Masjid Cut Meutia, Wisata Religi

Bangunan bergaya art noveau yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda ini telah mengalami perjalanan panjang sejak digunakan untuk pertamakalinya sebagai kantor biro arsitek dan pengembang N.V. De Bouwploeg. Masjid berbahan material kapur di Jalan Taman Cut Meutia Nomor 1, Menteng, ini sempat digunakan sebagai kantor Walikota Jakarta Pusat, kantor PDAM, kantor Pos, kantor Dinas Urusan Perumahan Jakarta, dan kantor MPRS masa kepemimpinan A.H. Nasution. Saat MPRS berkantor di gedung ini, masyarakat datang menghadap dan mengajukan permohonan agar gedung eks Bouwploeg dialihfungsikan sebagai masjid. A.H. Nasution sebagai ketua MPRS memahami permintaan warga karena memang waktu itu di kawasan Menteng memang belum ada masjid berskala besar. Lalu tahun 1974 beliau meminta agar semua lembaga yang berkantor di lantai atas mencari tempat lain, dan Masjid Al Jihad yang menempati bekas gedung Kebudayaan Republik Rakyat Tiongkok dipindahkan ke gedung eks Bouwploeg. Namanya kemudian diganti menjadi  Masjid Cut Meutia sesuai dengan nama jalannya.

Barisan shaf jama’ah sholat di Masjid Cut Meutia tidak lurus menghadap bangunan masjid pada umumnya, tetapi miring 15° menyesuaikan dengan arah qiblat. Tempat imam dan mimbar dibuat menjorok 15 meter ke depan tetapi tidak menjadi satu area, agak terpisah antara tempat imam memimpin sholat dengan letak mimbar berbahan kayu, karena bentuk bangunannya memang bukan standar masjid. Tidak ada perubahan pada bangunan ini kecuali cat pintu, ornamen kaligrafi sebagaimana lazimnya masjid, dan penambahan lampu untuk penerangan. Masjid Cut Meutia dikelola oleh Yayasan Masjid Cut Meutia secara swadaya dengan aturan khusus, yaitu tidak boleh meminta sumbangan dan  berupaya mengkoordinasi kegiatan ekonomi lingkungan sekitar serta menghidupi sendiri pengurus harian masjid. Mereka membina PKL dan pedagang kecil di sekitar masjid untuk memudahkan masyarakat dan jama’ah memenuhi kebutuhannya saat beribadah. Masjid ini pernah direncanakan untuk dipindah ke lokasi lain di Jalan Cut Nyak Dhien tetapi masyarakat menolak. Tidak bisa dipungkiri, bentuk yang unik dan berbeda seperti lazimnya sebuah masjid, serta sejarah panjang yang menyertainya, menjadikan pesona tersendiri dari masjid ini.

Masjid tanpa kubah dan menara ini tidak hanya menyelenggarakan sholat wajib berjama’ah, tetapi kajian internal dan kegiatan Ramadhan. Kajian rutin internal di antaranya diselenggarakan pada hari Senin Ba’da Maghrib bertema “cara cepat mempelajarai terjemahan Al Quran”, Rabu siang Ba’da Dzuhur hingga jelang Ashar “tahsin Al Quran” yang ditujukan untuk para akhwat (perempuan), sedangkan Rabu dan Jum’at ba’da Ashar hingga jelang Maghrib “tahsin Al Qur’an” khusus untuk ikhwan (pria). Masjid Cut Meutia disinggahi oleh Imam Besar Masjidil Aqso Syekh Yusuf Abu Sneina, dalam rangkaian silaturahmi safari Isra Mi’raj pada tahun 2016, dan didaulat untuk menjadi imam sholat Subuh berjama’ah. Hal ini memperlihatkan ikatan yang kuat antara muslim di Indonesia dan Palestina. Salah satu stasiun televisi nasional juga sering mengadakan acara tausyiah di masjid ini. Masjid Cut Meutia juga pernah mengadakan kegiatan “hapus tato” gratis menggunakan laser di awal Januari 2018, bekerja sama dengan Rumah Sakit Ibnu Sina dan Majelis Taklim Telkomsel. Islam melarang tato, dan rasa gelisah sering melanda mereka yang telah memahaminya dengan benar. Hal ini terjawab dengan membludaknya pendaftar hingga mencapai angka 1.000 orang.

Masjid Cut Meutia mempunyai organisasi dakwah anak-anak muda yang tergabung dalam RICMA. Salah satu kegiatan menarik yang diadakan RICMA dalam delapan tahun terakhir adalah penyelenggaraan Ramadhan Jazz Festival. Bisa dibilang diluar kelaziman, dan kegiatan ini merupakan yang pertama serta satu-satunya, baru ada di Masjid Cut Meutia, tidak ada lagi di Indonesia bahkan dunia, masjid yang menyelenggarakan sebuah festival musik jazz di pelatarannya. Festival ini sengaja diadakan oleh RICMA dengan tujuan untuk lebih memperkenalkan dan mendekatkan Islam kepada para generasi muda dengan cara yang lebih populer. Walaupun dibuat oleh organisasi remaja masjid, tetapi ajang Festival Ramadhan Jazz ini setiap tahunnya diikuti oleh pemusik/penyanyi papan atas Indonesia seperti Fariz RM, Raisa, Tulus, Glenn Fredly, dan Maliq D'Essentials. Unik bukan?