Masjid Agung Al Azhar, Wisata Religi

Masjid Agung Al-Azhar terletak di Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Masjid ini mulai dibangun tahun 1952 dan diresmikan pada bulan April 1959, tetapi penggunaannya sudah dimulai sejak Lebaran 1958. Saat itu di kawasan Kebayoran Baru sudah berdiri Gereja Katholik di Jalan Barito dan Gereja Protestan di Pasar Santa. Para tokoh pemuka Islam kemudian mengajukan tuntutan kepada Centraal Stichting Wederopbouw (CSW) untuk dibuatkan sebuah masjid besar. Maka oleh Syamsurizal, Walikota Jakarta Raya tahun 1951-1953, ditetapkan sebidang tanah penuh semak di Jalan Sisingamaraja yang telah dibebaskan oleh CSW untuk didirikan masjid di atasnya. Desain masjid Agung Kebayoran Baru dibuat oleh Ir. Imam Soedjono dari Bandung, sedangkan kontraktor NV Kamid dibawah pengawasan United Builders, ditunjuk sebagai pelaksana fisiknya. Meski Syamsyurizal meminta agar nama Masjid Agung tidak diubah, tetapi atas permintaan Buya Hamka, untuk menghormati dan menghargai Syekh Al Azhar Machmud Syaltout, nama masjid diubah menjadi Masjid Agung Al Azhar. Ketenaran masjid ini sudah dimulai sejak pembangunannya, karena Mingguan Star Weekly No. 693 – 11 April 1959 menurunkan laporan tentang pembangunan masjid Agung Al Azhar dan melakukan wawancara dengan Syamsurizal, Walikota Jakarta Raya saat itu.

Bangunan Masjid Agung Al-Azhar dibuat dengan memadukan arsitektur Masjid Hij’ di Saudi Arabia, dan Masjid Qibtiyah di Mesir.  Masjid dengan luas bangunan 43.755 m² ini mampu menampung hingga 5.000 jama’ah. Azyumadi Azra menyebutkan bahwa Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta, sebagai kompleks masjid multifungsi pertama di Indonesia. Masjid ini memang dirancang untuk menampung fungsi-fungsi masjid sebagai pusat kegiatan dakwah dan sosial, termasuk pernikahan dan kegiatan sosial lainnya. Para pendirinya ingin agar masjid kembali pada fungsi awalnya sebagai pusat peradaban dan kegiatan umat. Pemilihan warna putih yang mendominasi eksterior masjid memberikan kesan suci dan agung. Sejumlah anak tangga yang harus ditapaki terlebih dahulu sebelum mencapai pintu masuk menambah kesan anggun. Kesederhanaan bentuk dan ornamen tidak mengurangi kemegahan masjid ini. Masjid yang berdiri sejak tahun 1958 ini juga menjadi incaran banyak pasangan muda untuk mengikat janji pernikahan. Entah mengapa, sessi foto di anak tangga dengan latar belakang bangunan masjid selalu menjadi “angle” favorit. Bisa jadi kemegahan dan nama besar Masjid Agung Al-Azhar menjadi daya tarik tersendiri untuk orang datang berkunjung, sekedar melihat-lihat dan berfoto, atau memang untuk mendapatkan suasana yang berbeda ketika beribadah di dalamnya. Kubah-kubah di bagian atap masjid juga memberikan pesona berbeda, yang mengingatkan pada bangunan Taj Mahal di India.

Kegiatan ibadah dan dakwah di Masjid Agung Al-Azhar awalnya hanya diikuti oleh masyarakat di sekitar kawasan Kebayoran Baru saja, tetapi seiring perkembangan dengan makin banyaknya aktivitas masjid jama’ah pun mulai banyak. Saat ini  jama’ah Masjid Agung Al-Azhar datang dari berbagai lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang tinggal di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tetapi juga dari luar daerah Jakarta Selatan seperti Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, dan lain-lain. Semaraknya kegiatan Islami di Masjid Agung Al-Azhar tidak lepas dari peran Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka selaku Imam Besar Masjid Agung Al-Azhar. Figur Buya Hamka yang ceramahnya senantiasa membawa kesejukan dengan pilihan kalimat-kalimat santun dan mudah dipahami oleh pendengarnya, telah mengikat perhatian umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia, terutama melalui acara Kuliah Subuh yang disiarkan oleh RRI.

Di kompleks Masjid Agung Al-Azhar kini terdapat lebih dari 25 kegiatan dengan beragam bentuk dan corak aktivitas, seperti pengajian agama, majelis taklim, diskusi, ceramah umum, kursus, pelayanan jenazah, pelayanan kesehatan, bimbingan perjalanan haji dan umrah, pencak silat, madrasah diniyah, pendidikan formal dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi, sampai pada pelayanan perbankan (keuangan) dan travel biro (perjalanan) serta layanan pemakaman Islam.

Kuliah Subuh adalah kegiatan yang sudah sangat mentradisi di masjid ini, begitu juga kuliah Ramadhan yang terkenal sejak masa Buya Hamka. Majelis Taklim rutin diadakan setiap hari dan bersifat terbuka bagi jama’ah dari manapun juga. Pada bulan Ramadhan, pengelola Masjid Agung Al-Azhar mengadakan kegiatan rutin yang berlangsung sejak Subuh hingga malam hari. Sebelum menunaikan sholat Subuh dan Dzuhur, serta sebelum berbuka puasa, jama’ah masjid mendapat pencerahan melalui program kuliah tujuh menit (kultum). Masyarakat yang ingin memperbaiki cara membaca Alquran juga dapat mengikuti tadarus, tahsin, dan tadabbur Alquran. Berbuka puasa di masjid ini terasa berbeda, ada rasa damai saat berkumpul bersama tanpa perbedaan kaya ataupun miskin. Terjalinnya ukhuwah memang menjadi salah satu berkah di bulan suci Ramadhan. Suasana berbuka puasa di masjid Agung Al Azhar terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, mereka yang umumnya bisa dikatakan tidak mampu. Kedua, mereka orang-orang yang pulang kerja tetapi jarak menuju rumahnya jauh. Ketiga,  mereka yang cukup mampu tetapi tidak datang untuk mencari makanan melainkan kebersamaan dan ketenangan dalam nuansa kerohanian. Masjid Agung Al Azhar juga sering menjadi tempat penyelenggaraan tabligh akbar yang dihadiri ulama-ulama kondang dan tokoh-tokoh nasional seperti Ustadz Bachtiar Nasir, Tengku Zulkarnaen, Hamdan Zoelva, Amien Rais, Ustadz Adi Hidayat, dan KH Cholil Ridwan.