MASJID AR-RAUDHAH SHAHBUDDIN, WISATA RELIGI

Masjid Ar Raudhah Shahabuddin terletak di Jalan Pekojan II, masuk ke dalam sebuah gang kecil dengan banyak rumah di sekitarnya. Bangunan ini dari luar tidak terlihat seperti layaknya sebuah masjid, melainkan sebuah rumah biasa dengan sofa-sofa yang ditempatkan di luar untuk duduk-duduk. Ketika masuk ke dalam baru jelas bahwa ‘rumah’ itu memang benar sebuah masjid. Masjid hanya terdiri dari satu lantai. Di bagian depan ruangan terdapat mimbar, sajadah panjang, rak tempat Al Qur’an, dan di sebelah pojok kiri adalah ruang shalat bagi perempuan. Tembok bagian luar masjid didominasi oleh warna putih, dan hijau pada pintu serta jendela. Ruang dalam juga didominasi warna putih keramik yang melapisi tembok.

Masjid Ar-Raudhah di kawasan Pekojan ini didirikan pada 28 Rajab 1304 H oleh saudagar Yaman yang dikhususkan bagi jama’ah perempuan. Sejak dahulu di kampung Pekojan memang sudah banyak masjid, tetapi umumnya sudah penuh oleh jama’ah laki-laki. Atas prakarsa Bin Shahbuddin maka didirikanlah masjid ini, dan sampai sekarang  Masjid  Ar-Raudhah Shahbuddin lebih mengutamakan jama’ah perempuan. Sholat Tarawih di bulan Ramadhan yang diselenggarakan oleh masjid ini hanya boleh diikuti oleh jamaah perempuan saja. Masjid ini juga mengadakan i’tikaf khusus perempuan untuk menghafal Al Quran selama bulan Ramadhan, waktunya pukul 08.00 – 10.00 WIB. Kaum lelaki hanya boleh menyelenggarakan sholat berjama’ah pada waktu sholat wajib saja. Di bagian lain dari masjid ini terdapat kolam mata air yang tidak pernah kering meski musim kemarau sekalipun. Mata air di dalam Masjid Ar Raudah ini tidak diketahui kedalaman airnya, bisa jadi lebih rendah dari sumur-sumur warga. Bentuknya seperti kolam air biasa, dan di musim kemarau banyak warga yang mengambil air dari kolam ini.

Di Masjid Ar-Raudhah terlahir sebuah organisasi pendidikan Islam tertua di Jakarta, Jamiatul Khair, pada tahun 1901. Gagasan pendirian perkumpulan Jamiatul Khair adalah untuk memunculkan ide-ide dari para pemuda Islam dalam pembentukan organisasi-organisasi kebangsaan lainnya yang seperti Boedi Oetomo pada tahun 1908. Banyak tokoh Islam lahir dari gerakan ini seperti K.H. Dahlan, H.O.S. Tjokroaminoto, H. Samanhudi, dan H. Agus Salim. Perkumpulan Jamiatul Khair berperan penting dalam penyebaran agama Islam di masa Hindia Belanda. Namun Belanda curiga perkumpulan Jamiatul Khair bermaksud melakukan pemberontakan. Tahun 1903 para pengurus masjid kemudian mengajukan permohonan kepada pemerintah Belanda, dan tahun 1905 Jamiatul Khair resmi diakui sebagai organisasi kolonial Belanda.

Meskipun hanya berupa sebuah bangunan kecil yang halaman luarnya sangat terbatas, tetapi masjid ini turut menjadi saksi perubahan zaman, dari masa kolonial Belanda hingga kemerdekaan seperti saat ini. Keutamaan dan kekhususan masjid bagi jama’ah perempuan, sejarah lahirnya perkumpulan Jamiatul Khair serta kelahiran tokoh-tokoh Islam nasional di dalamnya, dan sumber mata air di dalam masjid yang tidak pernah kering menjadi keistimewaan tersendiri bagi Masjid Ar-Raudhah Shahabuddin di Pekojan ini. Keistimewaan inilah yang tetap dipertahankan oleh masyarakat sekitar meskipun sudah ada masjid-masjid lain dengan ukuran lebih besar dan nyaman.