Meester Cornelis

Sebutan untuk daerah Jatinegara, pada masa Hindia Belanda. Daerah di tepi Kali Ciliwung yang sekarang menjadi Jatinegara tersebut, sampai sekarang penduduk masih menyebutnya Meester. Berasal dari nama "Meester Cornelis Senen", seorang kaya anak tokoh terkemuka Telemon berasal dari Pulau Lontor (salah satu pulau di kepulauan Banda). Ia datang ke Batavia pada tahun 1621 (beberapa tahun sesudah JP Coen menguasai Batavia) dan pada tahun 1656 membeli sebidang kebun yang sangat luas di tepi Kali Ciliwung, sehingga lama kelamaan daerah tepi kali Ciliwung tempat ia tinggal disebut juga dengan nama Meester Cornelis, walaupun namanya adalah Jatinegara. Disamping itu ia juga menjadi guru dan terkenal dengan panggilan Meester Cornelis.

Dahulu Meester Cornelis membentuk afdeeling (bagian tersendiri) dari Residentie Batavia. Antara tahun 1905 dan 1936, Meester menjadi stadsgemeente (kota) tersendiri, lalu digabung dengan Batavia. Daerah Meester Camelis juga dijadikan pusat pertahanan untuk mengganti benteng Batavia, juga didirikan Sekolah Arteri. Sesudah perubahan struktur Djakarta pada tahun 1949, Jatinegara termasuk Kawedanan Matraman, Kecamatan Pulogadung. Sejak tahun 1960-an daerah Meester yang asli termasuk Kelurahan Bali mester dan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara di bawah Walikota Jakarta Timur.

Menurut De Haan, penguasa pemah memerintahkan membangun jalan dari laut di sebelah utara Ancol menuju Meester Cornelis (1678). Untuk memperlancar arus lalu lintas ke daerah ini, JI. Pasar Senen diperlebar pada tahun I820-an. Mendapat penerangan gas sekitar tahun 1861 dan dilalui jalur trem kuda pada tahun Juni 1869. Pada abad ke-19 Meester Cornelis (Jatinegara) merupakan wilayah bagian Timur Batavia.