Masjid Jami’ Matraman, Wisata Religi

Masjid Jami Matraman terletak di tepi Jalan Matraman Masjid Nomor 2, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat. Jaraknya hanya ± 300 meter dari Tugu Proklamasi, lokasi bersejarah tempat dilaksanakannya pembacaan teks proklamasi, dan pengibaran Sang Saka Merah Putih untuk pertamakalinya secara resmi setelah de facto merdeka.

Pada saat dibangun, Masjid Jami Matraman hanya berupa sebuah masjid kecil. Kawasan Matraman Dalam juga belum seramai sekarang, masih berupa kampung kecil dengan banyak pepohonan. Luas masjid saat ini 2.050 m² dengan daya tampung jama’ah ± 1.000 jama’ah. Nama masjid ini memiliki keterkaitan dengan para abdi dalem Kesultanan Mataram Yogyakarta. Tahun 1628 dan 1629 Sultan Agung dari Mataram memimpin penyerangan ke kota Batavia karena tidak sudi pulau Jawa diduduki oleh Belanda. Meski ekspedisi militer yang melibatkan ribuan prajurit Mataram tidak berhasil merebut kembali Batavia dari tangan VOC, tapi dari segi patriotisme serangan ini berhasil. Terbukti dengan terbunuhnya Gubernur Jenderal VOC Jan Pieter Zoon Coen dalam serangan yang kedua.

Setelah mengalami kegagalan, Sultan Agung memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta, tetapi sebagian prajuritnya yang merupakan sukarelawan dan berprofesi sebagai da’i memilih tetap tinggal di Batavia. Mereka melebur dengan lingkungannya, ikut menyemarakkan dakwah hingga pelosok Betawi, bahkan banyak di antara mereka yang menikahi warga setempat.  Masjid Jami Matraman ini sendiri dibangun oleh warga keturunan Mataram bernama H. Mursalun dan Bustanil Arifin. Ketika masjid ini selesai dibangun, sholat Jumat pada acara peresmiannya langsung dipimpin Pangeran Djonet Dipomenggolo dari Kesultanan Yogyakarta, yang juga ahli waris Pangeran Diponegoro.

Masjid yang didirikan tahun 1837 ini bentuk bangunannya terinspirasi oleh arsitektur Masjidil Haram di Mekah dan Taj Mahal di India. Bangunan masjid tampak seperti benteng, dengan kubah besar di bagian atap. Di sisi kiri dan kanan terdapat dua buah menara dengan kubah di bagian puncak, dan pagar keliling pada badan menara. Menara masjid dahulu diberi warna kuning sebagai perlambang keagungan Islam, dan memberikan kesan berani dari para pendirinya yang berjuang melawan pemerintah Belanda masa itu. Serambi masjid diperkuat dengan pilar-pilar yang satu sama lain dihubungkan dengan profil lengkung. Interior ruang sholat utama tidak terlalu banyak diberi hiasan kaligrafi, hanya  bagian atas ruang mihrab yang dipenuhi kaligrafi. Di bagian tengah terdapat pilar-pilar penyangga atap, dan jendela pada dinding masjid yang banyak menggunakan kaca-kaca patri bermotif tanaman dalam paduan warna hijau, kuning, dan merah. Kaca-kaca jendela selain berfungsi estetika juga untuk penerangan dan sirkulasi udara. Tampak luas, lengang dan hening, yang sangat membantu jama’ah untuk bisa khusyu melaksanakan ibadah di dalamnya. Di Masjid Jami Matraman ini masih tersimpan kalender terbuat dari kayu bertuliskan  huruf  Arab dan angka latin. Kalender ini biasa digunakan oleh orang-orang Mataram untuk mengetahui hari, dan sampai sekarang masih digunakan sebagai ciri khas dari Masjid Jami Matraman. Di depan masjid terdapat dua makam milik tentara Mataram. Konon, kedua makam itu adalah Wanandari dan Wandansari. Meski masih belum jelas apakah kedua makam memang sudah ada disana sebelum masjid dibangun atau setelahnya, tak jarang jama’ah menziarahi makam tersebut.

Bung Karno dan Bung Hatta adalah dua dari banyak petinggi pemerintah yang sering sholat di masjid ini, terutama sholat Jum’at. Pada masa pendudukan Jepang hingga awal proklamasi kemerdekaan Bung Karno pernah tinggal di Jalan Proklamasi, tidak jauh dari masjid ini.  Bung Hatta sebenarnya tinggal di Jalan Diponegoro tetapi saat berada di Jakarta selalu menyempatkan diri sholat Jum’at di masjid ini. Bahkan jenazah Bung Hatta sempat disemayamkan di masjid ini.

Letak Masjid Jami Matraman yang sangat strategis menjadikannya banyak dikunjungi pesohor negeri ini, baik dari kalangan ulama maupun petinggi pemerintah dan pengusaha. Joko Widodo, Jusuf Kalla, Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Sandiaga Uno adalah beberapa nama yang pernah mendatangi masjid ini untuk melaksanakan sholat berjama’ah, serta mengisi kegiatan yang diadakan di masjid ini. Masjid Jami Matraman juga kerap menjadi tempat beristirahat para jama’ah yang mengikuti kegiatan besar di seputar Monas dan Istiqlal. Saat Ramadhan tiba banyak jama’ah yang datang beribadah ke masjid ini, dan pelataran masjid menjadi pusat bazaar serta festival kuliner saat Ramadhan tiba.