukan Tarzan of Java. Di film-film selanjutnya dia selalu hadir sebagai pemain utama, seperti pada Rentjong Atjeh (1940), Srigala Hitam (1941), Tengkorak Hidup (1941). Ketika perfilman sepi di masa pendudukan Jepang, ia menjadi Heiho, kemudian jadi polisi militer Jepang sampai penyerahan kedaulatan.

Tahun 1947 kembali ke Jakarta dan membintangi film antara lain Bengawan Solo (1949), Terang Boelan (1950), Sungai Darah (1954), dan Korupsi (1956). Setelah menyelesaikan Teladan (1957), namanya menghilang dari dunia film. Dia bekerja di pabrik sepatu dan mencoba buka usaha hotel dan restoran. Sepuluh tahun kemudian, baru tampil kembali dalam Menjusuri Djedjak Berdarah (1967) dimana dia terpilih sebagai Aktor Pendukung terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Indonesia (1967). Lalu berturut-turut main dalam Djampang Mentjari Naga Hitam (1968) Apa Jang Kau Tjari Palupi (1969), Kutukan Dewata (1970), Api Di Bukit Menoreh (1971), Pendekar Bambu Kuning (1972), Pengorbanan (1974), Si Doel Anak Modern (1976), Menantang Maut (1978) dll.

Pada masa pendudukan Jepang, Mochtar ikut dalam rombongan sancliwara Terang Bulan (1942), Bintang Surabaya (1943), Pantai Warna (1946). Kembali main film sesudah tahun 1949, dan kemudian menjadi Super Star dari PERSARl sampai studio ini tidak aktif lagi sejak tahun 1957. Di antara film yang terkenal dari masa ini adalah Rodrigo de Villa (1952), sebuah produksi bersama Persari/LVN (Philipina) yang dibalut dalam tata wama di Manila, Djandjiku (1956). Ketika produksi film menyepi, Mochtar pindah ke bidang usaha. Kemudian memutuskan untuk menjadi petani dekat Garut. Katanya ingin hidup tenang dimasa tua dan sesudah pula menjadi Haji (ikut main dalam film Tauhid yang sebagian berlangsung di Tanah Suci-1964). Ketika mm ramai lagi, ia tidak mampu menahan hati untuk kembali ke film sejak film Bengawan Solo IRifer of Love (1971). Tanda penghargaan yang pernah diterimanya adalah empat buah piala dalam pemilihan bintang terbaik oleh Majalah Varia (1954); Piagama Penghargaan dari Gubernur Propinsi Jawa Barat (1969) dan Piagam Penghargaan Gubernur KDKI Jakarta (1972).