Masjd Kolong Tol “babah Alun”, Fasilitas Keagamaan

Masjid bergaya oriental berdiri megah di kolong Tol Pelabuhan, tepatnya di Gang 21, Warakas, Jakarta Utara. Bangunan itu tampak kontras dibandingkan padatnya rumah warga di sekitarnya. Dilihat dari luar, banyak orang yang mengira bangunan tersebut merupakan klenteng atau vihara.Bangunan yang didominasi warna merah dan hijau itu merupakan sebuah masjid yang bernama Babah Alun.

Masjid tersebut didirikan oleh Muhammad Jusuf Hamka, seorang mualaf keturunan Tionghoa yang tercatat sebagai Komisioner Independen PT Citra Marga Nusaphala Persada, perusahaan yang membangun sejumlah jalan tol di Indonesia. Nama Babah Alun juga diambil dari sosok Jusuf Hamka. Babah artinya bapak, sedangkan Alun nama panggilan Jusuf waktu kecil.

Muhammad Jusuf Hamka alias Babah Alun adalah pria asal Banjarmasin yang pernah tinggal lama di Samarinda, Kalimantan Timur. Semasa kecil, ia membantu ibunya berjualan nasi kuning di kota tepian. Nasibnya perlahan berubah setelah ia merantau ke Jakarta.Yusuf menjadi mualaf sejak tahun 1981.

Arsitektur oriental yang digunakan dalam pembangunan masjid kolong tol tersebut bukan tanpa alasan. Hal itu merupakan bentuk akulturasi antara kebudayaan Tiongkok, Indonesia, dan Islam. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi lagi  gap antara yang Tiongkok dengan pribumi, Islam, dan orang lain, menyatu dalam Konsep Bhinneka Tunggal Ika lah.  Pintu masuk masjid pun mengingatkan pada pintu perguruan yang ada di film-film kungfu.

Masjid itu pun berdindingkan relief berwarna hijau yang bermotif oriental. Masjid itu juga berbentuk segi delapan, tidak seperti masjid pada umumnya yang berbentuk segi empat. Kubah yang menjadi ciri khas masjid juga tidak ditemukan di bangunan yang didirikan sejak Agustus 2017.

Dahulu Lahan 1.500 meter persegi tempat Masjid Babah Alun berdiri adalah tempat pembuangan sampah,  prostitusi dan premanisme.   Saat merancang masjid Jusuf Hamka mengirim 20 orang ke Xinjiang, Cina dan meminta rekan-rekan arsiteknya untuk memadukan budaya Tiongkok, Islam dan Indonesia. Pada pertengahan Agustus 2017, suasana kumuh perlahan berubah dan Mei 2018 berbarengan dengan awal Ramadhan, Masjid Babah Alun selesai dibangun di tempat itu.

Masjid yang dibangun dengan anggaran Rp 5,5 miliar itu mampu menampung 400 jemaah. Di dalamnya pun berlangsung berbagai aktivitas keagamaan. Dalam bulan Ramadhan selama sebulan penuh Jusuf menggelar buka puasa bersama di masjid itu. Sebanyak 150 nasi kuning tersaji lengkap bersama lauk-pauk dan takjil berupa kolak dan es buah, untuk dibagikan secara cuma-cuma.