Mandor Oul Salam

Cerita rakyat Jakarta tentang seorang pemuda bernama Dul Salam yang dipanggil Mandor Dul Salam dan mempunyai seorang adik perempuan bernama Pijah. Kedua orang tuanya telah lama meninggal, sehingga kebutuhan hidup sehari-hari hanya ditumpukan dari Dul Salam. Dul Salam selalu berganti pekerjaan karena tak betah. Karena itu ia digelari Mandor, karena tidak mau jadi orang suruhan dan akhirnya terperosok ke dunia perjudian. Karena malas, dia tidak mau bekerja lagi dan setiap hari bermain judi dan dadu untuk penghidupan mereka sehari-hari. Akibat pekerjaannya, ia mempunyai kenalan penjudi dan berandalan. Suatu hari ketika Dul Salam pergi berjudi, datang Ismail (pemuda Padalarang, berwatak jahat, senang mengganggu wanita dan memeras penduduk serta pedagang kecil) ke rumahnya dan bertemu dengan adiknya. Ismail tertarik dan berniat mengawini Pijah, dan memberi batas seminggu kepada Pijah untuk memberikan keputusan.

Waktu yang ditentukan datang, Pijah menolak keinginan Ismail, namun Ismail tetap memaksa dan mengancam akan memperkosa Pijah. Terjadilah perkelahian antara Ismail dan Dul Salam, hingga Ismail terbunuh. Dul Salam melarikan diri ke hutan-hutan, tetapi polisi berhasil mengejar dan menangkapnya. Dul Salam memberikan alasan mengapa ia membunuh Ismail, namun tetap saja pengadilan menjatuhkan hukuman penjara sepuluh tahun. Dul Salam akhirnya dipenjara di Cipinang dan menyesali dirinya terjebak judi sehingga berteman dengan penjahat semacam Ismail dan mendorongnya membunuh sehingga masuk penjara.