Mimbar Indonesia, Majalah

Majalah mingguan politik yang terbit di Jakarta sejak tahun 1947, setelah Belanda melancarkan Agresi Militer I terhadap Republik Indonesia. Pendiri dan pengasuhnya adalah Prof. Dr. Soepomo, Soekardjo Wirjopranoto dan Adinegoro, dengan dibantu para redaktur, seperti Gusti Majur, Sumantri Mertodipuro,Sugardo, Sutarto Ruslanputro, H.B. Jassin dan DarsjafRachman.

Mimbar Indonesia dan majalah Siasat, penerbit sejenis yang terlebih dulu beredar awal tahun 1947, sarna-sarna merupakan pendukung republik di daerah pendudukan militer Belanda. Pada masa aksi militer Belanda yang pertama, Mimbar Indonesia pemah dilarang terbit setelah memuat foto tempat yang disebut "gerbong maut Banyuwangi", karena tentara Indonesia yang dimuat di dalamnya diperlihatkan sebagai tawanan yang dibiarkan menderita. Penutupan majalah ini terjadi lagi ketika Belanda melakukan aksi militer kedua pada bulan Desember 1948, akibat tulisan Adinegoro yang mengecam agresi tersebut dan menyerukan kepada masyarakat agar tidak bekerja sarna dengan Belanda, bahkan melakukan perlawanan terhadap mereka. Adinegoro menjadi penanggung jawab redaksi majalah ini sejak awal November 1948, tetapi meninggalkannya dua tahun kemudian untuk pergi ke Belanda. Majalah ini berhenti terbit pada tahun 1967 karena secara komersial tidak lagi menguntungkan.