Maladi

Komponis, olahragawan dan birokrat. Lahir di Surakarta, 31 Agustus 1912 dan meninggal di Jakarta, Mei 2001. Menteri penerangan dalam Kabinet Kerja II. Ia juga menteri Olahraga dalam Kabinet Kerja III, Kabinet Kerja IV, Kabinet Dwikora dan dalam Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan. Ketika masih muda ia adalah penjaga gawang handal dari klub Persis (Persatuan Sepak Bola Indonesia Solo). Kegemarannya bermain sepak bola, yang lebih kerap ia lakukan semasa di AMS (sekolah menengah) di Yogyakarta, memuncak sebagai pemain inti PSSI. Maladi bahkan duduk sebagai ketua umum organisasi sepak bola nasional tersebut, juga sebagai ketua kehormatan. Setelah lulus Maladi bekerja sebagai guru di Perguruan Rakjat, lalu sebagai penyiar pada Solosche Radio Vereniging sekaligus bertindak sebagai sutradara sandiwara dan penanggung jawab siaran olahraga pada radio tersebut.

Pada masa pendudukan Jepang, memimpin Solo-Radio Hoosokyoku. Ia salah seorang pemrakarsa rapat Para Kepala Studio Radio Seluruh Jawa, yang mengusulkan agar pemerintah mengambil alih semua Hoosokyoku yang ada di Jawa. Dari rapat itulah lahir semboyan "Sekali di Udara Tetap di Udara"·. Dalam masa perang kemerdekaan II (1948-1949), Maladi memimpin siaran RRI di Balong, Jawa Tengah. Ia berhasil mengadakan hubungan dengan perwakilan RI di luar negeri dan memberikan informasi bagi mereka dalam meneruskan perjuangan. Ketika itu ia berpangkat mayor tituler dan bertindak sebagai perwira penerangan MBKD (Markas Besar Komando Djawa). Setelah penyerahan kedaulatan ia menjadi direktur jenderal RRI, sekaligus menteri Penerangan. Di sela-sela kesibukannya, ia menyempatkan diri menggubah lagu, antara lain Rangkaian Melati, Solo di Waktu Malam dan Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Sebagai penggubah lagu ia menggunakan nama samaran Arimah. Dari pemerintah RI ia menerima anugerah Hadiah Seni.