Masagung

Nama aslinya Tjio Wie Tay. Ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Lahir di Jakarta, 18 September 1927 sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya meninggal ketika ia masih berusia empat tahun. Pendidikannya hanya sampai kelas lima sekolah dasar di Hollands Chineese Zending school, Jakarta. Ia memutuskan untuk berjualan rokok, mula-mula di Glodok lalu pindah ke senen. Ia kemudian memberanikan diri mendirikan toko kecil yang ia beri nama Thaysan Kongsi. Pada tahun 1953 Tjio Wie Tay mendirikan PT Gunung Agung yang semula bergerak di bidang toko buku. Ketika aksi Trikora berlangsung di Irian Barat, perusahaannya turut memasok buku-buku untuk memenuhi kebutuhan Universitas Cenderawasih yang akan dibuka di wilayah tersebut. Pada waktu itulah ia bertemu dengan Herlina, sukarelawati yang dianugerahi Pending Emas oleh Presiden Sukamo yang memberi nama Masagung kepadanya. Sejak itulah Tjio Wie Tay memakai nama Masagung.

Masagung dikenal akrab dengan keluarga Bung Kamo dan Bung Harta. Ia bahkan memakai nama ibunda Bung Karno (Idayu) untuk nama perusahaan penerbitan yang didirikannya, yakni Inti Idayu Press. Masagung juga menjabat direktur utama PT Ayumas Agung, PT Jaya Mandarin Agung dll. Di usia menjelang 50 tahun, Masagung beralih agama dari Hindu Dharma menjadi Islam, lalu menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan sosial dan dakwah. Ia juga mendirikan Yayasan Jalan Terang, Yayasan Tosan Aji dan Pusat Studi Islam. Pada tahun 1981 Masagung pergi ke Brussels mewakili Yayasan Idayu untuk menerima hadiah Dag Hammarskjold, penghargaan yang setiap tahun diberikan kepada negarawan, diplomat, cendekiawan dan tokoh lainnya. Meninggal di Jakarta, September 1996.