Mas Mansyur

Pahlawan nasional Indonesia, sekaligus tokoh besar Muhammadiyah. Lahir di Surabaya, 25 Juni 1896 dan meninggal, di Surabaya, 25 April 1946 saat menjalani tahanan di penjara Kalisosok. Menjabat sebagai ketua Pengurus Besar Muhammadiyah sejak tahun 1937 hingga 1943. Bersama Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta dan Ki Hadjar Dewantara, ia termasuk dalam "Empat Serangkai", yaitu pucuk pimpinan rakyat di masa pendudukan Jepang. Mas Mansur dilahirkan di kampung Sawahan, Surabaya. Ia berasal dari keluarga pesantren Sidoresno di Surabaya. Pendidikan dasarnya diperoleh dari ayahnya sendiri, lalu dari seorang kiai di pesantren Kademangan (Madura). Pada usia 12 tahun ia meneruskan pendidikannya di Mekah. Walaupun tidak disetujui ayahnya, Mas Mansur tetap meneruskan pendidikannya ke Universitas al-Azhar, Mesir.

Selama di Mesir ia membaca banyak buku sastra Barat yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, juga mengunjungi beberapa pesantren. Menjelang PD I, Mas Mansur diminta pulang oleh ayahnya, dan baru tiba di Indonesia pada tahun 1915. Ia tidak langsung menuju Surabaya, tetapi ke Yogyakarta mengunjungi K.H. Ahmad Dahlan, pendiri dan pemimpin Muhammadiyah. Sejak di Mesir Mas Mansur sudah mendengar kiprah perkumpulan umat Islam di Indonesia. Ia baru menjadi anggota Muhammadiyah pada tahun 1921, setelah menjadi anggota Serikat Islam (SI) sejak tahun 1915. Di Surabaya ia mendirikan cabang Muhammadiyah dan menjadi ketuanya. Pada 1937, terpilih menjadi ketua Pengurus Besar Muhammadiyah melalui kongres ke26. Hasil pemilihan itu tidak lazim karena menurut tradisi belum pernah seorang dari luar Yogyakarta menjabat ketua Muhammadiyah.

Dalam tahun yang sarna, memprakarsai pendirian Majelis Islam Tertinggi yang kemudian berkembang menjadi Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI), lalu menjadi Majelis Syuro' Muslimin Indonesia. Karena berpengaruh luas sebagai pemuka agama, Mas Mansur berpengaruh pula di bidang politik. Atas desakan Ir. Sukarno ia menjadi anggota "Empat Serangkai" di masa pendudukan Jepang. Maka ia pun terpaksa pindah ke Jakarta. Namun karena kehidupan di kota ini bertentangan dengan kaidah Islam, akhirnya ia kembali ke Surabaya. Untuk mengenang jasanya namanya diabadikan sebagai nama jalan di Jakarta yang terletak di daerah Kebon Melati, Jakarta Pusat.