Masjid Pekojan Atau Masjid Jami’ An Nawier, Wisata Sejarah

Masjid Pekojan merupakan salah satu masjid tua di Jakarta yang dahulu terletak di tengah-tengah perkampungan Arab asal Hadramaut (Yaman Selatan). Mereka datang ke Batavia tidak sekedar untuk berdagang melainkan juga menyebarkan agama Islam. Masjid yang terletak di Jalan Pekojan Raya No. 71, Gg. II, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, sekarang lebih dikenal dengan nama Masjid Jami’ An Nawier, yang artinya cahaya.

Masjid Pekojan atau Jami’ An Nawier ini dibangun tahun 1760 oleh seorang ulama asal Hadramaut bernama Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus, yang namanya diabadikan menjadi sebuah nama jalan di Jakarta Pusat (Jalan Alaydrus). Tahun 1897 Syarifah Kecil atau Syarifah Fatimah binti Husein Alaydrus kemudian mewakafkan tanahnya untuk pengembangan masjid. Beberapa tulisan menyebutkan nama “Komandan” Dahlan sebagai pendiri masjid, tetapi jabatan komandan baru digunakan di Batavia sekitar tahun 1828. Ada kemungkinan ia yang memperluas areal masjid pada tahun 1850. Hubungan Dahlan disebut-sebut cukup dekat dengan masjid kuno Keraton Surakarta dan Kesultanan Banten, sehingga saat ada kerabat Keraton Surakarta atau ulama di Solo meninggal dunia maka beritanya akan sampai ke Masjid Pekojan. Kedekatan Dahlan dengan masjid Kesultanan Banten ditandai dengan seringnya para alim ulama asal Banten berkunjung ke masjid ini.

Masjid dikelilingi pagar tembok dan besi dengan pintu masuk halaman berada di sisi   selatan dan barat laut. Luas tanah seluruhnya 2.470 m², dengan luas bangunan 1.500 m². Arsitektur Masjid An Nawier merupakan perpaduan Timur Tengah, Tionghoa, Eropa, dan Jawa. Pembangunannya melibatkan kontraktor Tionghoa dan Moor di Batavia. Gaya neo klasik Eropa pada masjid ini diperlihatkan oleh hiasan di bagian atas bangunan yang menghadap arah selatan. Terdapat lima buah hiasan berjajar yang membentuk setengah lingkaran terbuka, karena kedua ujung masing-masing hiasan tidak menyatu.  Tiga buah yang posisinya ditengah memiliki hiasan mirip mahkota di bagian dalamnya, sedangkan di ujung kiri dan kanan, masing-masing berisi ornamen semacam kipas terbuka  dengan ceplok bunga di bagian bawahnya. Atap masjid berbentuk limasan tunggal sebanyak 4 buah, 2 di sebelah utara, dan 2 sebelah selatan. Pada lisplang atau entablature atap bagian utara terdapat hiasan empat persegi, pelipit rata, ceplok bunga, dan bulan bintang dalam lingkaran. Hiasan lisplang atap sebelah selatan berupa bentuk setengah lingkaran dan persegi yang dihiasi bingkai, dan tengahnya berupa ceplok bunga dengan pelipit di bagian atas.

Pintu masuk menuju ruang utama di sisi selatan ada 3 buah berbentuk empat persegi panjang berukuran 3,5x2,3 m, sedangkan satu pintu masuk lagi ada di sudut barat berukuran 2,7x1,1 m. Pintu berbahan kayu dengan dua daun pintu, bagian atasnya diberi lubang angin dari bilah-bilah papan yang disusun vertikal. Denah ruang utama agak berbeda dengan masjid pada umumnya, yaitu berbentuk huruf ”L” seluas 1.170 m² yang terbagi menjadi sisi utara dan selatan. Hal ini disebabkan adanya sengketa kecil dengan pemilik tanah dekat lokasi masjid saat proses pembangunan berlangsung. Ruang utama juga tidak sejajar dengan arah mihrab. Tiang penyangga di dalam ruang utama berjumlah 33. Alas tiang berbentuk segi delapan, sedangkan tiangnya bulat dengan galur-galur vertikal, mirip tiang bangunan Eropa. Tiang yang berjajar dari arah barat ke timur (sisi utara) tingginya ± 4 m, sedangkan arah utara ke selatan (sisi selatan) ± 3,5 m.

Relung mihrab di sisi barat ditandai oleh 2 buah tiang persegi bergalur di sisi kiri dan kanan, yang menopang lengkungan dengan bangun segitiga di bagian paling atas. Bagian atas mihrab sebelah dalam bentuknya menyerupai kubah. Di sisi kanan bentuk lengkung muka mihrab terdapat hiasan kaligrafi dengan lafadz Allah, sedangkan sisi kiri berlafadzkan Muhammad. Pada bidang tengah segitiga terdapat hiasan bulan bintang, sedangkan bagian puncak bangun segi tiga hiasannya menyerupai kipas, begitu juga di ujung kiri dan kanan sudut segi tiganya tetapi berukuran lebih kecil, hanya seperempat lingkaran. Di sebelah kanan ruang mihrab terdapat mimbar kuno terbuat dari kayu berwarna cokelat tua dengan sentuhan kuning emas di beberapa bagian. Bentuknya mirip singgasana beratap dengan empat anak tangga. Hiasan mimbar berupa sulur-suluran, dan ada tulisan dalam huruf Arab yang artinya “Inilah mimbar tempat menyampaikan penerangan-penerangan agama dan nasihat yang benar”. Konon mimbar ini pemberian seorang sultan dari Pontianak.

Menara masjid berada di sisi timur laut, menyatu dengan ruang utama masjid sehingga seolah-olah muncul dari ruang utama. Atap menara berbentuk kerucut. Di sudut timur laut ada ruangan tempat kaki menara berukuran 4,6x4,5 m. Pintu masuk menara ada di bagian tubuh menara. Tubuh menara terbagi menjadi 3, yaitu:

  1. Bagian pertama berbentuk empat persegi panjang. Pintu terdapat di dinding selatan dengan tiang semu di sisi kiri dan kanannya, serta lubang angin berbentuk setengah lingkaran di bagian atas pintu.
  2. Bagian kedua berbentuk silinder dengan empat buah jendela yang atasnya berupa  lengkungan. Di antara bagian pertama dan kedua terdapat lubang angin berbentuk belah ketupat mengelilingi badan menara.
  3. Bagian ketiga juga berbentuk silinder dengan diameter yang lebih kecil. Terdapat enam jendela berbentuk empat persegi panjang dengan pelipit setengah lingkaran.

Bentuk menara secara keseluruhan mirip mercusuar. Konon, pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, menara ini sering dijadikan tempat bersembunyi para pejuang dari kejaran tentara Belanda. Masjid ini juga mempunyai kolam untuk menampung air guna keperluan mensucikan diri (wudhu) sebelum melaksanakan ibadah. Semuanya ada 5, kolam lama ada di sisi barat dan timur, sedangkan sisi selatan (2 buah) dan utara baru. Kolam yang masih berfungsi adalah kolam sisi utara, selatan, dan barat yang terletak di bawah ruang pengurus masjid.