Masjid Jenderal Sudirman, Wisata Religi

Masjid Jenderal Sudirman terletak di dalam komplek perkantoran World Trade Center (WTC) di jalan Jenderal Sudirman Kav. 29-31.  Masjid ini dibangun sebagai syarat fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) dari PT Jakarta Land WTC. Di kawasan jalan Jenderal Sudirman memang minim tempat ibadah sehingga karyawan di komplek perkantoran ini sulit melaksanakan sholat dengan nyaman, terutama sholat Jumat yang jamaahnya terus bertambah karena banyak karyawan dari gedung perkantoran lain ikut sholat di area basement. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 1.336 m², dengan luas bangunan keseluruhan mencapai 2.200 m².  Desainnya dibuat oleh Aedas International dan Anggara & Consorsium dengan mengedepankan arsitektur Betawi tetapi tetap terintegrasi dengan bangunan modern di komplek WTC.

Yayasan Jenderal Sudirman selaku pengelola, ingin menjadikan masjid Jenderal Sudirman sebagai masjid percontohan di lingkungan perkantoran dalam membangun peradaban yang Islami.  Masjid  bukan hanya sebagai pusat ibadah, dakwah dan kajian serta pelayanan umat pada umumnya, tetapi juga sentra pengamalan aqidah, syariah, dan muamallah yang sesuai denga Al Quran dan Hadist.  Masjid juga harus bisa menjadi wadah pengembangan ekonomi syariah, mewujudkan kehidupan dan pemikiran yang Islami, baik di lingkungan perkantoran WTC khususnya, maupun masyarakat luas pada umumnya.

Bangunan masjid berbentuk kubus dengan perpaduan warna putih dan abu-abu yang memberikan kesan minimalis. Tidak adanya kubah serta tinggi yang lebih rendah dari bangunan lainnya membuat masjid ini tampak samar. Hanya simbol bintang dan bulan sabit di puncak sebuah bangunan bergaya menara yang menjadi identitasnya sebagai masjid. Eksterior bangunan didominasi gaya mashrabiya atau panel terawang berbentuk geometris bintang yang mengandung makna lima rukun Islam dan rukun Iman. Panel terawang memenuhi hampir seluruh eksterior bangunan masjid. Ornamen bermotif geometris serupa juga terdapat pada pintu, jendela, serta beberapa bagian dinding. Pada area yang menghadap pintu masjid terdapat kaca bundar bertuliskan “Allah” yang akan bercahaya jika lampu di bagian dalam menyala. Struktur mihrab dibuat terbuka dan menjulang tinggi, hingga jemaah yang berada di lantai atas bisa melihat ke bawah. Area balkon lantai dua hingga empat diberi railing (pengaman)  dengan gaya arsitektur Betawi, termasuk  pemasangan lampu hias gantung. Lantai satu masjid ini diperuntukkan bagi jamaah laki-laki, sedangkan perempuan di lantai dua. Ruang lainnya digunakan untuk kantor pengelola, perpustakaan, dan tempat kegiatan lainnya.

Masjid Jenderal Sudirman mempunyai jadwal kajian rutin setiap hari kerja, yaitu ba’da Dzuhur dan ba’da Maghrib sampai Isya menyesuaikan dengan jam kerja karyawan. Takmir masjid menyediakan sarapan gratis setiap hari Jum’at di waktu Dhuha, serta hidangan berbuka puasa sunah Senin dan Kamis. Di akhir pekan, pada Sabtu dan Ahad juga dilaksanakan kajian rutin terbuka untuk umum, yang biasanya dimulai sejak pagi ba’da sholat Dhuha sekitar pukul 08.00. Pendakwah yang mengisi kajian bukan saja Ustadz dari seputar wilayah Jakarta tetapi juga luar kota, seperti Ustadz Abduh Tuasikal Lc. dari Gunung Kidul, Yogyakarta. Saat bulan Ramadhan tiba, Masjid Jenderal Sudirman juga melaksanakan i’tikaf yang dimulai pukul 02.00, dan takmir masjid menyediakan santap sahur.