Mohamad Asenie

Seorang tokoh pemuda pejuang kemerdekaan. Lahir tanggal 12 Juli 1918 dari pasangan Bapak Mukri dan lbu Nur'am. Menikah dengan Asimah saat berusia 24 tahun. Pendidikannya dimulai dari HIS, kemudian Ver Volg School. Setelah lulus, ia bekerja di Algemenee Central Bank sebagai rekening loper atau bagian penagihan rekening dan dikenakan wajib militer. Ia menguasai ilmu silat dan dapat menghilangkan diri. Saat Jepang masuk, wajib militer bubar sehingga ia pulang dan mencoba berwiraswasta.

Pada saat kemerdekaan Indonesia di proklamirkan, ia bergabung dengan pemuda Menteng 31. Untuk menjaga keadaan dalam mempertahankan negara yang telah merdeka, Asenie ditugaskan di daerah Banjir Kanal Jembatan Tinggi Tanah Abang dan bermarkas di Museum Tekstil. Tanggal 19 September 1945, mereka mengumpulkan masyarakat terutama dari Jakarta dan Tangerang untuk bersama di Lapangan IKADA. Bulan Oktober dan Nopember 1945, Belanda kembali ke Indonesia. Asenie yang ikut membentuk BKR sangat gigih menentang niat Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Akhir tahun 1945, mereka menerima komando untuk menghentikan tembak menembak, akibatnya sebagian besar tentara dari Jakarta mundur ke Bekasi, terus ke Purwakarta. Pada waktu itu Asenie ditugaskan memimpin Sub Sektor XV dengan nama Batalyon Jantan Jakarta dengan pangkat komandan Sektor adalah Kapten di bawah Komando Militer Daerah V (KMD) Divisi I Siliwangi, Batalyon yang dipimpinnya bertugas menyerang kubu-kubu Belanda di daerah Banten, Bogor Utara serta pinggiran Jakarta.

Setelah Konferensi Meja Bundar ditandatangani (2 November 1949), seluruh pasukan Komando Daerah Militer V yang berkedudukan di Purwakarta dan daerah di sekitarnya hijrah ke Jakarta dan terjadi timbang terima antara TNI dengan Belanda karena kedaulatan Indonesia telah diakui. Pertengahan tahun 1950 diadakan reorganisasi
di kalangan TNI, Asenie mengambil keputusan untuk melepaskan diri dari dinas ketentaraan, untuk kembali masyarakat dan mencoba untuk berwiraswasta.