MASJID JAMI’ AL RIYADH KWITANG, WISATA RELIGI

Masjid Jami’ Al Riyadh yang terletak di Jl. Kembang VI RT 001 RW 02 Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, bisa jadi merupakan saksi kedekatan antara umat, ulama, dan umaro. Meski berada di antara jalanan sempit perkampungan penduduk, banyak tokoh yang menyambangi masjid ini sekaligus menghadiri acara di Majelis Ta’lim Kwitang, termasuk Presiden Soekarno dan Soesilo Bambang Yudhoyono. Kegiatan dakwah di kawasan ini tak bisa lepas dari peranan ulama besar Habib Ali Alhabsyi Bin Habib Abdurrahman Alhabsyi atau lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai Habib Kwitang.

Habib Ali Alhabsyi Bin Habib Abdurrahman Alhabsyi membangun  masjid di daerah Kwitang pada tahun 1356 H (1938 M). Beliau meminta kawan-kawannya dari keluarga Al-Kaf agar mewakafkan tanah lokasi masjid, sampai menulis surat kepada Sayyid Abubakar bin Ali bin Abubakar Shahabuddin agar berangkat ke Hadramaut untuk berbicara langsung dengan mereka. Akhirnya tanah masjid itupun diwakafkan, dan sampai sekarang tercatat sebagai wakaf kepada pemerintah Hindia Belanda. Luas lahan masjid adalah 1.000 m². Habib Ali bersama murid-muridnya, dan penduduk setempat kemudian mendirikan sebuah majelis taklim di rumah pribadinya, yang diberi nama Baitul Makmur. Beberapa tahun berjalan majelis itu diganti dengan nama Unwanul Falakh. Akhirnya sekitar tahun 1950, majelis tersebut resmi diberi nama Masjid Al Riyadh. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Masjid Kwitang. Tahun 1963 pernah diresmikan oleh Bung Karno yang kemudian memberi nama Baitul Ummah atau kekuatan umat, tetapi kemudian diganti dengan nama semula. Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, selain digunakan untuk syiar agama Islam, Masjid Kwitang juga dipakai untuk tempat pertemuan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hal yang tidak terlalu mengejutkan karena Ali Al Hasyi adalah salah satu penasehat dan orang kepercayaan Presiden Soekarno. Beliau bagian dari tentara Hisbullah yang bernama Suara Jakarta, bahkan beliau adalah pelopornya. Tanpa persetujuannya rakyat sulit bergerak. Habib Ali selalu mengajar di masjid ini sampai sekitar tahun 1960-an. Beliau kemudian mendirikan Islamic Centre Indonesia di kediamannya, ± 300 meter dari masjid.

Masjid Kwitang terdiri dari dua lantai dengan sebuah menara besar di sisi kanan  depan masjid. Lantai pertama masjid digunakan untuk sholat berjamaah, baik sholat wajib maupun tarawih saat Romadhon. Lantai kedua berupa mezanin, khusus digunakan untuk shalat Ied, tetapi sehari-hari lantai dua ini menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan Madrasah yang dikelola oleh Masjid Jami Al-Riyadh. Tiang tiang besar segi empat mendominasi bangunan masjid tua ini. Lokasi yang berada di tengah pemukiman padat penduduk membuat masjid ini tak memiliki halaman luas layaknya sebuah masjid besar. Pintu utama masjid hanya beberapa meter dari jalan raya di depannya. Mihrab masjid tidak dipakai sebagai tempat imam karena posisi sajadah imam berada di depan mihrab bukan di dalam ruang mihrab. Mimbar dari kayu berukir yang bentuknya menyerupai singgasana dengan beberapa anak tangga, dan saat berceramah khatib berdiri di bagian yang tertinggi. Bentuk mimbar seperti ini lazim digunakan di Timur Tengah.

Pada masa kemerdekaan sampai era reformasi, masjid tetap berdiri kokoh. Selain untuk berdakwah dan menjalankan ibadah sehari-hari, oleh pengurus dan pengelola, masjid juga dijadikan tempat belajar secara formal. Sebuah sekolah dasar Islam bernama Madrasah Diniyyah Al Riyadh didirikan sekitar tahun 1975. Melalui lembaga pendidikan ini, masyarakat lebih mudah mengenalkan Islam pada putra-putrinya.

Kegiatan keagamaan masjid selama Romadhon sebenarnya hampir sama dengan masjid-masjid lainnya, di antaranya ceramah, tarawih, buka puasa bersama, dan pesantren kilat. Tradisi khusus yang masih dijaga sampai saat ini adalah setiap malam 25 Ramadhan selalu diadakan Khotmil Qur'an atau khataman Al Qur'an di dalam shalat tarawih. Biasanya malam itu banyak jamaah berdatangan dari luar Jakarta seperti  Surabaya, Blitar, Kalimantan, bahkan seluruh Indonesia. Acara diadakan dari pukul 21.00 WIB sampai dengan 23.00 WIB.

Masjid Al Riyadh ini sendiri memiliki keunikan yang dapat membedakan dengan masjid-masjid yang lain. Di dalam masjid terdapat makam sang pendiri, Habib Ali Al Habsyi, beserta  putranya, Habib Muhammad bin Al Habsyi dan istri putranya. Keberadaan makam mereka menjadi daya tarik bagi sebagian umat Islam untuk berziarah. Ini salah satu bentuk karomah beliau (Habib Ali), meski sudah wafat tetapi masih memberikan berkah bagi masyarakat sekitar dalam bentuk kedatangan para peziarah untuk kelangsungan warung dagang mereka.