Menteng, Rumah

Salah satu ciri khas Menteng adalah sebagian besar rumah induk berdiri sendiri, terpisah dari rumah tetangga. Rumah Menteng umumnya khas dan memberi wajah khas pula pada wilayah ini. Di Menteng terdapat bangunan yang didirikan dalam gaya eklektisisme (misal Boplo), Art Deco (misal, Kantor Pos Cikini), gaya vila (misal di Jl. Teuku Umar dan Jl. Imam Bonjol) dan gaya internasional, yaitu gedung-gedung yang didirikan sesudah tahun 1950 (misal bekas Departemen Pertanian dan kemudian Badan Penyelenggaraan Pemilu; 1996).

Arsitektur rumah tinggal di kawasan Menteng dapat dikelompokkan melalui beberapa cara. Menurut ukuran kapling, ada beberapa kelas yaitu: 1) 1000 m2 atau lebih tergolong groote stadsvilla; 2) 500-800 m2 tergolong middelgroote stadswoning; 3) 500 m2 dengan luas rumah 70-90 m2 tergolong kleine woningen.

Groote stadsvilla atau vila besar adalah rumah-rumah di sepanjang Jl. Teuku Umar, Imam Bonjol, Diponegoro, Sutan Syahrir dan Moh. Yamin, Middelgroote stadswoning atau rumah kota berukurim sedang sering dijumpai di Jl. Sam Ratulangi, H.A. Salim, Teresia,dan Palem. Sedangkan ukuran lebih terbatas lagi a.l. di Jl. Sawo, Jeruk, Cut Nyak Dhien dll. Kleine woningen atau rumah ukuran kecil dapat dijumpai di jalan-jalan Kusumaatmaja dan Sumenep, serta menyebar diantara middelgroote woningen.

Rumah Villa Menteng biasanya memanjang ke arah belakang. Hanya bijgebouwen atau paviliun yang berdempet. Rumah Menteng mempunyai daya tarik visual dari arsitektur rumah. Kita akan menemukan beberapa ciri khas yang berhasil menyatukan penampilan keseluruhan kawasan ini melalui keselarasan bentuk maupun dimensi rumah-rumah. Antara lain dapat disebut tinggi bangunan, bentuk atap, teras di muka rumah serta dekorasi pada pintu dan lobang angin. Elemen beberapa gaya diterapkan pada tipe-tipe rumah antara lain 'klasisisme indiseh', gaya tradisional barat, Art Deco, Amsterdam School, gaya vila atau bungalow dan gaya modem. Disamping itu rumah Menteng mempunyai aneka elemen bangunan yang khas bagi rumah-rumah di kawasan tersebut. Kekhasan tersebut meliputi bagian ubin, lobang angin, kaca patri, disain interior, tiang dekoratif, hiasan atap, pagar, tiang lampu, balkon, dan taman.

Jenis ubin yang sering dijumpai di rumah-rumah Menteng diantaranya adalah ubin PC (Portland Cement). Ubin ini berwarna abu-abu, licin dan bahkan ada yang mengkilap. Ada pula ubin jenis ini yang berwarna merah-darah, kuning atau hitam. Ubin terazo dihiasi bintik warna-warni dengan warna dominan merah, hijau, hitam atau kuning. Jenis yang lain ialah ubin kembang, corak dan warnanya sungguh indah. Sebagian besar dihiasi gambar bunga dan daun-daunan. Di antara ragam hiasnya, ada yang dipengaruhi Art Nouveau, dilihat dari gari-garis lentur dan bentuk yang meliuk dengan sangat halus.

Lubang Angin merupakan elemen mutlak yang harus ada di rumah Menteng asli. Selain memungkinkan udara keluar masuk, ternyata elemen ini sering pula menjadi pemanis dinding dengan variasi bentuk yang menarik.

Hampir semua rumah asli Menteng mempunyai jendela dan pintu yang berkaca patri. Kaea patri dibuat oleh pengrajin lokal yang bekerja di perusahaan pembuat hiasan rumah seperti Ned. Ind. Resterwerk Fabriek dan Glas-in-lood Engel di Cikini. Bahan baku kaca waktu itu diimport dari Belgia dan Belanda. Potongan kaca berwarna-warni diikat satu sarna lain dengan timah untuk membentuk pola yang umurnnya geometris (Art Deco). Di Menteng sangat jarang ditemukan pola kaea patri, yang bermotif flora fauna dengan garis lentur dan bentuk organik yang halus seperti disain Art Nouveau dan A.R. Mackintosh.

Desain Interior Rumah Menteng merupakan disain interior Indisehe Woonhuis abad ke-19 sangat sederhana; dinding dilabur putih dan lantai dilapisi batu besar kemerahan atau marmer (yang didatangkan dari Eropa sebagai pemberat kapal layar). Pintu dua daun berukuran lebar dan tinggi dengan memakai lobang angin yang besar di atasnya. Jendela-jendela juga besar dengan daun jendela dari kayu yang setengahnya bergaya krepyak. Ruang-ruang luas (sampai 6x7 m2) seperti pula teras muka dan belakang dipenuhi dengan bermacam-macam perabot, gordin, meja dan kursi rotan.

Hiasan Atap Rumah Menteng dilengkapi tiang bendera pada atap biasanya terlihat pada rumah berukuran besar. Hiasan seperti ini terbuat dari dinding batu bata yang diplester dan di cat. Sepintas lalu bentuknya mirip puncak menara yang muncul dari permukaan atap. Susunan bidang-bidang berbagai ukuran menunjukkan bahwa elemen ini memang didisain sebagai sculpture. Garis dan bidang horizontal serta vertikal yang kuat menunjukkan gaya dekoratif tegas namun sederhana. Ada juga hiasan atap yang terbuat dari kayu dan dipasang pada ujung bubungan rumah bagian depan seperti kebiasaan pada beberapa rumah tradisional Indonesia. Umurnnya berbentuk susunan papan kayu berbagai ukuran yang ditempelkan satu sama lain. Hiasan seperti ini membuat atap tampak lebih menarik, karena memiliki ciri tersendiri. Di antara bentuk atap perisai yang lazim di Menteng, ditemukan rumah beratap khas di Jl. Cemara. Atap seperti itu dalam bahasa Belanda disebut wolfdak (Inggris: haljhipped roof). Selain bentuknya yang unik, atap rumah ini masih dihiasi jajaran yang tampak seperti 'poni'.

Sesuai dengan karakternya sebagai 'kota taman', halaman muka rumah-rumah Menteng semestinya tidak ditutup dengan pagar. Namun, derni keamanan, pencegahan polusi dan kebisingan dari jalan yang ramai lalu lintas, penghuni tidak dapat disalahkan, jika memasang pagar tinggi. Di banyak tempat bentuk pagar-pagar batu sama sekali tidak cocok satu sama lain, sehingga pemandangan jalan bagaikan gado-gado. Namun demikian, banyak pagar hijau, besi dan tembok rendah yang artistik tetap ditemukan di Menteng. Hal ini cocok dengan rumah serta lingkungan dan mengijinkan pejalan kaki menikmati pemandangan rumah serasi dengan kebun yang ditata baik. Salah satu taman yang terkenal di kawasan Menteng ialah Taman Suropati (dahulu Burgemeester Bischopplein).