MENTENG

Awalnya Menteng merupakan satu daerah yang diberikan kepada Daeng Menteng dari Bugis. Menteng pada abad ke- 17 merupakan daerah di selatan Batavia dan merupakan daerah yang kurang dikenal dan masih dihuni oleh binatang buas. Pada abad ke-18 daerah Menteng berada di dekat Matraman. Namun kadang Menteng disebut 'Untung Jawa', yakni tanah yang terletak di 'bawah' (artinya sebelah utara) Kampung Melayu.

Merupakan nama daerah yang ada di selatan kota Batavia. Semula daerah ini merupakan hutan dan banyak ditumbuhi pohon buah-buahan. Karena banyaknya pohon Menteng yang tumbuh di daerah ini, maka masyarakat mengaitkan nama tempat ini dengan nama pohon Menteng. Sekarang nama Menteng merupakan Kelurahan dan sekaligus juga nama Kecamatan yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Sejak tahun 1810 wilayah ini telah mulai dibuka Gubernur Jenderal Daendels untuk daerah pengembangan kota Batavia. Tahun 1912 tanah yang ada di sekitar kampung Menteng dibeli pemerintah Belanda dijadikan perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda. Wilayah Menteng dalam perkembangannya dipertegas lagi dengan membagi-bagi nama Menteng, sehingga terdapat nama kampung lebih kecil di dalam kampung yang luas, ada nama Menteng atas, Menteng Dalam, Menteng Pulo dsb.

Boulevard Menteng ditambahkan sebagai jalur timur barat yang kedua. Sam ini Jl. Diponegoro-Jl.lmam Bonjol,(dahulu Menteng Boulevard) terbentang dari rel kereta api sampai Jl. Cokroaminoto sejajar dengan bulevard pertama, yakni Jl.SyahrirMoh. Yamin. Menteng sekarang mencakup seluruh daerah Jakarta Pusat antara rel kereta api di timur sampai Jl. Tharnrin di barat dan antara Jl. Wahid-Hasyim di utara dan Kali Malang di selatan. Daerah Guntur yang dikembangkan sebagai Niew-Menteng kini tidak dianggap 'Menteng' lagi, demikian pula Kelurahan Menteng Atas dan Menteng Dalam yang termasuk Jakarta Selatan. Daerah Menteng sekarang ini tidak hanya dibentuk atas bekas Tanah Partikulir Menteng, melainkan atas Tanah Partikulir Gondangdia. Pada tahun 1869 Tuan A. Hanking tercatat sebagai pemiliknya dan kemudian anaknya, yaitu Nyonya A. Meijer, yang memiliki sekurang-kurangnya sampai dengan tahun 1884. Pada akhir abad ke-19 Ny. lv.d. Bergh, janda L.R.L. van Beek, memperoleh Gondangdia (1890).

Tanah Partikulir Menteng dan Gondangdia dibeli karena bertolak belakang dengan daerah pemukiman elite Weltevreden, khususnya Kebon Sirih dan jalan-jalan lain di sekitar Koningsplein (Medan Merdeka). Menteng dibangun mengikuti pola Weltevreden, walaupun dengan ukuran tanah yang lebih terbatas a.l. karena alasan keuangan. Maka, Menteng-Gondangdia sangat cocok untuk memperluas wilayah perumahan untuk golongan berada. Selain itu, Gemeente Batavia terpaksa bertindak cepat, karena di wilayah tersebut sudah mulai timbul bangunan-bangunan liar. Dengan membeli tanah luas, kotapraja dapat mencegah spekulasi tanah dan mengadakan perencanaan matang.