MASJID LAUTZE, WISATA RELIGI

Masjid Lautze berada persis di tepi jalan, di deretan ruko-ruko di Jalan Lautze Nomor 87-89, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Sawahbesar, Jakarta Pusat. Masjid ini adalah rumah toko (ruko) yang difungsikan sebagai masjid untuk berkumpul para muallaf Tionghoa memperdalam keIslamannya. Nama Lautze diambil dari nama jalan itu sendiri, yang dalam bahasa Tionghoa sebenarnya berarti guru atau orang bijak. Luas keseluruhan 192 m² dengan daya tampung 200 jama’ah. Masjid Lautze mengadakan sholat Jum’at untuk pertamakalinya pada 26 Juli 1991 dengan pengkhotbah seorang toko Betawi, Drs. H. Ridwan Saidi.

Masjid Lautze didirikan oleh Yayasan Haji Karim Oei Tjeng Hian atau Yayasan Haji Oei dengan misi memasyarakatkan dakwah di kalangan keturunan Tionghoa yang baru saja masuk Islam atau muallaf. Yayasan Haji Oei sendiri digagas oleh sejumlah tokoh Muhammadiah, NU, Al Wasliyah, KAHMI, HMI, ICMI, dan sejumlah muslim keturunan Tionghoa, salah satunya adalah Haji Karim Oei. Masjid merupakan jawaban dari pembauran antara penduduk keturunan Tionghoa dengan etnis Indonesia lainnya agar sekat sosial di antara keduanya runtuh.  Untuk itulah Haji Karim Oei mendirikan Masjid Lautze, agar bisa memberikan pengertian nilai-nilai Islam dikalangan etnis Tionghoa yang mayoritas beragama Budha dan Nasrani. Hal ini bukan berarti terjadi Islamisasi paksa di masjid ini, tetapi banyak di antara pengunjung yang datang bukan muallaf melainkan mereka yang memang baru dalam taraf melihat-lihat.

Masjid Lautze tidak mempunyai kemegahan arsitektur bangunan karena hanya berupa ruko yang dialih fungsikan sebagai masjid. Bangunan ini terdiri dari empat lantai, tetapi hanya dua lantai yang digunakan untuk masjid, selebihnya digunakan untuk kantor yayasan masjid. Interior masjid sangat sederhana, hanya kaligrafi Islam dipadu dengan huruf kanji, dan lampion sebagai unsur ketimuran. Daya tarik masjid ini justru terletak pada keterbukaan dan sikap toleransi bagi mereka yang ingin belajar agama Islam dari nol. Masjid Lautze adalah oase bagi mereka yang mencari ketenangan bathin. Seorang musafir yang mengikuti sholat di masjid ini sempat terkejut karena bentuk ruko-nya, tetapi ia terkesima dengan suasana berbeda yang dirasakannya saat beribadah dan bersosialisasi dengan jama’ah lainnya. Keunikan lain dari masjid ini adalah pemberlakuan "jam buka khusus", hanya pada hari Ahad hingga Jum’at dari pukul 09.00 – 16.00. Ahad menjadi hari khusus, dimana pihak yayasan mengadakan pengajian rutin (mingguan) untuk para jamaahnya yang sebagian besar merupakan mualaf keturunan Cina. Kajian  dimulai pukul 11.00 hingga Ashar, dengan sejumlah pendakwah di antaranya Ustadzah Yayah, Ustadz Pepen, Ustadz Lea, dan Ustadz Mubin. Berkunjung ke Masjid Lautze kita dapat menemukan keberagaman etnis Muslim di Jakarta, dan ukhuwah yang terjalin menjadi lebih luas.