Masjid Sunda Kelapa, Wisata Religi

Masjid Agung Sunda Kelapa terletak di Jalan Taman Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Masjid ini dibangun atas permintaan masyarakat muslim sekitar kawasan Menteng, yang tidak memiliki bangunan ibadah untuk melaksanakan sholat berjama’ah dengan nyaman. Mereka harus berjalan jauh untuk bisa melaksanakan sholat berjama’ah. Masjid terdekat saat itu adalah Masjid Tangkuban Perahu yang berada di pinggiran kawasan Menteng. Bangunan ibadah yang ada saat itu hanya bangunan gereja, yang memang sudah dibangun ketika Belanda mulai membangun rumah bagi para petinggi pemerintah di kawasan Menteng. Masyarakat muslim yang saat itu masih merasa terpukul dengan kejadian pemberontakan G30S/PKI, menginginkan sebuah masjid agar kawasan Menteng bisa lebih bernuansa relijius dan Islami.

Perwakilan masyarakat yang menghadap walikota sempat menerima penolakan atas permohonan mereka, tetapi tiga tahun kemudian Gubernur Ali Sadikin menyetujuinya. Akhirnya setelah memilih antara Stadion Menteng (Viosveld) dan Taman Sunda Kelapa, disepakati bahwa lokasi pendirian masjid adalah Taman Sunda Kelapa yang luasnya hampir 1 hektar. Banyak para petinggi dan Jenderal yang kebetulan tinggal di sekitar kawasan Menteng turut membantu pembangunan masjid dengan memberikan sumbangan dana. Masjid dibangun dengan harapan menjadi pusat ibadah, pendidikan, sosial dan ekonomi masyarakat khususnya sekitar masjid, sebagaimana lazimnya masjid di masa Rasulullah.

Desain dibuat oleh Ir. Gustaf Abbas tanpa mengacu pada gaya bangunan Islam tertentu. Bentuk masjid dibuat menyerupai perahu yang melambangkan Sunda Kelapa sebagai sebuah pelabuhan dagang terkenal pada masanya, dimana banyak saudagar muslim datang melalui pelabuhan Sunda Kelapa dan ikut menyebarkan ajaran Islam. Bentuk perahu juga mengandung filosofi kepasrahan manusia yang mengharapkan kasih sayang dari Sang Khalik. Tahun 1960 pembangunan masjid dimulai dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Setelah sembilan tahun berjalan pembangunannya belum juga bisa diselesaikan, Pemerintah DKI Jakarta yang saat itu dipegang oleh Ali Sadikin, merasa perlu ikut campur untuk menyelesaikan pembangunan masjid. Tanggal 31 Maret 1970 Masjid Agung Sunda Kelapa akhirnya diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, bersama petinggi lainnya seperti Moh. Djamin Ali, Wakil ketua DPRD GR DCI (Daerah Chusus Ibukota) Jakarta saat itu.

Masjid Agung Sunda Kelapa berdiri  di atas lahan seluas 9.920 m² dengan daya tampung ± 4.400 jama’ah. Gerbang utama berupa gapura dengan hiasan kaligrafi Arab yang diberi cat warna emas dan putih. Untuk menuju ruang sholat utama pengunjung harus berjalan melewati teras berlantai keramik warna putih dan abu-abu sepanjang 30 meter, yang  diapit oleh pepohonan pinus serta tiang-tiang lampu penerangan. Ruang sholat utama dilengkapi penyejuk udara dan dua layar monitor besar di sisi kiri dan kanan area mihrab. Dinding ruang mihrab tidak dibuat menjorok keluar sebagimana masjid pada umumnya, tetapi hanya diberi dinding berbeda dari marmer berwarna hijau dengan hiasan kaligrafi lafadz Basmallah. Pilar di sisi kiri dan kanan dinding marmer yang dihubungkan dengan sebuah lengkungan memberi kesan adanya sebuah ruang khusus untuk imam memimpin sholat. Di sisi kiri mihrab terdapat jam kayu besar model berdiri yang sangat elegan, sedangkan di sisi kanan terdapat mimbar. Di ujung dinding kiblat sebelah kanan terdapat hiasan kaligrafi berlafadz Allah dan Muhammad di sisi kiri. Penerangan masjid mengadopsi desain lampu gantung klasik dengan cahaya bohlam lampu.

Masjid Agung Sunda Kelapa menjadi salah satu masjid teraktif di Jakarta, karena selalu memiliki program-program kegiatan unggulan yang dapat dipilih dan di ikuti oleh para jama’ahnya. Mubaligh-mubaligh ternama dan berpengalaman bergantian mengisi kajian setiap harinya. Ada persyaratan khusus untuk mubaligh di Masjid Agung Sunda Kelapa, yaitu harus setingkat magister dengan beberapa pengecualian yang diputuskan oleh pengelola. Masjid ini menyediakan buka puasa gratis bagi mereka yang melakukan puasa sunnah Senin dan Kamis, yang dilanjutkan dengan kegiatan pengajian ba’da sholat Maghrib. Kajian ataupun ceramah di masjid ini kerap diisi oleh ulama terkenal dan tokoh nasional, seperti Ustadz Abdul Somad, Anies Baswedan, dan Jusuf Kalla. Letaknya yang dekat dengan kediaman para korps diplomatik dan petinggi negara, menjadikan Masjid Agung Sunda Kelapa lokasi favorit bagi mereka sholat berjama’ah.

“Al-Qur’an Emas” menjadi agenda tahunan Masjid Agung Sunda Kelapa. Kegiatan berupa lomba menghafal Al-Qur’an yang diikuti oleh anak-anak maupun orang dewasa di bawah usia 30 tahun. Filosofi dari nama lomba tersebut adalah bahwasanya orang yang bisa menghafal Al-Qur’an dengan baik lebih berharga daripada bongkahan emas. Saat bulan Ramadhan masjid ini menyediakan buka puasa bagi jama’ah yang datang, baik berupa takjil maupun nasi kotak serta makanan lainnya yang disumbangkan oleh warga sekitar. Sholat Isya berjama’ah yang dilanjutkan dengan ceramah dan sholat tarawih. Ceramah dan pengajian disampaikan oleh para da’i  atau tokoh nasional Indonesia seperti Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Masjid Agung Sunda Kelapa juga sering menghadirkan imam dari Timur Tengah langsung, agar terbangun suasana Ramadhan yang berbeda. Keindahan suara mereka saat melantunkan bacaan sholat dan ayat-ayat Al Qur’an di dalamnya, serta do’a selepas sholat berjama’ah seringkali membuat jama’ah menangis, terlebih jika saat imam membacanya sambil menangis. Tak mengherankan jika jama’ah masjid ini membludak saat Ramadhan tiba, bahkan banyak jama’ah yang melaksanakan i’tikaf lebih awal sebelum masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan karena merasa nyaman dengan fasilitas yang ada.