MASJID BAITURRAHMAN KOMPLEK MPR/DPR SENAYAN, WISATA RELIGI

Masjid Baiturrahman berada di area kompleks MPR/DPR Senayan, tepatnya di sebelah kiri belakang gedung DPR-RI. Masjid ini dibangun tahun 1993 dan dinyatakan selesai melalui sebuah peresmian pada tanggal 28 Agustus 1997 oleh Ketua MPR/DPR masa itu Bpk. Wahono. Berdiri di atas lahan seluas 2.000 m² dengan luas bangunan masjid 1.240 m². Tahun 2007 bangunan masjid diperluas  dengan penambahan aula terbuka di depan masjid seluas ± 200 m². Masjid Baiturrahman terletak di area terpisah dengan lokasi tanah yang lebih tinggi, sehingga keberadaaannya cukup menonjol meskipun tidak seluas gedung lain di kompleks wakil rakyat tersebut.

Kata baiturrahman mengandung pengertian rumah kasih sayang, yang bisa dimaknai sebagai tempat dimana kita mendapatkan kenyamanan dari limpahan kasih sayang yang ada. Melalui penamaan Baiturrahman diharapkan siapapun yang beribadah di masjid ini mendapatkan curahan kasih sayang dari Allah Sang Maha Pencipta. Keberadaan Masjid Baiturrahman diharapkan juga bisa memberikan kesejukan rohani di tengah hiruk pikuknya dunia politik Indonesia di kawasan kompleks MPR/DPR Senayan. Bentuk masjid secara keseluruhan menyerupai pola bunga Tanjung yang mempunyai ujung melancip di tiap kelopaknya, dan mahkota bunga pendek sedikit menggelembung di bagian bawah lalu melancip ke atas. Pola bunga Tanjung ini direpresentasikan dengan bentuk atap melancip yang bertumpuk seperti bunga dalam proses mekar. Terdiri dari delapan lengkungan atap yang bertumpuk tiga dengan ukuran panjang yang berbeda. Panjang atap kedua lebih pendek dari pada yang pertama, begitu juga antara atap kedua dan ketiga. Bagian tengah atap berupa kubah segi delapan dengan garis-garis lancip sebagai pembentuk sudut, dan atasnya diberi hiasan bertuliskan lafadz Allah.

Perpaduan warna hijau tua pada atap dan hijau muda untuk dinding memberikan kesejukan, yang menyapa jama’ah saat melangkahkan kaki melewati aula terbuka di depan masjid. Bangunan ini menjadi pembatas area suci sebelum menaiki tangga menuju ruang sholat utama. Jumlah anak tangga 17 melambangkan jumlah raka’at sholat wajib dalam satu hari. Teras yang mengelilingi bangunan utama tidak terlalu luas tetapi cukup untuk bisa menikmati keindahan eksterior masjid. Fasad (tampak muka) masjid berupa deretan dinding terbuka yang bagian atasnya melancip menyerupai ujung kelopak bunga Tanjung. Kaligrafi bergaya khufi murabba menghiasi sisi atap masjid yang berada persis di atas pintu masuk. Khufi murabba adalah gaya kaligrafi yang disusun dari garis-garis horisontal dan vertikal yang membentuk sudut tegak lurus (murabba artinya kubus). Pagar langkan teras bersifat fungsional sekaligus estetis karena berbentuk kerawangan segi delapan, sehingga angin yang berhembus ke dalam tidak terhalang. Di bagian samping teras terdapat bedug besar berdiameter 1,97 m dan panjang 3 m, yang dibuat dari kayu jati asal hutan jati Blora. Kulit bedug diimpor dari Australia karena sulit mendapatkan yang lebarnya sesuai diameter bedug. Kentongan yang merupakan sumbangan dari Menteri Kehutanan Djamaluddin Suryohadikusumo di tahun 1998, terbuat dari kayu nangka dengan ukiran Jepara, diameter 0,5 m dan panjang 1,65 m.

Bangunan masjid berdenah segi empat dengan tiga lantai. Lantai dasar (basement) terdiri dari ruang serba guna untuk perhelatan pernikahan atau kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, kantor pengurus masjid, toilet, tempat wudhu, dan studio mini. Lantai dua merupakan ruang sholat utama, sedangkan lantai tiga berupa mezanin yang mengelilingi ruang sholat utama untuk tempat sholat jama’ah perempuan. Masjid ini mampu menampung hingga 4.000 jama’ah. Pintu masuk menuju ruang sholat utama ada tujuh, tiga di bagian depan, dan masing-masing dua di sisi kanan serta kiri. Daun pintu dan juga jendela terbuat dari kayu jati asli Demak. Pintu diberi ukiran motif bunga tanjung dan bintang segi delapan sama seperti pada dinding eksterior masjid. Ruang sholat utama tidak terlalu besar tetapi terkesan lapang karena hanya ada dua tiang penyangga. Di sekeliling ruang utama terdapat hiasan berpola bunga Tanjung di sisi lantai mezanin, dan kaligrafi bergaya khufi murabba di bagian atas lantai mezanin. Jendela dengan kaca patri berwarna biru putih menghiasi dinding lantai mezanin yang diberi pagar besi bermotif geometris agar tidak mengganggu pandangan ke arah mihrab.

Lebar area mihrab ± 4 m dengan kedalaman ± 3 m. Dinding sisi kiri dan kanannya ditempel   kayu berukir motif bunga Tanjung, bintang segi delapan, dan geometris. Ambang ruang mihrab juga diberi hiasan kerawangan bermotif geometris (belah ketupat dan kurawal) dan bunga. Bagian atas dinding dalam mihrab diberi kaca patri yang juga berfungsi menyalurkan cahaya matahari untuk menerangi ruang mihrab. Mimbar yang diletakkan di ruang mihrab terbuat dari kayu jati dengan ukiran motif geometris dan tanaman. Hiasan kaligrafi bergaya khufi murabba berwarna hijau dalam ukuran besar juga menghiasi dinding area mihrab. Di bawahnya terdapat hiasan  bintang segi delapan terbuat dari kaca berwarna hijau, merah, dan putih. Langit-langit masjid ditutup dengan lempengan kayu yang disusun mengikuti bentuk atap. Hiasan bintang segi delapan di bagian tengah kubah berhiaskan kaligrafi khufi murabba, sulur-suluran, dan geometris. Ada empat lampu hias gantung di area ini. Lantai masjid seluruhnya berupa marmer. Di sebelah kanan masjid berdiri sebuah menara setinggi ± 17 m. Badan menara berbentuk segi delapan yang dibagi menjadi dua, masing-masing ditandai dengan deretan kaca balkon berpagar dan atap segi delapan serupa atap masjid hanya berukuran kecil. 

Masjid Baiturrahman menyelenggarakan kegiatan sholat wajib berjama’ah dan juga perayaan hari-hari besar Islam. Kegiatan sosial masyarakat yang menjadi agenda sekretariat MPR/DPR juga diselenggarakan di masjid ini, seperti santunan anak yatim dan tahfidz Quran. Masjid ini juga menyelenggarakan kegiatan Ramadhan sama seperti masjid lainnya.