Masjid Jami Maulana Hasanuddin, Wisata Sejarah

Masjid Jami Maulana Hasuddin yang terletak di Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan, didirikan oleh H. Mursan bin Thaiffin atau Kyai Kucang pada tahun 1928, dan baru dinyatakan selesai tahun 1933. Pembangunan masjid ini sempat mendapat tentangan dari ulama lain karena merasa sudah ada Masjid Al Atiq di Kampung Melayu. Mereka merasa belum perlu mendirikan masjid baru. Namun jarak yang jauh antara kampung Cikoko dengan Masjid Al Atiq membuat Kyai Kucang dan lainnya bersikeras mendirikan masjid baru. Butuh waktu cukup lama berjalan kaki menuju Masjid Al Atiq di Kampung Melayu atau An Nur di Menteng Dalam untuk melaksanakan sholat berjama’ah, khususnya sholat Jum’at. Kekerasan sikap ini bisa dipahami karena saat itu bangunan ibadah bagi muslim sangat terbatas, belum banyak masjid untuk bisa melaksanakan sholat wajib berjama’ah seperti sekarang.

Di awal pembangunannya nama masjid ini adalah At Taqwa. Setelah pemugaran di tahun 1967 atas swadaya masyarakat dan sedikit bantuan dari Departemen Agama, pemerintah daerah meminta untuk mengganti nama masjid menjadi Masjid Jami Sultan Hasanuddin, mengambil nama sultan pertama Banten. Masyarakat setempat setuju karena kebetulan Kyai Kucang masih memiliki hubungan dengan Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid Maulana Hasanudin pada zamannya merupakan salah satu masjid yang cukup penting. Konon, banyak jemaah haji di zaman Hindia Belanda menyempatkan diri untuk singgah ke masjid ini seusai pulang dari tanah suci dengan kapal laut. Presiden RI pertama Ir. H. Soekarno pernah menyambangi masjid ini untuk melaksanakan sholat berjama’ah.

Bangunan masjid berdenah persegi, atapnya berbentuk tumpang tunggal dengan kubah bulat berbahan metal di bagian puncak. Di keempat sudut atap lainnya terdapat menara kecil dengan dinding terbuka dan beratap kubah yang juga berbentuk oval. Sebelum masuk ke serambi masjid terdapat deretan tiang-tiang dengan hiasan perpelipitan, antara satu tiang dengan tiang lainnya dihubungkan dengan bidang berbentuk lengkung yang seolah membentuk  pintu.  Secara tidak langsung sebenarnya deretan tiang dan bidang lengkung penghubung antar tiang menjadi penyangga atap masjid. Jika dilihat sekilas, arsitektur bagian depan yang menuju serambi seperti di Masjid Nabawi. Mungkin inilah sebabnya mengapa banyak jemaah yang pulang haji menyempatkan datang ke Masjid Maulana Hasanuddin Cikoko ini. Ruang sholat utama tanpa tiang penyangga sama sekali. Interiornya tidak terlalu banyak, hanya deretan ventilasi di dinding bagian atas yang bentuknya menyerupai lengkungan di serambi masjid. Ruang mihrab dan mimbar berupa relung terpisah. Bentuk mimbar seperti tempat duduk dengan sandaran menyerupai denah kubah. Ornamen lainnya berupa kaligrafi dalam bingkai-bingkai kurawal.

Menara di bagian depan masjid berdenah segi enam, makin ke atas makin ramping. Badan menara terbagi menjadi enam dengan pembatas yang berbeda. Pada lantai ke-1 dan ke-2, masing-masing diberi semacam penutup untuk menahan tampias air hujan berbentuk bidang segi enam sesuai bentuk badan menara. Pada lantai ketiga penutupnya berupa atap sirap yang lebih menjuntai ke bawah.  Lantai ke-4 dan ke-5 bagian atasnya juga diberi penutup yang sama seperti lantai ke-2 dan ke-3. Bagian ke-6 dari menara adalah kubah berbentuk bulat agak pendek yang terbuat dari metal. Seluruh badan menara dilapis dengan keramik dan diberi hiasan bidang lengkung yang menyerupai pintu semu.