Maumere, Seni Tari

Tari Maumere atau yang lebih populer dengan nama “Gemu Fa Mire”, adalah salah satu tarian yang ditampilkan dalam acara bertajuk “Tunjukkan Indonesiamu” dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-73, serta perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Kegiatan yang digelar bersamaan dengan momen Car Free Day ini dimaksudkan juga untuk memperkenalkan kekayaan tarian Indonesia yang tak kalah menarik dari tari modern ala K-Pop dan Bollywood pada generasi milenial.

Tari Maumere atau Gemu Fa Mire merupakan tarian kreasi baru yang sejenis dengan Poco-poco, bisa dibawakan sebagai tarian atau juga olah tubuh (senam). Tarian ini berasal dari daerah Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemunculannya digawangi oleh Frans Cornelis Dian Bunda atau Nyong Franco, seniman asal Ende, Flores, sebagai pencipta lagu Gemu Fa Mire. Lagu ini diciptakan tahun 2011 di kawasan hutan di pinggiran kota Maumere, saat ia tengah menyutradarai pembuatan album lagu-lagu. Dalam mengaransemen lagu ini Franco memasukkan unsur “gong waning”, salah satu alat musik tradisional berupa gendang khas Maumere. Saat menulis lagu, yang ada di benak Franco adalah orang akan langsung bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan begitu musik dimainkan, menari dengan heboh, sebagaimana kebiasaan orang Indonesia Timur jika sedang pesta. Ia berharap kenangan akan lagu dan tarian yang berkisah tentang kota Maumere ini akan terbawa pulang oleh siapapun yang mendengarnya. Kebetulan lagu ini dibuat untuk mengiringi tarian penyambutan sebagai ucapan selamat datang bagi para tamu yang berkunjung ke Maumere (NTT). Ternyata setahun kemudian lagu dan tarian Gemu Fa Mire melejit di NTT, dan menjadi lagu yang wajib diputar di setiap acara pesta, bahkan ada pemeo yang mengatakan bahwa pesta tak lengkap bila tak ada lagu Gemu Fa Mire. Iramanya bernada riang, musiknya terdengar meriah, membangkitkan semangat, dan gerakan tariannya juga menggambarkan kegembiraan. Gerakan berputar ke kiri dan ke kanan merepresentasikan keceriaan dan kegembiraan itu. Hentakan kaki dengan ritme sesuai irama disertai gerakan berputar ke kiri dan kanan khas Indonesia Timur yang dilakukan sesuai lirik lagu menjadi ciri tarian Gemu Fa Mire. Setelah di Nusa Tenggara Timur, lagu Gemu Fa Mire kemudian populer di tingkat nasional, bahkan dinyanyikan ulang oleh grup vokal lain. Gerakan tarinya lalu berubah menjadi gerakan senam irama dengan berbagai variasi, dan lebih dikenal sebagai “senam Maumere”.

Gerakan senamnya sederhana tetapi dapat membuat tubuh menjadi lebih rileks sehingga senam Maumere disukai oleh banyak kalangan, baik tua maupun muda. Terlebih iringan musik yang meriah dengan nada riang terdengar sangat menyenangkan. Gerakan berputar yang dilakukan berulang pada bagain tangan dan kaki menjadi bentuk latihan aerobik yang menyehatkan jika dilakukan secara rutin. Tubuh pun menjadi lincah dan tidak kaku. Gerakan senam Maumere dapat dikreasikan sesuai keinginan instruktur agar sesuai dengan usia dan segmen pesertanya. Meski banyak dikreasikan tetapi ada ciri khas gerakan tari atau senam Maumere yang dipertahankan, yaitu gerakan berputar ke kiri dan ke kanan dalam lingkaran sempit dengan salah satu kaki sebagai poros, menaikkan lengan sebatas bahu di bagian depan dengan posisi tangan mengepal yang kemudian digoyang-goyangkan, serta gerakan mengayun tangan naik-turun dan ke kiri-kanan. Tari Maumere juga fenomenal seperti halnya Gang Nam Style dari Korea. Gaungnya tidak hanya di Jakarta, Medan, dan Jayapura, tetapi sampai juga ke Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong, Shanghai, Tokyo, Seoul, Toronto, Rio de Janeiro, Buenos Aires, dan Cape Town. Tari Maumere dan lagu Gemu Fa Mire bahkan tampil di panggung Opera House, Sydney.