Masjid Baitul Ihsan, Wisata Religi

Masjid ini berada di sisi paling barat dari komplek perkantoran Bank Indonesia (BI) di Jalan Budi Kemuliaan No. 23, Jakarta Pusat.  Nama Baitul Ihsan mengandung arti sebuah tempat dimana orang percaya bahwa setiap gerak, langkah, dan pikiran dalam kehidupan itu selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tata letak dan nama Baitul Ihsan menjadi sebuah simbol, bahwa masjid menjadi imam serta orientasi terhadap lingkungan yang berada didekatnya, dan pengingat bahwa segala hal yang dilakukan dalam bekerja adalah ibadah dan semata-mata hanya mengharap ridho Allah. Konsep ini terasa mengena karena bekerja di dunia perbankan seperti Bank Indonesia penuh dengan godaan dan resiko.

Masjid Baitul Ihsan tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi karyawan muslim BI, tetapi juga untuk semua umat sebagaimana konsep terbuka yang diusung saat mendesainnya. Keterbukaan bagi siapa saja tercermin dari pintu masuk, yang berinteraksi langsung dengan khalayak ramai. Pintu pertama berupa pintu kecil di sisi Jalan Budi Kemuliaan, yang dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat umum untuk menunaikan ibadah. Pada bulan Ramadhan, utamanya pada jam-jam menjelang buka puasa, pintu ini ramai oleh para pedagang makanan. Pintu kedua menghadap gedung perkantoran BI yang memudahkan para karyawan untuk langsung masuk dan menunaikan shalat di masjid ini. Pintu ketiga berada di sisi selatan, yang menghubungkan ruang wudhu, selasar, dan ruang shalat utama.

Bangunan masjid berbentuk segi empat dengan kubah dome (setengah bola) di tengahnya, yang merepresentasikan alam semesta ciptaan Allah. Di keempat sudut atap terdapat menara-menara kecil yang juga berkubah dome, sedangkan satu menara lainnya dibuat lebih tinggi dan terpisah dari bangunan induk untuk melantunkan adzan. Permukaan luar kubah dilapisi keramik berwarna biru dan krem bermotif geometris, dilengkapi jendela kaca dengan titik-titik cahaya alami dari luar hingga dapat menerangi ruang sholat dibawahnya. Konsep desain ornamen kubah adalah “Nur” yang bermakna bahwa manusia bersujud untuk mencari cahaya hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala selaku Sang Pencipta.

Motif geometris memang menjadi aksen yang mendominasi masjid ini, termasuk eksterior bangunan yang memadukan unsur garis horisontal, vertikal, dan lengkung seperti pada gaya art deco. Garis-garis vertikal melambangkan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, sedangkan garis horisontal  mencerminkan hubungan yang setara antara sesama manusia. Pintu masuk Masjid Baitul Ihsan berdinding kerawangan yang bagian atasnya berbentuk lengkung seperti busur. Motif kerawangan pada dinding pintu bermakna keterbukaan masjid bagi seluruh umat yang hendak beribadah di masjid ini. Daun pintu dibuat dari perunggu bermotif ukiran tanaman dalam paduan warna kuning dan hijau. Di bagian kanan atas daun pintu terdapat tulisan “Allah” dan tulisan “Muhammad” di sebelah kiri. Kaca-kaca patri yang berada tidak jauh dari pintu masuk memperlihatkan perpaduan antara motif tradisional dan khas Islam.

Masjid Baitul Ihsan terdiri dari tiga lantai. Lantai basement seluas 1.080 m² diperuntukkan sebagai ruang wudhu, perpustakaan, dan ruang simpan. Lantai dua seluas 1.087 m² difungsikan sebagai ruang sholat utama yang dapat menampung sekitar 1.040 jamaah. Lantai berikutnya berupa mezzanine (ruang tambahan di antara lantai dan plafon) seluas 596 m2, yang mengelilingi bagian atas ruang shalat utama dengan daya tampung 545 jama’ah. Selain itu ada selasar atau lantai terbuka seluas 1.098 m² yang sering juga dimanfaatkan untuk sholat terutama sholat Jum’at. Selasar ini kerap digunakan sebagai ruang tidur jama’ah yang mabit (bermalam), qiyamul lail, atau mengikuti kajian.

Area mihrab ditandai oleh delapan pilar berbalut mamer putih, yang disusun sedemikian rupa hingga mengesankan adanya sebuah ruangan khusus. Bisa dibilang bagian mihrab menjadi centre of view dari interior Masjid Baitul Ihsan. Pemilihan warna putih diharapkan mampu menghadirkan ketenangan dan kekhusyuan dalam beribadah. Cekungan kubah pada langit-langit masjid ditopang oleh empat pilar berbentuk lingkaran, yang bagian bawahnya diikat dengan balok penghubung berhias kaligrafi surat An-Nuur ayat 35, dan di sekeliling kaki kubahnya diberi kaligrafi Asma’ulhusna. Dominasi warna abu-abu dari marmer pada dinding serta lantai, putih pada pilar-pilar, dan adanya fasilitas pendingin ruang mempertegas kesan megah juga nyaman saat berada di dalam masjid.

Masjid Baitul Ihsan tidak hanya digunakan untuk menunaikan shalat lima waktu, tetapi juga kajian, mabit (bermalam), dan shalat malam. Kajian yang diadakan pada setiap hari Senin pekan ke-4 rutin diisi oleh ulama kondang KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Mabit majelis Al Quran biasa diadakan pada Sabtu yang dimulai dengan sholat Isya berjama’ah hingga usai kajian Subuh. Kajian rutin Masjid Baitul Ihsan diadakan ba’da sholat Dzuhur, sore selepas jam kerja sampai jelang sholat Maghrib, berlanjut ba’da sholat Maghrib hingga Isya. Di bulan Ramadhan, sepuluh hari terakhir, masjid ini selalu menggelar i’tikaf berjamaah yang terbuka untuk umum, disertai tausyiah dan qiyamullail dengan bacaan 3 juz dalam semalam hingga pada hari kesepuluh genap 30 juz. Masjid Baitul Ihsan terkadang juga mengundang imam dari Palestina untuk sholat qiyamullail. Tabligh Akbar juga sering diadakan di masjid ini bekerja sama dengan badan dakwah lainnya dan mengundang ulama serta aktivis dakwah seperti Ustadz Bachtiar Nasir dan Peggy Melati Sukma. Pada saat aksi 212, para peserta melakukan sholat berjama’ah di masjid ini hingga luber ke jalan raya.