MASJID RAMLIE MUSOFA, WISATA RELIGI

Masjid Ramlie Musofa terletak di kawasan perumahan Jalan Danau Sunter Raya Selatan Blok I/10 12C-14A, Jakarta Utara. Bangunan ini tampak mencolok karena bentuk dan ukurannya berbeda dengan lingkungan di sekitarnya. Masjid yang diresmikan penggunaannya pada Mei 2016 oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. (Imam Besar Masjid Istiqlal) dan H. Ramlie Rasidin ini bergaya Taj Mahal dengan detail ornamen Timur Tengah serta warna putih yang menambah kemegahan masjid. Bagi H. Ramlie Rasidin, pendiri masjid ini, Taj Mahal bukanlah bukti cinta kepada isterinya sebagaimana Taj Mahal yang asli, melainkan bukti cinta umat kepada Sang Khalik, Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kepada agama Islam yang dianut dirinya beserta seluruh anggota keluarga. Nama “Musofa” pada masjid barulah merupakan perlambang cinta kepada keluarganya. Ramlie Musofa, adalah penggalan nama-nama anggota keluarga Haji Ramlie Rasidin.  Ra, adalah Ramlie Rasidin. Li dari nama istrinya, Lie Njoek Kim. Mu adalah anak pertama, Muhammad.  So, nama anak kedua, Sofian. Fa, nama anak terkecil, Fabian.

Desain masjid dibuat oleh Julius Danu, arsitek non muslim yang merupakan rekanan H. Ramlie Rasidin. Selain Taj Mahal, arsitektur dan ornamen Masjid Nabawi turut menginspirasi masjid yang tingginya sekitar 30 meter ini. Batu-batu alam untuk interior masjid diimpor dari Turki dan Italia.  Sama seperti para pendiri masjid perorangan lainnya, tidak ada satupun anggota keluarga atau orang terdekat H. Ramlie Rasidin yang boleh menyebutkan angka. Ia membangun masjid dengan niat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, artinya dari Allah (rezeki), untuk Allah (infaq & sodaqoh), dan kembali kepada Allah (pemilik segala).

Masjid Ramlie Musofa berdiri di areal seluas 2.000 m². Bangunannya berbentuk segi delapan dengan pintu yang tinggi menjulang (pishtaq) seperti masjid-masjid di Persia dan Asia Tengah, serta memiliki balkon di keempat sisinya.  Di bagian tengah bangunan masjid yang berbentuk kubus terdapat kubah dome dengan kubah-kubah kecil di keempat sudutnya. Dekorasi dinding dan railing (pagar pengaman) didominasi terawangan bermotif geometris khas masjid-masjid Timur Tengah. Balutan warna putih menambah kemegahan dan keagungan masjid yang memperkuat gambaran Taj Mahal di masjid ini. Lantai basement yang berada di bawah tangga digunakan sebagai tempat wudhu yang memiliki dudukan seperti di Masjidil Haram. Pada dinding tempat kran terdapat petunjuk tata cara berwudhu lengkap beserta do’anya dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Mandarin. Masjid ini juga ramah terhadap penyandang disabilitas dengan menyediakan fasilitas wudhu dan toilet khusus, serta lift yang menjangkau ketiga lantai lainnya. Bahkan tersedia ruang khusus yang bisa digunakan oleh tamu negara dan ulama besar ketika bertandang ke masjid ini.

Di depan tangga naik menuju pintu masuk utama masjid ada tulisan Surat Al- Qoriah yang diterjemahkan dalam dua bahasa, yaitu  Indonesia dan Mandarin. Penempatan surat di posisi ini dimaksudkan untuk mengingatkan pengunjung yang datang bahwa akhirat itu benar adanya, oleh karena itu selagi masih ada nafas harus banyak berbuat baik. Di sisi kanan dan kiri tangga naik, terdapat pahatan surat Al-Fatihah dalam huruf Arab, yang terjemahannya menggunakan bahasa Indonesia dan Mandarin. Surat Al-Fatihah ditempatkan pada dinding tangga dengan maksud agar jama’ah mengingat sebuah do’a yang selalu dibaca saat sholat fardhu maupun sunnah, yaitu “ihdina ash- shiraat al-mustaqim”, yang artinya “Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus”. Sejatinya manusia hanya bisa mengingatkan sesama, dan berdoa, sedangkan yang menentukan segalanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Di sudut pelataran masjid terdapat bedug besar yang merupakan khas budaya Islam di Indonesia. Terdapat sebuah lonceng besar yang digantung di langit-langit pelataran menuju pintu masuk sebagai penanda identitas budaya Tionghoa. Ruang sholat utama berada di lantai dua dan balkon di lantai tiga yang semi terbuka. Langit-langit ruang sholat berupa kubah yang didalamnya terdapat kaligrafi surat Al-A’la, artinya yang paling tinggi. Ayat pertama dari surat Al-A’la berbunyi “Sabbihisma robbikal-a’laa”, artinya sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.

Lantai ke-empat atau yang paling atas adalah tempat mendirikan kubah-kubah. Dari lantai empat, pemandangan Danau Sunter dan lingkungan sekitarnya bisa dilihat dari sini. Di sore hari banyak yang datang untuk menghabiskan waktu hingga Maghrib tiba. Saat Ramadhan banyak orang berkunjung termasuk non muslim, sekedar melihat-lihat keindahan masjid dan lingkungannya, berfoto, dan beribadah. Keunikan lainnya adalah tidak digunakannya pengeras suara di bagian luar masjid. Hal ini karena keberadaan masjid di kawasan pemukiman yang didominasi masyarakat non muslim. Itu juga sebabnya tidak terlalu banyak kegiatan dakwah yang diselenggarakan secara rutin, meski demikian pihak masjid terbuka untuk segala bentuk kerja sama dengan pihak lain selama tidak menyangkut sara dan politik.

Transportasi menuju Masjid Ramlie Musofa cukup mudah. Trans Jakarta jurusan PGC-Tanjung Priok lalu turun di halte Sunter Kelapa Gading kemudian disambung ojek. Selain rute PGC-Tanjung Priok, rute Pluit-Tanjung Priok juga bisa digunakan, turun di halte Danau Agung kemudian lanjut ojek, tak sampai lima menit akan tiba di depan masjid Ramlie Musofa. Pengguna Commuter Line bisa  turun di stasiun Kemayoran, dilanjutkan dengan ojek karena memang tidak ada kendaraan umum yang melintas persis di depan masjid ini.