MASJID RAYA HASYIM ASY’ARI, WISATA RELIGI

Masjid Raya Hasyim Asy’ari terletak di Jalan Daan Mogot Km 14,5 Pesakih, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat. Masjid ini merupakan masjid raya pertama yang berada di bawah pengelolaan Pemerintah DKI Jakarta. Ide pendiriannya dilontarkan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Joko Widodo, setelah mengetahui bahwa Jakarta belum memiliki sebuah masjid agung yang besar. Lahan kosong seluas 2,4 hektar milik Pemda DKI Jakarta, di dekat Rusunawa Pesakih di daerah Semanan, kemudian ditetapkan sebagai lokasi pendirian masjid. Setelah mundur setahun dari target, pembangunan masjid akhirnya dimulai pada 26 September 2014, dan tiga tahun kemudian, 15 April 2017, diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.  Nama KH Hasyim Asy’ari diberikan untuk masjid ini sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh organisasi Islam Nahdlatul Ulama yang juga merupakan pahlawan nasional.

Luas bangunan Masjid Raya Hasyim Asy’ari secara keseluruhan 1,7 hektar dengan daya tampung 12.500 jama’ah. Adhi Moersid dari Atelier Enam Arsitek mengusung konsep tropis, budaya lokal Betawi, dan urban agriculture. Perpaduan konsep tropis dan budaya lokal diperlihatkan oleh desain rumah Betawi Bapang, atap Joglo, ornamen gigi balang  dan pagar teras khas Betawi. Sedangkan konsep urban agriculture dimaksudkan untuk penghijauan guna mengatasi pemanasan global dan perubahan cuaca ekstrim. Cengkareng dikenal sebagai kawasan yang cenderung lebih panas dibandingkan kawasan lain di Jakarta. Urban agriculture nantinya diharapkan dapat menjadi sumber dana kegiatan masjid, jika lahannya dimanfaatkan sebagai hutan tumpang sari, dengan tanaman kopi dan lada, tanaman obat, serta sayur-sayuran yang bisa segera dipanen.

Bangunan masjid berdenah huruf “T” yang merupakan perpaduan garis vertikal sebagai representasi hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah), dan garis horisontal yang melambangkan hubungan antar sesama manusia (habblumminnas). Atap masjid berbentuk limasan bertumpuk (tumpang) dengan struktur pelana, perpaduan rumah Betawi Bapang dan Joglo. Masjid ini terdiri dari tiga lantai, yaitu ruang serbaguna yang mampu menampung hingga 1000 orang di lantai dasar, ruang sholat utama dan ruang pengurus di lantai 2, serta mezanin di lantai 3 sebagai ruang sholat tambahan. Pilar-pilar penyangga bangunan berjajar rapi di teras lantai 2, berwarna putih dengan hiasan gigi balang khas Betawi di bagian tengah dan puncaknya. Hiasan pagar pengaman di setiap lantai juga  bergaya khas Betawi. Ruangan pada masjid tidak diberi sekat yang tegas melainkan dinding kaca transparan sebagai representasi keterbukaan masyarakat Betawi. 

Dinding arah kiblat dilapis pualam warna hijau yang kontras dengan bangun segitiga  berwarna putih sebagai pembatas. Terdapat empat tiang kokoh pada dinding,  dua di antaranya menembus bangun segitiga. Bagian atas tiang dihias ornamen gigi balang.  Bangun segitiga pada dinding area mihrab dibuat bergradasi 7 lapis.  Mihrab  berada di bawah bangun segitiga,  berukuran lebar 6 meter,  tinggi 5 meter, dan kedalaman 4 meter.  Di dalam mihrab terdapat sajadah untuk Imam, dan mimbar dari kayu berbentuk miniatur masjid dengan ukiran kaligrafi kalimat Tauhid di sisi depan. Dinding depan ruang mihrab dilapis pualam warna hitam polos tanpa hiasan apapun,  di sisi kiri dan kanan mihrab terdapat jam almari berukir dan rak buku. Interior masjid ini bisa dibilang minimalis meski secara keseluruhan bangunannya terkesan megah.

Di area luar terdapat lima menara yang masing-masing memiliki ketinggian 20 meter dengan hiasan bulan sabit di bagian puncak. Dua menara berada di depan bangunan masjid, dua di sisi kanan, dan satu di sisi kiri. Hiasan gigi balang berwarna coklat muda khas Betawi juga ada di badan menara yang bercat putih. Jumlah menara melambangkan rukun Islam dan Pancasila yang masing-masing ada lima. Sejak diresmikan hingga sekarang, Masjid Raya Hasyim Asy’ari banyak didatangi jama’ah. Arsitektur masjid yang unik dan terkesan megah menjadi daya tarik tersendiri. Akses menuju masjid ini juga tidak sulit. Moda TransJakarta menyediakan rute feeder khusus dari halte Pesakih ke Masjid Raya dan sebaliknya. Halte Pesakih sendiri ada dalam rute Harmoni-Kalideres.

Masjid Raya Hasyim Asy’ari selain mengadakan kegiatan sholat wajib berjama’ah juga mengadakan kajian rutin yang bersifat terbuka, perayaan hari-hari besar Islam, dan acara lainnya. Pada hari Sabtu ba’da Maghrib dan Ahad ba’da Dhuha (07.00-09.00), masjid ini mengadakan kajian terbuka dengan tema yang berbeda setiap pekannya. Ramadhan yang sudah berlangsung dua kali sejak masjid ini diresmikan diisi dengan kegiatan pesantren kilat, kajian kitab kuning Salafi, serta aneka lomba  antara lain hafiz Al Qur’an, penulisan esai dan busana muslim. Takmir masjid juga menyediakan hidangan berbuka bagi jama’ah yang datang untuk melaksanakan ibadah, dimulai dengan sholat Maghrib berjama’ah dilanjutkan sholat Isya dan Tarawih berjama’ah, serta ceramah dan tadarus Al qur’an. Sepuluh hari terakhir Ramadhan masjid ini juga menggelar i’tikaf.