MAKAM MUFTI BETAWI, WISATA RELIGI

Makam Sayyid Utsman bin Aqil bin Yahya, yang dikenal sebagai Mufti Betawi, terletak di Jl. Masjid Abidin No.18, RT.3/RW.6, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. Makam ini tak pernah sepi dari peziarah, setiap hari selalu saja ada yang datang, terlebih lagi pada malam Jum’at dan hari libur. 

Al-Habib Utsman bin Yahya diangkat menjadi Mufti menggantikan Syekh Abdul Gani yang telah lanjut usia, dan menjabat sebagai Adviseur Honorer  untuk urusan Arab (1899–1914) di kantor Voor Inlandsche Zaken. Mufti adalah ulama yang memiliki wewenang untuk menginterpretasikan teks dan memberikan fatwa kepada umat, yang bisa dipegang oleh satu orang atau organisasi ulama. Sayyid Utsman dilahirkan di Pekojan, Betawi, pada tanggal 17 Rabiul Awal 1238 H (1822 M). Ayahnya bernama Abdullah dan kakeknya bernama Aqil. Keduanya dilahirkan di Makkah. Kakek ayahnya yang bernama Umar, dilahirkan di Hadramaut,  di desa Qârah Âl Syaikh. Mengenai kakek Sayyid Utsman, ‘Aqil, hanya ada penjelasan bahwa beliau adalah seorang yang cukup terhormat di Makkah. Jabatan sebagai Syaikh al-sâdah (pemimpin para sayyid) disandangnya selama 50 tahun. Ia kemudian meninggal dalam penjara Syarif Akbar. Ibu Sayyid Utsman bernama Aminah, putri dari Syekh Abdurrahman al-Mishri, seorang ulama keturunan Mesir yang sudah tinggal di Indonesia.

Sayyid Utsman diasuh oleh kakeknya, Abdurrahman al- Mishri. Melalui kakeknya pula Sayyid Utsman mendapatkan pengajaran membaca Al-Qur`an, akhlak, ilmu tauhid, fikih, tasawuf, nahwu sharaf, tafsir-hadist, dan ilmu falak. Sayyid Utsman berangkat ke Makkah ketika usianya 18 tahun, dan tinggal cukup lama antara tahun 1840 sampai 1847. Selain untuk menunaikan ibadah haji dan belajar, beliau juga mengunjungi ayahnya. Ketika berada di Mekah beliau belajar/berguru pada Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Mekah). Setelah tujuh tahun di Makkah, Sayyid Utsman melanjutkan perjalanannya ke Hadramaut pada tahun 1264 H (1848 M), dan belajar kepada para ulama Hadramaut antara lain Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir, Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri, dan Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahar. Hasrat Sayyid yang masih lapar akan ilmu, membuatnya berkeliling Madinah, Mesir, Tunisia, sampai Istanbul. Ia belajar di Kairo walaupun hanya 8 bulan, di Tunisia berguru kepada Syekh Abdullah Basya, dan di Aljazair belajar pada Syekh Abdurahman Al-Magribhi. Pada tahun 1862 Sayyid Utsman pulang ke Indonesia melalu Singapura menuju tanah kelahiranya Batavia. Malang melintang mencari ilmu, kedatangan Sayyid Utsman cukup disegani para ulama kala itu, meski Sayyid Utsman menampilkan sikap merendah. Syekh Abdul Gani Bima, yang sudah sepuh, meminta ia menggantikannya mengajar di Masjid Pekojan. Berkat ketinggian ilmunya pula, ia diangkat menjadi Mufti di tanah Betawi.

Rekam jejak Sayyid Utsman terbilang kontroversi pada zamannya. Disaat para ulama lain gigih menentang pemerintah kolonial, Sayyid Utsman justru berada di lingkungan pemerintah kolonial. Tidak jarang Sayyid Utsman menjadi santapan empuk kritik ulama saat itu, dituduh menjual agama kepada pemerintah kolonial terlebih ia adalah seorang Mufti di wilayah Batavia. Namun Sayyid Utsman juga tidak sedikit mendapat pujian, terutama karena keuletan Sayyid Ustsman dalam menentang bid’ah yang berlindung di balik baju tradisi dan budaya. Oleh sebab itu, tidak sedikit yang menyebutnya sebagai “Ulama Pembaharu”. Mufti Betawi ini meninggal pada 21 Shafar (1913 M) dalam usia lebih dari 93 tahun.