MASJID ISTIQLAL, WISATA RELIGI

Masjid Istiqlal terletak di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Pasar Baru, Sawahbesar, Jakarta Pusat.  Masjid ini dibangun atas prakarsa Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, yang menginginkan adanya sebuah masjid yang monumental sebagai simbol kemerdekaan dan persatuan bangsa Indonesia, serta wujud rasa syukur karena atas berkat dan rahmat Allah bangsa Indonesia bisa merdeka. Nama istiqlal sendiri dipilih karena dalam bahasa Arab artinya merdeka. Pada awal perencanaannya sempat terjadi perdebatan mengenai lokasi pendirian masjid, tetapi kemudian dicapai kesepakatan bahwa lahan yang akan digunakan adalah Taman Wilhelmina, agar dekat dengan bangunan pemerintahan, pusat perdagangan, dan Istana Merdeka. Persis konsep alun-alun dalam tatanan masyarakat Jawa kuno, dimana di dekat pusat pemerintahan terdapat bangunan keagamaan yang cukup besar. Presiden Soekarno juga menghendaki masjid yang nantinya menjadi ikon nasional ini berdampingan dengan Gereja Kathedral sebagai lambang toleransi dan persatuan sesuai Pancasila. Peletakan batu pertama kemudian dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tahun 1951, dan tujuh belas tahun kemudian diresmikan oleh Presiden H.M. Soeharto tahun 1978.

Masjid berdaya tampung 200.000 jama’ah ini didesain dengan menggabungkan konsep nasionalisme dan Islam. Diameter luar kubah bangunan utama masjid adalah 45 meter yang melambangkan tahun kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Lima lantai pada bangunan masjid perlambang Rukun Islam dan Pancasila, sedangkan 12 pilar utama penyangga kubah melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad Shalalahu Alaihi Wassalam. Menara di sudut selatan bangunan utama tingginya 6.666 cm (66,66 m), melambangkan jumlah ayat dalam Al Quran. Ujung atas menara diberi besi baja yang menjulang ke atas setinggi 30 m sebagai simbol 30 juz dalam Al Quran. Konsep dan arsitek pendisainnya menjadi daya tarik tersendiri dari masjid ini. Tidak ada yang menyangka jika Frederich Silaban beragama Protestan. Ia memang arsitek handal masa itu, dan kebetulan memenangkan sayembara desain Masjid Istiqlal. Posisi masjid yang berdekatan dengan sebuah gereja besar juga menunjukkan wujud kerukunan beragama di Indonesia. Inilah yang menjadi magnet bagi orang asing untuk mendatanginya langsung, dan melihat-lihat kemegahan Masjid Istiqlal sekaligus membuktikan kehidupan toleransi beragama di antara warganya.

Pintu masuk menuju ruang utama masjid berjumlah tujuh, sebagai perlambang tujuh lapis langit menurut kosmologi alam semesta dalam Islam, dan tujuh hari dalam seminggu. Nama-nama pintu masuk diambil dari Asmaulhusna yaitu Al Fattah, Al Quddus, As Salam, Al Malik, Al Ghaffar, Ar Rozzaq, dan Ar Rahman. Gerbang As Salam dan Al Malik digunakan untuk tamu VIP dan VVIP. Dinding arah kiblat di ruang sholat utama dihias dengan marmer dan kaligrafi. Di bagian tengahnya terdapat bidang segi empat bersusun membingkai sebuah lengkungan menyerupai  denah kubah, yang di dalamnya diberi hiasan kaligrafi dua kalimah syahadat. Di sisi kanan bidang persegi berhiaskan kaligrafi lafadz Allah, dan di sisi kiri lafadz Muhammad. Di bagian bawah bidang persegi adalah ruang mihrab dengan mimbar untuk memberikan khotbah dalam sholat Jum’at atau sholat Ied. Di sekeliling ruang sholat utama terdapat balkon empat lantai berdaya tampung hingga 8.000 jama’ah. Kubah di bagian tengah ruang sholat utama berdiameter 8 meter, melambangkan bulan kemerdekaan RI.

Bagian masjid yang paling menarik untuk anak-anak adalah teras di lantai dua seluas ± 19.000 m². Teras ini juga difungsikan sebagai tempat sholat ketika jama’ah di lantai utama sudah penuh. Kegiatan masjid sering diadakan di area teras ini, seperti latihan manasik haji bagi anak-anak, dan muhasabah tilawatil quran. Dari teras akan terlihat dengan jelas menara masjid yang sangat tinggi dengan badan berlubang-lubang untuk mengurangi tekanan dan hembusan angin. Awalnya menara difungsikan sebagai tempat mengumandangkan adzan, tetapi saat ini untuk meletakkan pengeras suara agar gema adzan terdengar ke sekitar masjid. Bagian puncak menara terbuat dari baja tahan karat seberat 28 ton. Bedug terbesar di Indonesia berbahan batang pohon kayu meranti merah (shorea wood) asal Kalimantan Timur berusia ± 300 tahun melengkapi kemegahan masjid. Bedug dengan berat 2,3 ton ini diletakkan di atas penyangga (jagrag) berbahan kayu jati, yang diambil dari hutan Randu Blatung, Jawa Tengah. Keduanya diberi ukiran kaligrafi yang menambah ketakjuban wisatawan masjid.

Masjid Istiqlal selain digunakan sebagai tempat shalat juga digunakan untuk berbagai kegiatan lainnya, seperti kajian terbuka untuk umum, tabliq akbar setiap bulannya, serta peringatan hari besar Islam. Kegiatan akan menjadi lebih padat ketika memasuki bulan Ramadhan, yang biasanya diisi dengan (1) berbuka puasa bersama, diawali sholawat, dzikir, dan tausyiah; (2) sholat tarawih, dilakukan dua gelombang, 8 dan 20 raka’at plus witir, dengan lantunan ayat suci Al Quran dan ceramah oleh ulama atau tokoh kondang; (3) tadarrus, (4) kuliah Subuh; (5) dialog Dzuhur interaktif; (6) peringatan Nuzulul Qur’an; (7) i’tikaf dan qiyamul lail; (8) pesantren kilat; (9) santunan anak yatim; (10) sholat Ied. Masjid Istiqlal juga mengadakan qiyamul lail setiap minggu kedua setiap bulannya pada tiap Kamis malam.

Status masjid nasional menjadikan Masjid Istiqlal sebagai tempat perhelatan hari besar Islam yang dihadiri oleh presiden, para menteri kabinet, jajaran korps diplomatik, dan diliput oleh televisi nasional, seperti Idul Fitri dan Idul Adha, Isra Mi’raj, serta Maulid Nabi. Pada hari pergantian tahun masehi diadakan malam muhasabah dan qiyamullail serta doa bersama. Tahun 1991 diadakan Festival Istiqlal untuk pertamakalinya, berupa pameran seni dan kebudayaan Islam Indonesia, yang diikuti juga oleh perwakilan negara sahabat. Peristiwa mengejutkan terjadi tahun 1999, yaitu pengeboman yang merusak beberapa kantor organisasi Islam termasuk MUI. Lokasi yang strategis menjadikan masjid ini sebagai titik pertemuan setiap kali ada acara-acara besar umat Islam, seperti 212 dan Bela Palestina.

Berbagai kegiatan tersebut secara tidak langsung mampu menjadi tempat bertemunya umat Islam dari berbagai daerah dan kalangan, sehingga masjid Istiqlal lebih dari sekadar simbol kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi tempat bersatunya umat yang penuh kasih, saling menghargai, dan bertoleransi antar sesama bangsa Indonesia. Banyak warga Jakarta sendiri tidak tahu kalau Masjid Istiqlal bisa dikunjungi siapa saja untuk berwisata, bukan saja umat Islam. Mereka yang non muslim diijinkan juga untuk berkeliling, tetapi setelah mendapat pembekalan informasi dan didampingi oleh petugas pemandu. Tata tertib tentunya harus dipatuhi, yaitu melepas alas kaki tanpa kecuali dan berbusana sopan. Wisatawan laki-laki akan dipinjamkan sarung (laki-laki), sedangkan yang perempuan baju panjang terusan dan kerudung. Bagi non muslim ada batas ruangan yang tidak boleh didatangi karena dikhawatirkan mengganggu jama’ah yang sedang beribadah di dalamnya, yaitu ruang sholat utama. Mesjid Istiqlal ini juga sering dikunjungi oleh berbagai kepala negara yang berkunjung ke Jakarta, seperti Barack Obama dan istri pada tahun 2010, serta yang terakhir adalah rombongan Raja Salman (2017). Tokoh negarawan lain yang pernah mengunjungi Masjid Istiqlal adalah Bill Clinton (AS), Mahmoud Ahmadinejad (Iran), Muammar Qaddafi (Libya), Pangeran Charles (Inggris), Li Yuanchao (China), Sebastián Piñera (Cile), Heinz Fischer (Austria), Jens Stoltenberg (Norwegia), dan Angela Merkel (Jerman).