Mohammad Amir

Tokoh perumus naskah proklamasi, lahir di Talawi, Sawah Lunto, 27 Januari 1900 dan meninggal di Jakarta, 1949. Dikenal melalui karya tulisnya, termasuk penulis produktif dan sekaligus wartawan yang menulis ilmu kedokteran, kebudayaan, dan politik. Termasuk dalam kelompok Pujangga Baru dan tergabung dalam kelompok tritunggal bersama Adinegoro dan Prof. Moh. Yamin. Ayahnya bernama Datuk Manano sedang ibunya bernama Siti Alamah. Ia disekolahkan di HIS Talawi dan selesai tahun 1914, ia sering menulis artikel pada surat kabar Soeloeh Peladjar, Tjahya Hindia, dan Neratja. Honorarium yang diperolehnya dipergunakan untuk membiayai sekolahnya. Melanjutkan ke sekolah ELS di Sawah Lunto kemudian pindah ke Bukit Tinggi. Bersama Hatta mendirikan organisasi Jong Java dengan ketuanya Hatta. Setamat dari ELS tahun 1918 melanjutkan ke Jakarta di STOVIA dan tetap aktif sebagai redaktur surat kabar Jong Java. Setelah tamat tahun 1923, melanjutkan sekolahnya ke Geneeskundig Hogeschool, Utrecht University di Negeri Belanda jurusan Psychiatrio Ia turut dalam kegiatan PI dan menjadi anggota komisaris periode 1924-1935.

Tahun 1928 lulus dari sekolah Geneeskundig Hogeschool, Utrecht Universty dan memperoleh gelar Arts dan doctor in de Medisijn, ia kembali ke Indonesia bekerja sebagai dokter negeri di Sawah Lunto sampai tahun 1934. Selanjutnya menetap di Medan sejak 1937 sampai dengan pendudukan Jepang, menjadi dokter pribadi sultan Langkat dan menetap di Tanjungpura (Sumatera Timur). Ia sangat akrab dengan kaum kerajaan dan pergerakan, ketika menjelang proklamasi diangkat menjadi anggota Panitia Penyelidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk Sumatera. Ketika PPPKI di Jakarta akan mengadakan sidang, Dr. Mohamad Amir, Mr. Teuku Moehamad Hasan, dan Mr. A. Abas diangkat sebagai wakil delegasi Sumatera. Ia dicalonkan menjadi Gubernur Sumatera, tetapi menolak dan meminta Mr. Teuku Moehamad Hasan yang menjadi gubernur.

Dalam Kabinet RI I, diangkat menjadi Menteri Negara dan berkedudukan di Sumatera Timur. Pada 3 Oktober 1945 Gubernur Sumatera Mr. T.M. Hasan didampingi Dr. M. Amir menyatakan dengan tegas bahwa pemerintah negara RI dengan resmi dijalankan di pulau Sumatera dengan pengangkatan residen-residen seluruh Sumatera dan staf gubernur dengan mempergunakan kekuasaan yang diberikan oleh RI. Desember 1945, diangkat sebagai wakil Gubemur Propinsi Sumatera. 17 Januari 1946 diangkat menjadi ketua Balai Penerangan dan Penyelidikan Propinsi Sumatera. Pada 3 Maret 1946 terjadi pergolakan antara gerakan revolusi sosial di Sumatera Timur (Vollesfront) dengan keluarga kerajaan. Keadaan tersebut tidak dapat dikendalikan olehnya, untuk itu TRI dibawah pimpinan kolonel Ahmad Tahir segera mengatasi keadaan guna menjamin ketentraman rakyat.

Setelah keadaan aman, dibebaskan dari tugasnya dan terdesak oleh ketidakpercayaan dari berbagai pihak. Beberapa suara menuduhnya mengadakan kontrak dengan Belanda sedangkan istrinya yang keturunan Belanda semakin memojokkan posisinya. Karena itu ia dipindahkan ke Makasar dan menjadi dokter biasa. Nampaknya ia merasa berdosa, amat kecewa dan seolah-olah kehilangan pegangan serta segala kegembiraan hidupnya. Akhirnya ia sakit dan keadaan semakin parah. Ia berobat ke negeri Belanda namun dokter tidak dapat menyelamatkan jiwanya dan pada 1949 ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, sedang istri dan kedua anaknya menetap di Belanda.