MASJID JAMI’ AL ISLAM PETAMBURAN, WISATA SEJARAH

Masjid Jami’ Al Islam terletak di Jl. K.S. Tubun No. 61, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Masjid ini dibangun tahun 1770 oleh Syekh Abdurrahman al-Masri, seorang ulama bangsawan yang datang ke Betawi pada akhir abad ke-16 untuk mengembangkan dakwah Islam. Tanah Abang menjadi pilihannya karena banyak perantau asal Minangkabau bermukim atau berkegiatan di daerah yang menjadi pusat perdagangan dan ekonomi masyarakat Betawi kala itu. Suatu daerah yang menjadi pusat perdagangan biasanya didatangi banyak orang dari segala etnis dengan membawa kebiasaannya masing-masing, yang bisa memberikan dampak baik dan juga buruk bagi masing-masing orang.

Syekh al-Masri mengamati aktivitas orang-orang sekampungnya, asal Minang, di Pasar Tanah Abang, dan menyimpulkan bahwa para pedagang dari kampungnya saat itu jauh dari agama. Kesibukan berdagang membuat mereka lupa menunaikan shalat dan tak tersentuh dakwah. Padahal di kampungnya orang Minang adalah penganut Islam yang taat. Menurutnya ketiadaan masjid yang berjarak dekat dengan pasar menjadi salah satu penyebabnya. Ia kemudian berinisiatif mendirikan masjid untuk membina kembali iman saudara-saudara sekampungnya, dan mengajarkan Islam ke pedagang lain serta masyarakat sekitar. Atas bantuan berbagai pihak akhirnya sebuah masjid berdiri di dekat pasar.

Sepeninggal Syekh Abdurrahman al-Misri yang dimakamkan di depan masjid, kegiatan dakwah dilanjutkan oleh cucu Syekh al-Misri yang berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan, bernama Habib Usman. Ia dibantu oleh dua murid seniornya yang asli Betawi, Haji Saidi dan Haji Muala. Setelah Habib Usman wafat kegiatan dakwah digantikan oleh Haji Muala dan kawan-kawannya. Ketika berdakwah di tahun 1925, Haji Muala membuat gebrakan dengan mempelopori khotbah Jum’at menggunakan bahasa Melayu, padahal saat itu semua mesjid yang ada di Betawi menggunakan bahasa Arab. Gebrakan ini menimbulkan polemik, dan kalangan ulama tradisional bereaksi cukup keras dengan menilai khotbah selain menggunakan bahasa Arab sebagai bid’ah (menyimpang dari ketentuan agama). Polemik ini terdengar hingga ke telinga pemerintah Hindia Belanda yang menyebabkan dipanggilnya Haji Muala untuk dimintai keterangan, dan akhirnya mendapat peringatan. Meski demikian Haji Muala tetap dengan keputusannya untuk memberikan khotbah dalam bahasa Melayu. Seiring waktu berjalan justru banyak masjid di Betawi yang mengikuti Haji Muala dengan memberikan khotbah dalam bahasa Melayu. Jika dilihat dari kronologis waktunya, bisa dibilang sikap Haji Muala sangat membantu perjuangan para tokoh nasionalis dan pemuda masa itu yang juga mulai menggunakan bahasa Melayu sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah. Maka saat pecah perang kemerdekaan di tahun 1945, Haji Muala menjadikan Masjid Jami’ Al Islami sebagai markas pejuang, dan di masjid ini para pemuda kerap mengadakan pertemuan untuk mengatur strategi perang gerilya.

Masjid Jami’ Al Islam atau Masjid Habib Usman berdiri di atas lahan berukuran 984 m² dengan luas bangunan 600 m² yang dapat menampung hingga 150 jamaah. Atap masjid berbentuk tumpang bertingkat dua seperti lazimnya masjid kuno di Jawa. Empat tiang penyangga atap di bagian dalam masjid (soko guru) masing-masing berdiri di atas lapik berbentuk bulat dengan hiasan sederhana, begitu juga bagian puncak tiangnya. Mirip pilar gaya klasik dorik. Masjid dilengkap dengan menara setinggi ± 20 meter berbentuk persegi dengan atap kubah bawang berbahan alumunium. Hiasan terawangan berwarna hijau menutupi seluruh bidang sisi menara dalam bentuk panil-panil. Menara pada masjid-masjid di Indonesia merupakan pengaruh dari Hadramaut, umumnya berbentuk bulat tetapi ada juga yang persegi. Puncak atap mesjid dan menara diberi hiasan berbentuk kubah bawang yang terbuat dari alumunium.