Melayu, Bahasa

Bahasa yang sudah dianggap resmi, hal ini ditunjukkan dalam pemakaiannya untuk surat menyurat. Bahkan Pangeran Jakarta Wijayakrama pun sudah menggunakan bahasa ini dalam surat menyurat dengan pihak Belanda.

Pemakaian bahasa Melayu ini bermula pada abad ke-10 ketika banyak suku Melayu yang berasal dari Kalimantan masuk ke Jakarta dan kemudian memilih bertempat tinggal di daerah pesisir, yakni Teluk Naga dan Ancol. Kemudian dalam proses tersebut bahasa Melayu menjadi bahasa pergaulan. Pada abad ke-12 bahasa Melayu mulai menggeser bahasa Kami dan orang-orang Betawi pun sudah banyak yang berbahasaMelayu.

Logat Melayu Jakarta: Merupakan bahasa Melayu yang dipakai oleh penduduk Jakarta. Apabila diamati secara seksama, maka bahasa Melayu Jakarta dipengaruhi oleh unsur-unsur / dialek bahasa daerah atau bangsa lain, seperti pengaruh unsur Melayu sendiri, pengaruh unsur Arab, Cina, Sunda, dan Jawa.

Dialek (Logat) Melayu Jakarta yang dewasa ini dipakai di Jakarta dan sekitamya adalah bahasa Melayu yang sejak terbentuknya masyarakat Jakarta dipakai sebagai lingua franca antar penduduk yang mempunyai latar belakang etnis dan bahasa yang beraneka ragam. Oleh karena itu warna struktur dan perbendaharaan katanya menunjukkan identitas bahasa-bahasa kelompok etnis pemakainya, dengan unsur Jawa, Sunda, dan Bali yang merupakan unsur paling kuat membekas pada bahasa Melayu Jakarta.

Sistem tenologi dialek ini memang mempunyai kekhususan, tetapi unsur struktural ini tidak dapat ditunjuk kesamaannya dengan salah satu bahasa atau dialek Melayu lain. Dialek dalam bahasa Melayu Jakarta terbagi empat, yaitu Dialek Pinggiran, Dialek Dalam Kota, Dialek Melayu Jakarta Modem, dan Dialek Melayu Kbnservatif.
     1) Dialek Pinggiran ditandai oleh pemakaian vokal lei untuk kata-kata yang dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan vokallal,la?! atau la/. Orang dalam kota sering menyebut dialek pinggiran itu dengan ungkapan Jakarta Kowek, atau Betawi Ora "tidak". Ini berarti bahwa penduduk Dalam Kota menganggap adanya sub dialek pinggiran yang ditandai oleh adanya atau banyaknya pengaruh Jawa pada sub dialek itu.
     2) Dialek Dalam Kota ditandai oleh pemakaian vokal lei untuk kata-kata yang dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan vokal lal atau lahl yang dipakai oleh pemakai dialek dalam kota. Orang dari daerah pinggiran Jakarta sering menyebut bahasa Melayu Dalam Kota dengan Melayu Tinggi. Sedang pengertian Melayu Tinggi buat pemakai sub dialek Dalam Kota diartikan sebagai bahasa Indonesia.
     3) Dialek Melayu Jakarta Modern dilukiskan sebagai bahasa Jakarta yang hanya memakai /e/ pada perbendaharaan kata dasar saja, dan Ihl akhir tetap digunakan. Dialek ini digunakan oleh golongan anak muda yang termasuk kelahiran Jakarta.
     4) Dialek Melayu Jakarta Konservatif ditandai oleh pemakaian lei secara relatif konstan, serta hilang semua /h/ pada akhir kata. Dialek ini dipakai golongan orang tua yang termasuk kelahiran Jakarta.

Bahasa Melayu Jakarta mempunyai tiga gugus konsonan yaitu : kata-kata pinjaman dari bahasa asing, kata-kata dasar yang berasal dari bahasa Austronesia dan kata-kata dasar berawalan nasal plus konsonan. Terdapat dua pola nasalisasi verba dan kelas
kata lainnya yang bersaingan yaitu pola pengaruh bahasa Jawa, konsonan-konsonan bersuara b, d, j, g, I, r, dan w didahului langsung oleh nasal homorganis :mbakar, ndandanin, njailin "mengganggu atau mendengki", nggig it, ngliat, ngrapetin "merapatkan" ngwaliin "bertindak selaku wali". Dalam satu-dua kasus, c juga didahului oleh nasal, seperti dalam ncubit (yang lebih lazim : nyubit).Pola kedua, konsonan didahului dengan nga-, atau sangat kurang lazim, dengan nga- sehingga tidak tampak adanya gugus konsonan.

Di Jakarta terdapat ragam bahasa Melayu yang sering dipakai, yaitu Melayu polinesia. Kemudian dalam prosesnya bahasa ini dipergunakan dengan adaptasi dialek Betawi. Menurut Prof. Nathofer pakar linguistik Melayu dari Universitas Famkunt bahwa lebih dari seribu tahun yang lahi telah ada suatu komunitas berbahasa Melayu Polinesia dengan dialek khusus yang bermukim di daerah yang dikemudian hari disebut Jakarta. Proses penyebaran bahasa Melayu Polinesia di Jakarta paling sedikit terjadi pada abad ke-9 Masehi ketika Pelabuhan Kalapa di muara Ciliwung sudah berfungsi. Ada pula terdapat bahasa Melayu Tinggi, merupakan bahasa yang dituju oleh genre yang dipakai oleh pemain lenong.