MASJID PERAHU, WISATA RELIGI

Masjid Perahu sebenarnya bernama Masjid Al-Munada Darussalam Baiturrohman. Terletak di antara dua sisi menara Apartemen Casablanca, tepatnya di jalan Menteng Dalam RT.003 RW.05 Kecamatan Tebet. Lokasinya hanya ± 15 meter dari jalan raya Casablanca. Untuk sampai ke  masjid dari jalan raya harus masuk ke sebuah gang kecil yang berbelok-belok, hanya cukup bagi pejalan kaki, sedangkan pengendara motor melalui jalan kecil di depan Hotel Harris di jalan Dr. Saharjo. Penerangan yang minim di sore hari membuat plang kecil menuju masjid tampak samar dan luput dari pandangan. Jangan risau dengan gang kecilnya, jika sudah tiba di areal masjid kemudian berkeliling dan berdiam di dalam bangunan utama maka bathin akan terpuaskan.

Masjid Al-Munada Darussalam Baiturrohman dibangun tahun 1960-an oleh KH Abdurrahman Maksum di atas tanah wakaf seluas 1500 m², yang pengerjaannya dilakukan secara gotong royong oleh warga setempat. Masjid ini secara keseluruhan memiliki bentuk yang unik di beberapa bagian, serta interior yang sangat indah dan menyejukkan di bagian dalam. Bentuk atapnya tidak lazim, menyerupai kerucut bertumpuk dua. Di antara susunan kerucut  terdapat gantungan logam emas sebanyak 99 keping yang melambangkan Asmaul Husna (nama-nama Allah). Di sisi kanan dan kiri atap terdapat ornamen huruf Hijaiyah (lam, mim, kha) yang membentuk gapura. Di halaman masjid terdapat sebuah bedug besar yang sekarang berpagar teralis besi. Pintu masuk dihias 5 buah pilar sebagai lambang rukun Islam, dan di depannya terdapat sebuah fosil batu berdiameter ± 50 cm dengan panjang ± 100 cm yang posisinya tidak pernah diubah.

Replika perahu yang menjadi keunikan masjid ini berada di sebelah kanan bangunan. Panjangnya 12 meter yang difungsikan sebagai tempat wudhu, di sebelah kiri untuk laki-laki dan kanan untuk perempuan. Lantai atas perahu adalah ruang penjaga (merbot) dan pengurus masjid (takmir), sedangkan ruang kecil pada lambung perahu persis di ujung bagian depan digunakan untuk berdzikir tetapi hanya bisa menampung 5-6 jemaah. Terkadang ruang kecil ini digunakan untuk berdiam oleh jamaah penganut tareqat. Pembuatan replika perahu merupakan aktualisasi KH Abdurrahman Maksum atas kekagumannya terhadap kisah Nabi Nuh A’laihissalam. Al Quran menjelaskan bahwa Allah telah memerintahkan Nabi Nuh membuat sebuah perahu besar untuk menampung umatnya, yang kelak akan menyelamatkan mereka dari bencana banjir yang  sangat dasyat. Bencana terjadi setelah kaum Nabi Nuh menentang terus-menerus dakwah yang disampaikan, agar hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan selain-Nya. Hujan pun tercurah dari langit dengan sangat deras, dan air memancar dari segala penjuru hingga menenggelamkan segala yang ada di permukaan bumi kecuali umat Nabi Nuh yang bertakwa. Kisah Nabi Nuh membuat KH Abdurrahman Maksum berkeinginan menyelamatkan orang-orang di sekitarnya secara lahir bathin, dengan menyediakan tempat wudhu dan mandi untuk bersih-bersih sebelum shalat. Siapapun yang keluar dari masjid setelah melaksanakan sholat diharapkannya mendapatkan keselamatan.

Tiang penyangga atap (soko guru) berbahan jati, dua di bagian depan berupa potongan kayu yang ditutup jati sedangkan dua tiang di belakang berupa jati gelondongan. Tiang bagian depan diberi ukiran Asma Allah (kanan) dan Asma Rosul (kiri). Dinding bagian depan hingga mihrab juga dilapisi kayu jati dengan ukiran Ayat Kursi dan Surah An-Nur, sedangkan mimbar tempat imam khotbah terbuat dari fosil batu. Di bagian ujung masjid ada area tempat meletakkan vitrin berisi Al Quran berukuran 2x1,5 m dan tebal ± 30 cm yang diberi sampul kayu jati berukir. Pembuatan Al Quran memakan waktu hingga 30 tahun yang diselesaikan oleh Ustad Amir Hamzah pada tahun 1990. Para pengunjung bisa melihatnya secara langsung dengan meminta izin pengelola masjid disertai pendampingan. Vitrin Al Quran berada di bagian tengah sedangkan sekelilingnya ada beberapa vitrin lain berisi batu giok. KH Abdurrahman Maksum diketahui memang sangat gemar mengoleksi batu-batu akik.

Kegiatan rutin Masjid Perahu adalah Majlis Taklim untuk para ibu rumah tangga yang biasanya dilaksanakan setiap hari Sabtu. Majlis Taklim untuk bapak-bapak sebenarnya ada tetapi sejak rumah warga menjadi apartemen lama-kelamaan anggotanya berkurang karena banyak yang pindah. Pada hari kerja banyak pegawai yang melaksanakan sholat dan beristirahat di masjid ini. Pengunjung yang datang biasanya berfoto di depan replika perahu, dan terkagum-kagum saat melihat tiang serta dinding yang penuh ukiran ayat Al Quran. Ada rasa haru yang menyeruak saat membuka Al Quran besar.  Masjid ini selalu ramai di bulan Ramadhan, terutama 10 hari terakhir yang dipenuhi kajian-kajian keIslaman. Rimbun pepohonan di sekitar masjid menambah suasana syahdu. Meski tak terlalu besar, arsitekturnya juga tidak sangat istimewa dan harus melalui gang sempit, tetapi atmosfer spiritualnya luar biasa. Terlebih kisah dibalik pembuatan replika perahu dan keselamatan lahir bathin yang diharapkan diperoleh setiap jamaah setelah sholat di masjid ini.