Makam Masjid Jatinegara Kaum, Wisata Religi

Masjid Jatinegara Kaum atau Masjid Jami As Salafiyah terletak di Jalan Jatinegara Kaum No.49, Kampung Jatinegara Kaum, Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Masjid ini termasuk salah satu masjid yang tergolong tua dan bersejarah di Jakarta, khususnya dari masa penjajahan Belanda pada abad ke-17. Kawasan Jatinegara Kaum erat kaitannya dengan Kesultanan Banten karena masjid ini didirikan oleh keturunan Tubagus Angke, keluarga ningrat asal Banten, yang membantu penduduk Jayakarta dari serangan tentara VOC bersama-sama dengan Pangeran Sageri dan Pangeran Sanghiyang (Sanghyang) beserta para pengikutnya.

Pada halaman masjid sebelah barat terdapat bangunan bercungkup seluas ± 100 m², yang merupakan makam dari para pendiri Masjid Jatinegara Kaum atau Masjid Jami As Salafiyah, beserta keluarga dan para pengikutnya. Atap cungkup berbentuk limasan tumpang dua yang ditutup genteng, disangga oleh dua belas tiang yang berjajar di setiap sisi. Lantai bangunan cungkup terbuat dari marmer dan dibuat lebih tinggi 20 cm dari lantai masjid. Cungkup dikelilingi dinding tembok setinggi 50 cm (seperempat dari tinggi bangunan), dengan pintu masuk tanpa daun pintu berada di sisi timur bangunan.

Di dalam bangunan bercungkup terdapat lima buah makam,  yaitu Pangeran Achmad Djakerta, Pangeran Luhut (putra Pangeran Achmad Djakerta), Pangeran Soeria (Surya) bin Pangeran Padmanegara, Pangeran Sageri (Sugiri), dan Ratu Rapiah binti Pangeran Sanghiyang (Sanghyang) istri dari Pangeran Sageri. Tiga makam yang disebutkan pertama letaknya sejajar dari barat ke timur, sedangkan kedua makam terakhir terletak di sisi utara dari makam ketiga. Struktur makam berupa kijing atau jirat, dan nisan. Kijing berbentuk empat persegi panjang dengan bahan marmer putih polos tanpa hiasan. Nisan terbuat dari batu, berbentuk pipih dengan lekukan bertingkat yang diberi hiasan kurawal serta sulur-suluran dan daun, sedangkan penyangga nisan berbentuk empat persegi panjang.

Mengenai makam Pangeran Achmad Djakerta yang ada di kompleks ini sebenanya masih menjadi kontroversi. Apakah memang Pangeran Achmad Djakerta yang menetapkan Jatinegara sebagai pengganti Jayakarta yang telah hangus terbakar  oleh Belanda masa itu, ataukah orang lain. Pada tahun 1713, ada nama Mas Achmat Jaketra, yang disebut-sebut dalam surat wasiat seorang pangeran. Tahun 1752 Achmat Jaketra ini membeli tanah di Jatinegara seharga seratus rijksdaalder. Ia juga seorang regent untuk wilayah Jatinegara, dan keturunannya hingga saat ini masih ada yang tinggal disana. Menurut Heuken, nama Jatinegara muncul pertama kali dalam naskah akhir abad ke-17, terkait Pangeran Purbaya, putra Sultan Ageng Tirtayasa yang tidak mau membantu ayahnya melawan Belanda. Jatinegara diserahkan oleh Kompeni kepada mereka. Tahun 1691 Kapten A. Winkler melaporkan bahwa ia bermalam di rumah Kiai Aria Surawinata, putra Pangeran Sanghyang dari Banten, ‘Kepala tanah Jatinegara’.

Terlepas dari kontroversi tentang makam tokoh Pangeran Acmad Djakerta yang dimakamkan di Jatinegara Kaum, kompleks masjid dan makam ini termasuk yang sering menjadi tujuan ziarah sebagai bagian dari napak tilas sejarah Islam di Indonesia. Para peziarah yang datang meyakini bahwa ahli kubur di komplek makam bercungkup sebagai orang-orang pilihan Allah yang berjuang melawan kaum kufar sekaligus berdakwah. Makam-makam mereka kerap dikunjungi para peziarah yang tidak hanya datang dari kawasan Jakarta dan sekitarnya tetapi juga dari berbagai daerah. Sampai saat ini pemakaman di areal kompleks Masjid Jatinegara Kaum masih digunakan sebagai tempat untuk memakamkan penduduk asli yang masih memiliki ikatan kekerabatan dengan Pangeran Acmad Djakerta. Kegiatan ziarah kubur akan selalu mengingatkan pada kematian yang bisa datang setiap saat tanpa bisa dihindari, sehingga bisa memicu masing-masing orang untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal untuk ‘pulang’.