Masjid Tambora, Wisata Sejarah

Masjid Jami Tambora terletak di Jalan Tambora Masjid d/h Jalan Blandongan No.11, Kelurahan Tambora, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Masjid yang dibangun sekitar abad ke-17 ini menjadi saksi bisu perjuangan pendirinya menentang penjajah Belanda. Nama masjid “Tambora” diambil dari nama gunung di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Timur, tempat kelahiran dari pendiri masjid. Nama jalan lokasi berdirinya masjid juga diubah dari Blandongan menjadi Tambora untuk menghormati mereka. Ada beberapa versi mengenai pendirian masjid ini. Versi pertama menyebutkan bahwa masjid dibangun oleh KH Moestodjib dan Ki Daeng sebagai rasa syukur setelah menjalani kerja paksa selama 5 tahun akibat memberontak kepada pemerintah Hindia Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa masjid ini dibangun oleh KH Moestodjib bersama dengan seorang Tionghoa muslim asal Makassar. Keduanya ditahan atas tuduhan menyeleweng dan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Namun kedua tuduhan itu tidak terbukti, dan sebagai ganti rugi pemerintah memberikan sebidang tanah yang kemudian menjadi lokasi berdirinya Masjid Tambora. Sejarah perlawanan jama’ah masjid berjuang melawan penjajah terus berlanjut hingga pada bulan Oktober 1945 terjadi penggerebekan oleh tentara NICA dan beberapa pemuda yang ada didalamnya ikut ditangkap.

Masjid Tambora berdiri di atas lahan seluas 555 m² dengan luas bangunan keseluruhan 435 m². Masjid menghadap ke arah timur dengan denah berbentuk empat persegi panjang. Atap masjid berbentuk limasan tumpang dua dengan genteng sebagai penutupnya. Hiasan pada kemuncak atap atau mustoko berbentuk buah nanas. Ruang utama berukuran 16x10 m. Dinding ruangan dilapis porselen warna putih. Pada dinding sisi timur terdapat tiga buah pintu, yang terdiri dari pintu masuk utama dengan dua daun pintu di bagian tengah, satu pintu di sisi kiri menuju ruang aula, dan satu pintu lainnya di sisi kanan menuju tempat wudhu. Kedua pintu yang disebut terakhir tidak memiliki daun pintu. Pintu masuk utama berbahan kayu jati dengan cat warna merah berbingkai kuning, ukurannya 2,4x1,3 m dan tebal 20 cm. Di sisi kiri dan kanan pintu masuk terdapat tulisan angka tahun berdirinya masjid, yaitu 1181 H (kiri) dan 1761 M (kanan). Selain itu terdapat masing-masing satu jendela panjang tanpa daun jendela yang mengapit pintu masuk utama. Jendela berupa jeruji kayu yang masing-masing berjumlah 12 buah, dengan ukuran jendela 1,2x2 m dan tebal 9 cm. Jendela yang sama juga ada di dinding barat mengapit ruang mihrab. Tiang utama ada 4 buah berbentuk segi delapan yang dilapis porselen dengan hiasan perpelipitan di bagian bawah dan atasnya, berupa pelipit sisi miring, pelipit setengah lingkaran, dan pelipit datar. Keempat tiang menyangga loteng yang bertingkat dua. Tangga naik menuju loteng pertama sudah tidak ada, sedangkan tangga menuju loteng kedua masih ada. Tiang lainnya berbentuk segi empat, juga dilapisi porselen.

Mihrab berbentuk relung dengan ukuran 1,8x1,6 m. Ruang mihrab ditandai dengan dua tiang semu yang menempel pada dinding. Tiang semu terbagi menjadi dua bagian dengan hiasan perpelipitan sebagai pembatasnya. Pada sisi dalam tiang semu bagian atas sebelumnya terdapat tulisan berupa angka Arab yang menyatakan tahun pendirian masjid, yaitu ۱۱ di sisi kiri dan ۸۱ di sisi kanan. Bagian atas mihrab berbentuk seperti kubah kecil. Mimbar terbuat dari kayu berwarna cokelat dengan hiasan kaligrafi di sisi depan.

Di halaman depan masjid, di sudut tenggara, terdapat bangunan bercungkup dengan lantai keramik berwarna biru. Tiang penyangga atap cungkup berhiaskan ubin berwarna biru dan bergambar. Ubin-ubin semacam ini sering digunakan oleh orang-orang Moor (kalangan muslim India asal Koromandel) yang ‘mampu’ untuk menghias rumah mereka. Di bagian bawah atap cungkup terdapat ukiran kayu bergaya Tionghoa. Makam terdiri dari nisan dan kijing (jirat) yang berbentuk empat persegi panjang dilapis keramik biru, dengan tanah ditutup batu kali kecil di bagian tengah agar peziarah dapat menaburkan bunga di atasnya. Ada dua makam yang merupakan makam para pendiri masjid, yaitu KH Moestadjib dan Ki Daeng.