Marakas, Seni Musik

Marakas adalah salah satu instrumen musik dalam Orkes Samrah atau Harmonium, dan pertunjukan Wayang Dermuluk. Berdasarkan suara yang dihasilkannya, marakas tergolong “idiofon” dimana sumber suara berasal dari fisik alat musiknya itu sendiri, yaitu dengan cara digoyang-goyangkan atau diguncangkan. Marakas termasuk alat musik yang berfungsi ritmis sebagai pengiring pengaturan tempo dan membantu memberi ketukan pada lagu. Di Indonesia sebenarnya alat musik ini sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari, hanya orang tidak pernah menyadarinya. Jika melihat penyanyi jalanan menggunakan botol bekas air mineral berisi butiran beras atau pasir sebagai pengiring lagu, maka itu sebenarnya adalah marakas dalam bentuk sederhana, dan orang kerap hanya menyebutnya sebagai “ecek-ecek”.

Alat musik marakas berukuran kecil, bisa dibilang hanya segenggaman tangan, dan cara memainkannya tidak terlalu sulit, hingga bisa dimainkan oleh siapa saja dari berbagai lapisan umur. Umumnya bagian luar alat musik marakas terbuat dari labu kering atau kulit kering yang dijahit. Ada juga yang dibuat dari kayu, jerami, kelapa, plastik, dan sejenis buah squash (labu madu). Bagian dalam dari material tersebut diisi biji-bijian atau bahan lain yang dapat beresonansi dengan labu kering (kulit luarnya), agar tercipta bunyi yang enak didengar dari benturan ataupun pergesekan di antara keduanya. Adapun jumlah isian didalamnya tergantung pada estetika sang pembuat atau pemainnya. Untuk memudahkan saat dimainkan, marakas diberi pegangan semacam tongkat kayu silinder di bagian bawahnya.

Marakas dijumpai di seluruh dunia. Alat musik ini berperan penting dalam sebuah orkestra atau big band, terutama musik asal Amerika Latin seperti cuba, salsa, rumba, charanga, dan trova ensemble. Banyak yang menganggap bahwa penggunaan marakas hanya sekedar improvisasi, tetapi sebenarnya marakas berperan penting sebagai penyeimbang ketukan. Misalnya jenis marakas khas Venezuela (joropo) yang biasa dimainkan dengan tempo 3/4 atau 6/8 (virtuoso). Musisi dari genre reggae banyak yang menggunakan marakas sebagai bagian dari aransemen lagu-lagunya misal Bob Marley and The Wailers, UB 40, Manu Chao, dan Big Mountain. Namun di Indonesia penggunaan marakas dalam aransemen musik reggae dianggap bukan sesuatu yang mutlak dan wajib, meski ada juga yang menggunakannya sebagai bagian dari aransemennya.

Marakas mempunyai beberapa nama yaitu maracas, maraca, maracax’a, mbara’ka, dan marak. Di masa lalu marakas mempunyai fungsi ritual hampir di seluruh Afrika, Amerika Selatan, dan Karibia, terutama masyarakat Afro-Kuba.  Marakas sebagai media kemudian dimainkan secara tunggal dalam upacara penyembuhan (santeria), dan berbagai prosesi ritual lainnya. Di kalangan suku Araucanian, Chili, marakas solo yang terbuat dari labu kering dengan material penutup berupa bahan tenunan juga digunakan oleh seorang dukun perempuan (mapuche) dalam upacara penyembuhan. Marakas juga berperan penting dalam sebuah ritual agama suku Indian kuno pra-Columbus.