MASJID AT TAIBIN SENEN, WISATA SEJARAH

Masjid At Taibin terletak di Jalan Senen Raya IV, Keluarahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Batas utara masjid adalah Jalan Kalilio, batas sebelah selatan dan barat adalah kompleks apartemen, dan sebelah timur dengan perkantoran. Awalnya masjid ini bernama Masjid Kampoeng Besar, didirikan tahun 1815 oleh para pedagang Pasar Senen dengan perpaduan arsitektur Eropa dan Indonesia. Masjid ini menjadi simbol perjuangan para pedagang Pasar Senen pada masa revolusi kemerdekaan. Saat itu para pedagang memberikan dukungan logistik kepada para pejuang, yang dapat menunjukkan keyakinan dan semangat tinggi dalam menegakkan kebenaran  sekaligus memberikan kesadaran adanya perbedaan antara penjajah dan kaum terjajah. Masjid Kampoeng Besar tidak hanya digunakan untuk beribadah semata, tetapi juga menjadi tempat menyusun strategi menghadapi Belanda khususnya dalam pertempuran Senen, Tanah Tinggi, dan Kramat, serta memata-matai gerak Batalyon X. Masjid ini menjadi gudang logistik yang dikumpulkan dari para pelaku pasar  yang kemudian disalurkan kepada para pejuang di medan perang. Tahun 1980-an masjid ini terancam dibongkar, tetapi para ulama dan masyarakat setempat berhasil mempertahankannya. Nama Masjid Kampoeng Besar sempat diubah menjadi Masjid Imroni’ah sebelum menggunakan nama Masjid At Taibin pada tahun 1970-an.

Masjid berdiri di atas lahan seluas ± 711 m², dengan luas bangunan 500 m². Denah masjid berbentuk empat persegi panjang. Serambi luar masjid berada di sisi utara, bentuknya memanjang dari barat ke timur berukuran 18,5x2,8 m, yang menyatu dengan bangunan induk. Untuk masuk ke serambi terdapat dua buah anak tangga dan dua buah pintu, satu di ujung barat, satu di ujung timur, yang masing-masing terbuat dari besi dengan dua buah daun pintu. Atap berbentuk limasan tumpang dua yang ditutup genteng. Ruang sholat utama berbentuk persegi panjang berukuran 18,5x12,5 m, berlantai marmer dengan dinding tembok. Tiang utama (sokoguru) berupa kayu utuh tanpa sambungan setinggi ± 13 m, berbentuk bulat sebanyak empat buah berjajar di bagian tengah ruang utama. Tiang dihiasi dengan motif tumpal (segitiga), bunga, dan kaligrafi yang ditempeli melingkari bagian badan atau memanjang ke bawah dengan tulisan berwarna keemasan. Jadi tidak diukir langsung pada kayu tiang tetapi dengan teknik tempel (applieque). Pintu masuk ruang utama ada di sisi utara dan selatan, masing-masing berjumlah dua. Terbuat dari kayu jati dengan dua daun pintu, bagian bawah daun pintu berupa papan polos sedangkan atasnya berbentuk jeruji kayu. Di bagian atas pintu terdapat hiasan teralis kayu yang disusun membentuk setengah lingkaran. Pada ketinggian ± 5 m masing-masing dinding terdapat jendela berbentuk persegi panjang dengan hiasan belah ketupat. Dinding utara dan selatan masing-masing lima jendela, sedangkan sisi barat dan timur dua jendela.

Mihrab di sisi barat berbentuk ceruk yang menjorok ke luar dengan kedalaman 2,28 m, sedangkan tingginya 2,80 m. Dinding mihrab dilapis marmer abu-abu muda. Di bagian tepi luar mihrab, di sisi kiri dan kanan diberi  hiasan tempel dari kayu bermotif sulur-suluran berwarna coklat serta keemasan, sedangkan ambang ruang mihrab diberi hiasan panel kaligrafi yang ditempel menyatu dengan lainnya. Mimbar diletakkan di ruang mihrab, berbentuk kursi berbahan jati dengan tiga buah anak tangga terbuat dari marmer. Di bagian atas mimbar terdapat ukiran bermotif sulur-suluran dan tumpal (segitiga). Mimbar berukuran 2x1,24 m dengan tinggi 3,2 m. Ventilasi berupa kerawangan terdapat pada dinding depan mihrab (2 baris, masing-masing 2), dan sisi kiri kanannya (2 baris, masing-masing 1). Di bagian belakang masjid terdapat  bangunan tambahan berlantai dua yang difungsikan sebagai tempat belajar dan mengaji.