Masjid Al Kautsar Polda Metro Jaya, Wisata Religi

Masjid Al Kautsar terletak di kompleks Kantor Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya. Masjid berada di bagian selatan yang berdekatan dengan gedung Artha Graha, di seberang Mal Pacific Place di kawasan SCBD (Sudirman Center Business District). Saat menatap bangunan ini dari arah Pacific Place sempat terkagum-kagum juga, tidak menyangka jika di kawasan bisnis sebesar SCBD ada masjid sedemikian megah. Ternyata masjid berdiri di lahan Polda Metro Jaya seluas 4.278 m². Luas bangunan masjidnya sendiri 2.300 m² dengan daya tampung ± 2.000 jama’ah. Pembangunannya dimulai pada 29 Oktober 2004, dan diresmikan tanggal 31 Mei 2008.

Al Kautsar adalah nama surat ke-108 dalam Al Quran yang artinya nikmat yang banyak. Pendirian Masjid Al Kautsar pun merupakan perwujudan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala nikmat-Nya yang melimpah. Nama Al Kautsar juga merujuk pada sebuah sungai atau telaga yang sejuk dan indah di surga. Pemberian nama Al Kautsar untuk masjid ini adalah dengan pengharapan Masjid Al Kautsar akan memberikan kesejukan bagi para jama’ah yang beribadah di dalamnya, dan menjadi keindahan bagi gedung-gedung yang ada di sekitarnya serta mata yang menatapnya. Masjid ini dirancang sebagai masjid ramah lingkungan dengan pepohonan dan taman-taman kecil yang menjadikannya asri dan teduh. Gerbang masuk semula dibuka dari segala arah, termasuk perkantoran di kawasan SCBD, tetapi sekarang dengan alasan keamanan maka gerbang yang terhubung dengan SCBD hanya dibuka pada hari Jum’at. Jama’ah masjid ini memang mayoritas anggota kepolisian Polda Metro Jaya, para pekerja di lingkungan SCBD, dan para tamu dengan berbagai kepentingannya.

Arsitektur masjid sungguh indah dan megah, memadukan gaya Timur Tengah, Eropa, dan Jawa. Nuansa Jawa sangat mendominasi ornamen masjid ini. Ukiran khas Jepara bermotif sulur-suluran dan geometris serta bintang bersegi lima berpadu cantik pada kayu-kayu jati yang menjadi komponen pintu dan jendela. Juga hiasan yang ditempelkan pada dinding atau ambang ruang mihrab. Material tembaga pada pintu, jendela, serta pagar lantai mezanin juga diukir dengan motif sulur-suluran dan geometris. Pintu gebyok dengan hiasan raya khas Jawa direpresentasikan oleh pintu masuk ruang sholat utama yang berbentuk lengkung dengan dua daun pintu berukiran. Pengaruh Timur Tengah diperlihatkan oleh keberadaan dua menara utama dan kubah di masjid ini, karena dahulu masjid-masjid di Indonesia hanya berbentuk bangunan persegi dengan atap tumpang.  Banyaknya menara, deretan tiang-tiang dengan penyangga melayang, dan ornamen pada hampir seluruh permukaan dinding, detail perpelipitan pada dinding, serta langit-langit, mengingatkan pada bangunan-bangunan Eropa bergaya gothic.

Ruang mihrab berupa relung dengan kedalaman ± 4 m dan lebar ± 5 m. Di dalam ruang mihrab ada sebuah relung kecil yang dibuat khusus sebagai tempat imam memimpin sholat berjama’ah. Tepian dinding ruang imam sholat diberi ukiran jati bermotif geometris. Bagian muka ruang mihrab atasnya diberi hiasan jati berukir motif sulur-suluran dan geometris dengan tiga garis lengkung, di sisi kanan diberi kaligrafi berlafadz Allah serta lafadz Muhammad di sisi kiri. Pada dinding di samping kanan dan kiri ruang mihrab terdapat hiasan kaligrafi yang menjadi satu kesatuan dengan bingkai jendela di lantai mezanin. Hiasan kaligrafi lainnya ada pada dinding pembatas lantai mezanin dengan lantai ruang sholat utama persis di bawah pagar keliling di bagian tengah. Hiasan kaligrafi di masjid ini dibuat menggunakan gaya tsuluts, baik tsuluts ‘aady atau tsuluts biasa yang tidak rumit, dan tsuluts jaily yang dibuat bersusun-susun (murokkab) atau berpantulan (ma’kus/mutanadzir).

Keindahan Masjid Al Kautsar tidak terbatas pada fisik bangunannya saja tetapi juga penataan area dan komponennya memiliki filosofi masing-masing. Masjid ini memiliki tiga tingkatan yang berbeda. Pertama adalah selasar yang menggunakan conblock melambangkan iman. Level kedua yang dihubungkan oleh beberapa anak tangga adalah serambi masjid yang melambangkan Islam, dan level ketiga yaitu atap bangunan melambangkan ihsan. Kubah utama pada atap masjid yang berukuran besar didampingi empat kubah kecil menempel di dinding bawah, melambangkan ajaran Islam yang satu, dipandu empat mazhab dalam Islam yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Dua menara utama yang mengapit pintu masuk masjid menggambarkan bilangan dua kalimat syahadat. Lima kubah besar menggambarkan rukun Islam. Enam menara masjid melambangkan rukun iman. Tiang utama penyangga bangunan yang berjumlah sembilan melambangkan sembilan wali (wali songo) sebagai tokoh penyebar agama Islam di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Tinggi dua menara utama masing-masing 33 meter menggambarkan jumlah tiap kalimat dzikir selepas sholat, sedangkan empat menara lain berketinggian masing-masing 17 meter melambangkan jumlah raka’at sholat wajib dalam satu hari. Tiang bulat berjumlah 99 buah di masjid ini merupakan simbol Asmaulhusna (nama-nama Allah).

Masjid Al Kautsar menyelenggarakan sholat wajib berjama’ah setiap harinya dan sholat Jum’at. Kajian tematik rutin diadakan ba’da sholat Dzuhur, dan setiap Kamis pagi diadakan santunan untuk anak yatim. Masjid ini juga sering bekerja sama dengan berbagai pihak dalam penyelenggaraan tabliq akbar. Ulama yang pernah memberikan ceramah di masjid ini di antaranya Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Najmi Umar Bakkar, Ustadz Arifin Ilham, dan Ustadz Maulana. Masjid Al Kautsar juga menyelenggarakan perayaan hari-hari besar Islam seperti Isra Mi’raj, Maulud Nabi, Idul Fitri, Idul Adha, dan Tahun Baru Hijriyah. Kegiatan ibadah Romadhon diselenggarakan sama seperti masjid-masjid lainnya yaitu berbuka bersama, sholat Tarawih, ceramah, dan tadarus Al Quran.