MAULID, REBANA

Jenis Rebana Ketimpring yang dipergunakan untuk mengiringi aeara perayaan-perayaan keluarga seperti kelahiran, khitanan, perkawinan, kaulan, dsb. Sesuai dengan namanya rebana ini berfungsi sebagai pengiring pembacaan riwayat nabi Muhammad. Telah menjadi kebiasaan di kalangan orang Betawi yang taat kepada agamanya membacakan syair yang menuturkan riwayat Nabi Besar Muhammad SAW sebagai acara utamanya. Kitab Maulid yang biasa dibaca seperti Syarafal Anam karya Syeh Albarzanji dan kitab Addibai karya Abdurrahman Addibai. Tidak seluruh bacaan diiringi rebana. Hanya bagian tertentu seperti: Assalamualaika, Wulidalhabibu, Badat lana atau Asyrakal. Bagian Asyrakal lebih bersemangat karena semua hadirin berdiri. Pembacaan Maulid Nabi dalam masyarakat Betawi telah menjadi tradisi dan tidak terbatas pada bulan Mulud (Rabiul Awwal) saja, tetapi juga setiap acara khitanan, nujuh bulanan, akekah atau pernikahan.

Syair-syair pujaan yang dinyanyikan diambil dari kitab Syaraful Anam karya Syeikh al-Barzanji. Aecara-acara yang menggunakan rebana ini juga sering dilakukan sebagai pelaksanaan khaulan. Acara khaulan dilakukan dengan duduk bersila di lantai beralaskan tikar atau permadani, kecuali pada saat 'Asrakal' yang berarti 'bulan penuh di atas kita'. Asyarakal dilakukan untuk merayakan pemberian nama pada bayi yang baru lahir, dimana dalam aeara ini bayi dibawa ke tengah acara untuk mendapatkan berkah.

Dalam Rebana Maulid terdapat beberapa macam pukulan, yaitu pukulanjati, pincang sat, pineang olir, pincang harkat, gaya Sa'dan, dsb. Gaya Sa'dan merupakan gaya pukulan yang sangat khas. Seniman bernama Sa'dan yang tinggal di Kebon Manggis, Matraman ini memperoleh inspirasi pukuran rebana dari gemuruh air hujan. Ukuran garis tengah rebana jenis ini kurang lebih 40 cm. Ukuran itu lebih besar dar rebana hadroh (sekitar 30 cm). Rebana Maukhid hanya terdapat di Pejaten, Kecamatan Pasar Minggu. Menurut keterangan pemimpinnya, Habib Husein Al Hadad, rebana jenis ini berasal dari Hadramaut, Arab Selatan.