MAKAM PANGERAN JAYAKARTA

Sebagian besar masyarakat Betawi memiliki kepercayaan terhadap makam keramat. Salah satunya adalah Makam Pangeran Jayakarta. Makam Pangeran Jayakarta terletak di kampung Jatinegara Kaum, Jakarta Timur yang merupakan kawasan kampung tua dan sudah ada sejak abad ke-17. Makam ini dianggap keramat karena dikaitkan dengan nama tokoh sejarah Indonesia yang berjuang melawan kolonialisme Belanda awal abad ke-17, yaitu Pangeran Jayakarta yang menjadi salah seorang adipati Kerajaan Banten. Menurut cerita warga sekitar, kampung ini dibangun oleh Pangeran Jayakarta setelah kota Jayakarta direbut oleh VOC Belanda pada tahun 1619. Dari tempat inilah Pangeran Jayakarta dan para pengikutnya menyusun kekuatan untuk kembali melakukan perlawanan terhadap VOC Belanda di Batavia.

Pangeran Jayakarta bergerilya ke hutan-hutan jati di tempat yang sekarang disebut dengan Jatinegara Kaum setelah kedudukannya di Sunda Kelapa dihancurkan oleh VOC. Ia mendirikan masjid yang kini bernama Masjid Salafiyah dan diperkirakan sudah berumur 400 tahun. Makam Pangeran Jayakarta pun berada di sebelah utara masjid ini. Makam tersebut dianggap memiliki kelebihan berupa kesaktian sehingga banyak diziarahi. Peziarah yang datang berkunjung ke makam Pangeran Jayakarta juga menyempatkan untuk sholat di Masjid Salafiyah.

Makam ini dibuka untuk umum pada tanggal 23 Juni 1956. Pada bagian atas makam sebelah kanan, dulunya terdapat sebuah pohon "Deroak" besar. Pada bulan Agustus 1964, pohon tersebut ditebang untuk mendirikan bangunan bagi peziarah. Pembangunannya dibiayai oleh Departemen Agama RI pada bulan Juli 1964. Makam Pangeran Jayakarta kemudian dipugar dan dinamakan menjadi Taman Pangeran Jayakarta yang dibiayai oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Makam Pangeran Jayakarta dianggap keramat sehingga ramai dikunjungi oleh masyarakat dan peziarah.