MASJID JAMI KEBON JERUK, WISATA RELIGI

Masjid Jami Kebon Jeruk terletak di Jalan Hayam Wuruk, Taman Sari, Jakarta Barat. Masjid yang dibangun tahun 1786 ini adalah masjid pertama yang dibangun oleh seorang muslim Tionghoa di kawasan Pecinan (Glodok dan sekitarnya). Masjid Kebon Jeruk setiap harinya dikunjungi banyak jama’ah terutama laki-laki (ikhwan). Jangan kaget melihat penampilan mereka yang mayoritas berjanggut, berpakaian takwa dengan peci putih atau sorban, baju panjang putih (gamis) hingga ke lutut sambil menggenggam tasbih atau tongkat dengan aroma minyak cendana khas Timur. Jama’ah masjid ini memang tidak hanya datang dari sekitar masjid atau Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah dan mancanegara.

Masjid ini menjadi pusat dakwah Islam di Indonesia dan kegiatan tabligh. Hampir setiap hari ada pembahasan mengenai rencana kegiatan dakwah, pengiriman jama’ah, perijinan dan lain-lain hal terkait dengan tabligh. Jama’ah yang ingin berdakwah, baik dari Indonesia maupun mancanegara, harus datang ke masjid ini terlebih dahulu untuk melakukan koordinasi, tidak ada pengecualian karena semua jama’ah yang datang diperlakukan sama. Tidak ada aliran atau golongan, tidak ada ceramah tentang politik atau kilafiyah, semuanya hanya tentang berdakwah di jalan Allah untuk meraih ridho-Nya. Pekerjaan dan keluarga ditinggalkan untuk berdakwah, semua biaya menjadi tanggungan jama’ah pribadi. Ada di antara jama’ah yang mengajukan cuti diluar tanggungan kantor agar bisa ikut berdakwah yang lamanya berkisar 40 hari. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini benar-benar berusaha menanamkan kepada jama’ah untuk meneladani apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berpakaian, bertutur kata, dan solidaritas  antar sesama. Persaudaraan dan keramahtamahan antar jama’ah tampak sangat kuat meski sebelumnya tak saling kenal. Di dalam toilet pun jama’ah diingatkan melalui sebuah tulisan “Dilarang buang air kecil dengan berdiri”. Tempat berwudhu juga diberi tempat duduk, dan jama’ah sebelum melaksanakan ibadah biasanya  bersiwak (sikat gigi) terlebih dahulu sebagaimana halnya Nabi.

Saat bulan Ramadhan tiba, masjid ini akan ramai oleh jama’ah yang “mondok” selama sebulan penuh. Saat berada di masjid ini jama’ah harus melakukan ritual yang dilakukan secara sendiri-sendiri dan berjama’ah. Amalan “infiradhi” yang dilakukan sendiri-sendiri antara lain sholat Isyro’, sholat Dhuha, sholat Tahajud,  tadarus Al-Qur’an setiap harinya minimal satu juz, dan melakukan dzikir sepanjang hari. Bagi yang belum paham, sholat Isyro’ atau Isyroq sebenarnya termasuk sholat Dhuha hanya dikerjakan di awal waktu, yaitu 15-20 menit setelah matahari terbit. Sholat sunnah dua raka’at ini sangat dianjurkan bagi mereka yang melaksanakan sholat Subuh berjama’ah di masjid, jeda di antara kedua sholat  diisi dengan dzkir pagi atau membaca Al Qur’an. Sholat Isyro’ adalah sunah yang tidak banyak orang mengetahuinya. Amalan “ijtima’i” adalah yang dilakukan secara bersama-sama seperti sholat wajib berjama’ah, sholat Tarawih, berbuka puasa, dan menghadiri majelis. Ada dua majelis yang wajib dihadiri setiap jama’ah yaitu Majelis Khurghazi dan Majelis Bayan. Majelis Khurgazi adalah majelis yang merupakan kesaksian seseorang yang baru pulang dari perjalanannya di jalan Allah, dan mengajak para jama’ah untuk ikut melakukan perjalanan ini. Biasanya diadakan setelah sholat Ashar sampai jam setengah lima sore. Majelis Bayan adalah  ceramah-ceramah para ustad mengenai pentingnya amal shaleh bagi seorang muslim, biasanya diadakan setelah sholat Subuh dan Tarawih. Setiap jama’ah yang mondok wajib mendengarkan.

Keunikan saat berbuka puasa di masjid ini adalah para jamaah akan berkumpul dan menikmati hidangan secara bersama-sama dari satu wadah. Makanan biasanya ditata dalam wadah besar atau nampan untuk porsi 4-5 orang tanpa disertai sendok garpu. Ini adalah cara makan Rasulullah, makan bersama-sama menggunakan tangan yang langsung disuap ke dalam mulut. Cara makan seperti ini bukan saja sesuai dengan sunah Rasulullah, melainkan juga dapat menambah rekatnya kebersamaan di antara para jama’ah.

Masjid ini setiap harinya selalu dipenuhi dengan jama’ah-jama’ah transit, yang datang dari berbagai tempat di dalam maupun luar negeri, untuk kemudian pergi melanjutkan perjalanan dakwahnya ke tempat-tempat yang telah diputuskan dalam musyawarah. Apa yang dilakukan di masjid ini adalah ingin mencontoh apa yang telah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beserta para sahabatnya di Masjid Nabawi dulu. Bukan pada kemegahan bangunannya, atau keindahan arsitekturnya, tetapi pada amalan-amalan agama yaitu menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, ta’lim dan taallum, dzikir dan ibadah serta hidmat (pelayanan).