MAKAM KERAMAT MBAH PRIOK

Sebagian besar masyarakat Betawi memiliki kepercayaan terhadap makam keramat. Makan tersebut dianggap memiliki kelebihan berupa kesaktian sehingga banyak diziarahi orang. Orang-orang yang berziarah datang dengan berbagai penjuru dengan berbagai tujuan, salah satunya adalah meminta rezeki, dimudahkan jodohnya, mendapat keturunan, dan sebagainya. Salah satu makam yang dikeramatkan adalah  Makam Mbah Priok. Menurut cerita yang tersebar, Mbah Priok adalah seorang ulama penyebar agama Islam yang meninggal dalam pelayaran dari Palembang ke Jakarta. Nama asli beliau adalah Habib Hasan Al-Hadad. Beliau meninggal akibat perahu yang ditupanginya dihantam badai dua kali. Hantaman pertama melenyapkan sebagian besar perbekalan. Hantaman berikutnya memecahkan perahu dan Habib Hasan Al-Hadad menemui ajalnya. Setelah badai reda, di perahu tinggal Habib Ali Al-Hadad dan jenazah Habib Hasan Al-Hadad, serta periuk untuk memasak nasi.

Perahu tersebut diiringi ribuan lumba-lumba terdorong ke pantai di sekitar Tanjung Priok. Tiba di pantai, warga menolong menguburkan Habib Hasan di pantai dengan dayung menjadi nisannya dan dibagian kakinya ditancapkan kayu kecil. Sementara itu, periuk diletakkan di samping makam. Kayu kecil yang ditancapkan kemudian tumbuh menjadi  sebuah pohon besar, yaitu pohon tanjung. Sedangkan periuk kecil tersebut tergeser kembali ke laut. Setiap tiga atau empat tahun selalu muncul periuk tersebut dengan ukuran yang membesar. Makam tersebut masih dikunjungi oleh para peziarah. Hingga pada tahun 2011 tanah tersebut sudah menjadi milik Pelindo dan terjadi bentrok antara peziarah dengan petugas. Bentrokan ini menyebabkan tiga orang tewas dan ratusan orang luka parah. Kisah Mbah Priok sendiri pada saat ini belum dapat dibuktikan kebenarannya, karena dianggap tidak logis dan penuh kejanggalan.