MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

Presiden wanita pertama RI, bernama lengkap Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri. Lahir 23 Januari 1947 di Istana Negara Yogyakarta, yang sekarang bernama Gedung Agung. Masa kecilnya dihabiskan dalam persembunyian dan pelarian karena situasi revolusioner. Baru setelah Konferensi Meja Bundar, 27 Desember 1949, Gadis atau Adis, panggilan akrab Mega, bisa memulai kehidupan baru. Ia dan saudara-saudaranya dapat menikmati kemerdekaan di istana. Menyelesaikan pendidikan SD, SMP, SMA di Perguruan Cikini, Jakarta. Sempat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, namun dengan adanya peristiwa G 30 S, memilih keluar supaya bisa mendampingi ayahnya. Setelah keadaan membaik, kembali kuliah ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) tahun 1970. Tapi keluar pada 1972, saat suaminya, Surindro Supjarso, penerbang TNI AU hilang dalam sebuah kecelakaan pesawat di Biak, Papua pada 1970.

Ia mulai terjun di jalur politik, sejak Munaslub PDI, Desember 1993, di Jakarta dan tampil jadi ketua umum PDI. Sebelumnya dalam Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya secara de facto, ia sudah terpilih menjadi ketua Umum PDI, tapi, pemerintah baru mengakui posisi Mega setelah Munaslub di Jakarta. Pada Juli 1996, kedudukannya mulai diguncang dan digelar Kongres PDI di Medan untuk menggusur Mega. Dalam perhelatan yang tidak dihadiri Megawati dan pendukungnya, Soerjadi, mantan Ketua Umum PDI, tampil lagi memimpin barisan banteng yang membuat pendukungnya gusar. Mereka lalu menduduki kantor di JI. Diponegoro Jakarta, sambil mengadakan mimbar bebas. Hujatan dan cacian kepada Soerjadi dan pemerintah terlontar dalam aksi mereka. Bentrokan terjadi ketika massa yang mengaku pendukung Soerjadi ingin mengambil alih kantor itu dan lahirlah Peristiwa 27 Juli 1996.

Setelah masa reforrnasi, tahun 1998 juga belum menjadi rnilik Mega. Ia cenderung memilih diam dan tidak tampil ke muka. Menjelang Pemilu 1999, ia berbenah untuk tampil. Awal 1999, PDI mengubah nama menjadi PDI Perjuangan (PDIP). Dalam pemilu yang demokratis pada pertengahan 1999, PDIP memenangi pemilu dengan meraup 154 kursi di DPR. Histeria pendukung Mega semakin dahsyat. Mereka menganggap kursi presiden sudah di depan mata. Sayangnya menjelang Sidang Umum MPR tahun 1999, Megawati enggan melakukan lobi untuk menggalang dukungan. Yang saat itu sangat aktif dalam lobbying justru Gus Dur dan Amien Rais. Miskinnya manuver PDIP itu berakibat fatal. Ia gagal menjadi Presiden dan harus puas menjadi wakil presiden mendampingi Gus Dur Setelah Gus Dur diguncang kasus Buloggate, Sidang Istimewa MPR pada tanggal 23 Juli 2001 mencopot Gus Dur dari kursi presiden dan kemudian menobatkannya jadi Presiden RI periode 2001-2004.