MASJID AZZAWIYAH PEKOJAN, WISATA RELIGI

Masjid Azzawiyah terletak di kawasan Pekojan, sebuah kampung dimana dahulu banyak tinggal orang-orang Arab dari Hadramaut, Yaman Selatan. Masjid ini berawal dari sebuah mushola kecil yang kemudian diwakafkan dan dijadikan masjid. Dibangun tahun 1812 oleh Al-Quthb Al-Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Attas,yang berasal dari kota Tarim. Beliau adalah seorang ulama besar dan pendakwah ulung, guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Shohibul Keramat Empang Bogor) yang berdakwah di daerah Bogor. Habib Ahmad bin Hamzah Alatas adalah tokoh yang memperkenalkan kitab “Fathul Mu’in” atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional. Pada masa tuanya Habib Ahmad kembali ke Hadhramaut hingga meninggal dan dimakamkan di Zambal. Sejak awal dibangun, masjid ini tidak saja digunakan untuk keperluan ibadah tetapi juga menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan Islam.  Masjid ini sekarang dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.

Ada sebuah cerita menarik tentang Habib Ahmad dan Masjid Azzawiyah tempatnya berdakwah itu. Ada seorang Schout (jabatan kepala polisi Belanda) yang bernama Van Heyne atau sering dipanggil Tuan Sekotena, mempunyai istri yang sedang sakit parah dan menurut dokter sulit untuk disembuhkan. Berbagai macam cara sudah ditempuhnya, namun sang istri tidak juga kunjung sembuh. Kemudian salah satu pembantunya menyarankan agar Sekotena menemui Habib Ahmad di Pekojan, untuk meminta air obat padanya. Sekotena pun menemui Habib Ahmad dan menjelaskan tentang sakit istrinya. Habib Ahmad kemudian memerintahkan salah satu muridnya untuk mengambil air dari sumur yang ada di samping masjid dan mendoakan air tersebut. Alhasil setelah meminum air dari Habib Ahmad tersebut, istri Sekotena pulih dari sakitnya dan sehat kembali. Sejak itu apabila Habib Ahmad mengadakan pengajian Sekotena selalu hadir untuk mengamankan dan berdana air dingin.

Keunikan sumur yang ada di Masjid Azzawiyah adalah airnya tidak pernah habis meski di musim kemarau sumur penduduk di sekitarnya banyak kering. Sekarang sumur peninggalan Habib Ahmad banyak dimanfaatkan airnya oleh para peziarah yang datang. Air sumur ini terasa segar dan sejuk meskipun sumur-sumur disekitar kawasan ini airnya terasa asin. Ada yang mengatakan mirip air zam zam di Mekkah. Banyak juga yang mandi di sumur tersebut dan membawa airnya pulang sebagai oleh-oleh. Tak sedikit Habaib dan Masyaikh terutama yang datang dari Hadhromaut menyempatkan diri untuk datang Ke Masjid Azzawiyah, dan mengambil airnya untuk dibawa ke negaranya.

Sekarang masjid ini digunakan untuk pengajian kaum ibu. Di bulan Romadhan kegiatan yang digelar masjid ini tidak terlalu istimewa, hanya saja menu nasi kebuli kerap muncul dalam acara buka puasa bersama. Tidak mengherankan karena kampung ini dahulu mayoritas penghuninya adalah etnis Arab, sehingga adat budaya Arab juga cukup kental di kawasan ini. Meski banyak warga Arab yang kembali ke Yaman atau keturunannya pindah dari kampung Pekojan dengan berbagai alasan, tetapi keterikatan dengan kampung ini tetap kuat. Meski tak lagi memiliki rumah di Pekojan, tradisi silaturahmi warga lama Pekojan, dari orang Arab dan Tionghoa, terus berjalan hingga kini. Setiap tahun para orang tua di Pekojan berkumpul di Azzawiyah, tempat berkumpulnya para ulama di Pekojan. Khusus orang Pekojan lama, biasanya setelah selesai sholat Id di Pekojan langsung berkumpul di Masjid Azzawiyah. Masjid ini ramai dikunjungi oleh muslim keturunan Arab terutama di hari Lebaran hingga hari ketiga. Tepat di depan Masjid Azzawiyah berdiri sebuah rumah tua bergaya Moor, yang sekarang ditempati oleh keluarga Saleh Aljufri, salah satu keturunan Arab yang masih tinggal di kawasan Pekojan.