MASJID RAYA BAITUL MA’MUR, WISATA RELIGI

Masjid Raya Baitul Ma’mur awalnya hanya sebuah surau yang dibangun di atas tanah wakaf Engkong Jaba, salah seorang warga Srengsengsawah. Surau atau langgar tersebut kemudian dipindahkan ke lahan seluas 200 m² milik H. Miat bin H. Buang, tetapi tahun 1968 dikembalikan ke lokasi aslinya hingga saat ini. Pembangunan masjid serta lembaga pendidikan sudah dimulai sejak 1970 tetapi tak kunjung selesai, hingga akhirnya tahun 1978 Pemda DKI turun tangan. Gubernur saat itu, H. Tjokropranolo, bersedia membantu pembangunan masjid dengan catatan harus ada warga yang bersedia mewakafkan tanahnya. H. Miat kemudian merespon dan mewakafkan tanah seluas 1000 m² untuk perluasan masjid. Setelah direnovasi nama masjid yang semula Al Falah diubah menjadi Masjid Baitul Ma’mur. Pada tanggal 20 Agustus 2002 masjid dibongkar total, bahan bangunan yang masih bisa digunakan dihibahkan ke masjid lain di sekitarnya. Gubernur Sutiyoso kemudian menunjuk H. Agus Asenie sebagai arsitek. Lahan masjid pun diperluas menjadi 2140 m². Renovasi masjid selesai pada Desember 2004, dan atas kesepakatan bersama nama masjid diubah menjadi Masjid Raya Baitul Ma’mur.

Masjid Raya Baitul Ma’mur di desain dengan gaya Betawi, sesuai keberadaannya di tengah-tengah komunitas Betawi di Srengsengsawah. Kebetulan letaknya juga berdekatan dengan Perkampungan Budaya Betawi Srengsengsawah. Masjid ini dibangun dengan konstruksi beton bertulang, yang mengambil bentuk rumah tradisional Betawi tetapi atapnya mengadopsi model tumpang bertumpuk seperti khasnya masjid-masjid kuno di Jawa. Atap diberi genteng pilihan berwarna alami yang tahan cuaca, dan puncaknya diberi hiasan bulan bintang sebagai penanda khas masjid. Di salah satu sudut bangunan terdapat menara setinggi 35 meter untuk mengumandangkan adzan. Bentuknya persegi berdinding kerawangan yang dimaksudkan untuk menahan angin, dengan hiasan  lis bergaya Betawi di bagian atas masing-masing dinding. Bagian puncak menara diberi kubah berbentuk dome. Tepian bawah atap seluruh bagian bangunan di komplek masjid ini juga diberi lisplang kayu gigi baling khas Betawi.

Masjid Raya Baitul Ma’mur terbagi atas halaman depan yang difungsikan sebagai area parkir kendaraan, halaman tengah, serambi, dan bangunan utama yang menjadi tempat sholat berdaya tampung 200 jama’ah.  Pagar langkan sebagai pembatas dengan serambi dan bangunan utama masjid dibuat berukuran rendah serta terbuka, agar sirkulasi udara ke dalam masjid tidak terhalang. Berbahan kayu jati dengan model dan ukiran khas Betawi. Serambi selebar 1,5 meter yang menjadi tempat para jama’ah beristirahat, difungsikan juga sebagai tempat sholat tambahan terutama pada hari Jum’at yang bisa mencapai 600 jama’ah. Tiang-tiang penopang bangunan masjid, serambi, dan lorong, seluruhnya berjumlah 99 buah, dibuat dari beton berwarna putih yang bagian bawah dan atasnya ditutup jati. Ruang sholat utama tidak raya dengan hiasan, hanya penggunaan material kayu yang menjadikan tampak teduh dan nyaman, serta deretan kaca-kaca bermotif di bagian mihrab serta ruang antara di tiap tingkatan atap yang juga bersifat fungsional. Langit-langit ruangan berupa lempengan kayu yang disusun menutupi seluruh dinding hingga tampak cantik.

Masjid ini tidak hanya melaksanakan ibadah rutin sholat wajib berjama’ah dan sholat Jum’at, sholat Idul Fitri dan Idul Adha, tetapi juga kajian serta tabligh untuk masyarakat sekitar. Majelis Ta’lim yang ada di masjid ini mengadakan kegiatan membaca Al Quran dilanjutkan  ceramah setiap Rabu, mulai ba’da Maghrib sampai selesai, dan Kamis pagi untuk para ibu. Masjid ini juga mengadakan perayaan hari-hari besar agama Islam seperti Maulid Nabi dengan musik hadrah dan dekorasi bergaya Betawi. Ustadzah Mamah Dedeh pernah hadir memberikan tausyiah di salah satu perayaan hari besar Islam yang diselenggarakan masjid ini, sedangkan Ustadz Yusuf Mansyur pernah mengisi tausyiah tabligh akbar. Acara “Damai Indonesiaku” produksi TVOne juga pernah disiarkan dari masjid ini.

Masjid bergaya Betawi dengan ornamen jati pilihan menghiasi setiap sudut-sudut ruangan tidak banyak ditemukan di Jakarta. Penggunaan bahan kayu memang mendominasi ornamen dan bagian-bagian bangunan tertentu seperti pagar keliling bangunan utama dan langit-langit ruang sholat utama. Hal ini mengacu pada filosofi rumah tradisional Betawi yang dibuat dari kayu atau bambu sebagai simbol kesatuan kehidupan mereka dengan alam. Nuansa alami memberikan ketenangan, rasa nyaman, teduh, dan segar. Terlebih lingkungan masjid yang diberi taman-taman kecil dengan aneka tanaman hias yang cukup enak dipandang mata dan terasa menyejukkan.