MARAKARMA, HIKAYAT

Dikenal juga sebagai Hikayat si Miskin, salah satu naskah karya sastra Betawi yang diadaptasi dari karya sastra Melayu Klasik sebelum masuknya pengaruh Islam. Hikayat yang pernah diterbitkan di Jakarta dengan redaksi dari Datoek Madjoindo ini pertama kali diterbitkan di Leiden pada tahun 1897. Kosakata Arabnya yang tidak banyak menandakan bahwa hikayat ini bersifat Hinduistis. 

Dalam kesusastraan Melayu Klasik termasuk hikayat zaman peralihan awal. Penulis dan tahun penulisannya tidak tercantum dalam naskahnya, sebagaimana umumnya naskah-naskah lama. Apa yang disebut zaman peralihan dalam kesusastraan Melayu Klasik adalah masa transisi antara kesusastraan zaman Hindu dan zaman Islam; bukan suatu masa yang ditentukan dengan angka-angka tahun. Karena umumnya setiap karya sastra kuno tidak diketahui tahun penulisannya, sulitlah menetapkan pembagian karya sastra dalam kerangka angka tahun.

Naskah-naskah hikayat ini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta, kurang lebih dalam lima naskah. Di dalam cerita ini terdapat unsur-unsur India serta Melayu asli, selanjutnya para penyalin Islam memasukkan unsur-unsur Islam ke dalamnya. Sebagai hal yang khas dalam hikayat ini, antara lain, meskipun termasuk jenis hikayat, kisahnya tidak mengandung banyak peristiwa aneh dan ajaib. Secara umum bahasanya sederhana dan narasinya lancar.

Hikayat ini pun mengandung pantun yang menyinggung bangsa Belanda dan orang Kristen. Namun hikayat ini juga mengandung tiga motif Hindu, antara lain 1) tentang ahli nujum yang curang; 2) dua saudara yang terpisah, dan yang perempuan diperisteri oleh putra raja; 3) nakoda loba yang merebut isteri dan harta orang lain.

Hikayat ini mengisahkan Dewa Indra Angkasa yang dikutuk Batara Indra dan diusir dari kayangan lalu turun ke dunia dan menjalani kehidupan bersama isterinya. Karena keadaannya yang menderita, ia dikenal sebagai si Miskin. Namun semenjak isterinya melahirkan seorang anak laki-laki bernama Marakarma (artinya anak dalam kesukaran), kehidupan si Miskin mendadak berubah menjadi kaya raya, meskipun akhirnya kembali miskin oleh karena malapetaka. Marakarma yang telah dibuang oleh ayahnya (si Miskin) karena dianggap mendatangkan celaka, akhirnya menjadi sultan di Mercu Negara, setelah sebelumnya mengalami penderitaan hidup.