Metropolitan

Penafsiran dari klasifikasi kotaraya. Penyelenggaraan pemerintahannya cukup diatur dengan berasaskan dekonsentrasi terbatas, tidak memerlukan pembentukan Daerah Tingkat II dalam wilayah DKl Jakarta. Dalam perkembangan selanjutnya Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen PUTL dengan dibantu oleh Team Ahli Belanda menyusun konsep kebijaksanaan perencanaan dalam rangka Kawasan Metropolitan yang meliputi Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (JABOTABEK).

Jakarta, sebagai kota Metropolitan, merupakan unit kesatuan wilayah pembangunan yang menyeluruh dan kelurahan-kelurahan di Jakarta merupakan wilayah administrasi yang mempunyai penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat. Kecamatan di Jakarta bukan merupakan satu unit wilayah kesatuan ekonomi dan sosial, yang dipandang dari segi wilayah pembangunan dapat dikembangkan secara berdiri sendiri-sendiri. 0leh karena itu, sistem UDKP di wilayah Jakarta menitik beratkan pada peningkatan koordinasi penyusunan dan pelaksanaan program antar sektoral yang berlokasi di kecamatan yang ditunjuk sebagai lokasi Pilot Proyek.

Daerah Metropolitan: Kota induk yang dikitari kota sate!it atau daerah suburban di sekitarnya. Kota utama bertindak sebagai lokomotif ekonomi dan sosial dari kota satelit atau wilayah pinggiran sekitarnya. Interaksi penduduk kota utama dan kota satelit dicirikan oleh tingkat mobilitas yang tinggi. Mobilitas ini dapat berbentuk migrasi musiman atau dapat juga berbentuk nglaju (bekerja di kota induk lalu kembali ke kota pinggiran).

Indonesia mengenal Jakarta sebagai kota metropolitan. Kota ini memenuhi persyaratan kota metropolitan manapun di dunia karena selain dikitari kota satelit Bogor, Tangerang, Bekasi, juga diramaikan dengan sejumlah wilayah suburban. Mobilitas penduduknya selain ditandai dengan kemacetan lalu lintas pada jam-jam sibuk di pagi dan sore hari, juga dengan adanya migrasi musiman sebesar 904.576 jiwa dan penduduk nglaju sebanyak 249.603 jiwa (pada tahun 1989).