Makam Kehormatan Belanda (ereveld) Ancol, Wisata Sejarah

Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) ternyata memiliki satu spot wisata sejarah yang patut dikunjungi. Letaknya agak tersembunyi, di ujung kompleks TIJA di areal pantai karnaval dekat Bende Raksasa Ancol ke arah Restoran Jimbaran, Segarra atau Ancol Beach City Mall. Areal yang dibatasi tembok dengan pagar tinggi bergaya kuno ini dari kejauhan memang tidak tampak seperti sebuah tempat wisata sejarah, hingga tak banyak juga orang yang tertarik mengunjunginya. Pintu gerbang besi sering dalam keadaan tertutup meski tidak dikunci, terkesan seperti tempat “private” yang tak sembarang orang boleh masuk.

Makam Kehormatan Belanda (Ereveld) Ancol didirikan oleh Dinas Pemakaman Tentara milik Tentara Kerajaan Hindia Belanda untuk menghormati para korban Perang Dunia II dalam rentang tahun 1942 – 1945. Taman pemakaman khusus ini diresmikan pada tanggal 14 September 1946, dan merupakan Makam Kehormatan Belanda pertama yang ada di Indonesia, khususnya Jakarta. Ada satu lagi Makam Kehormatan Belanda di Jakarta yaitu di Menteng Pulo, sedangkan lainnya ada di Bandung (Ereveld Pandu), Cimahi (Ereveld Leuwigajah), Semarang (Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi), serta Surabaya (Ereveld Kembang Kuning).

Saat melangkahkan kaki memasuki area pemakaman, tersaji hamparan rumput tebal yang terpelihara dengan baik dan rapi di sisi kiri-kanan jalan setapak. Nisan-nisan berwarna putih berjajar dengan rapi. Awalnya nisan dibuat dari kayu tetapi kemudian diganti beton agar  dapat bertahan dari cuaca pesisir yang cenderung lembab dan asin. Ada nisan dengan nama korban yang tertulis jelas, tetapi lebih banyak yang tidak teridentifikasi sehingga hanya ditulis geexecuteerde (dieksekusi) atau onbekend (tidak dikenal) disertai nama lokasi penemuannya. Mayoritas yang dimakamkan di Ereveld Ancol adalah korban kekejaman kamp konsentrasi Jepang, serta perang antara Belanda dan Indonesia pada masa revolusi. Mereka yang dimakamkan di tempat ini tidak hanya tentara Belanda tetapi juga orang Indonesia yang tergabung dalam KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) serta rakyat sipil Belanda dan Indonesia. Ada juga 128 tentara dari negara-negara Commonwealth (Amerika, Kanada, Inggris, Australia) yang dihukum mati setelah penyerbuan tentara Jepang tahun 1942. Jumlah yang dimakamkan di Ereveld Ancol seluruhnya lebih dari 2000 orang.

Lokasi Makam Kehormatan Belanda ini dahulu adalah kawasan rawa tak berpenghuni. Di kawasan inilah eksekusi terhadap ratusan tawanan kamp konsentrasi Jepang dilakukan. Ada  kisah memilukan dibalik batang pohon Alianthus excelsa atau Hemelboom (pohon surga) yang diawetkan di area pemakaman karena eksekusinya kerap dilakukan di bawah pohon tersebut, demikian keterangan yang tertulis dalam brosur dan penuturan petugas makam. Namun tidak semua yang dimakamkan di areal Ereveld Ancol dieksekusi di daerah Ancol juga, banyak korban perang dari daerah lain kemudian dibawa ke Ancol untuk dimakamkan dengan layak. Tahun enam puluhan, para korban yang dieksekusi di berbagai tempat di Indonesia dipindahkan dari ereveld-ereveld di Banjarmasin (1961), Medan (1966), Makassar (1968), dan Mandor (1968), lalu dimakamkan kembali di Ereveld Ancol.

Seringnya banjir melanda kawasan makam akibat tanggul yang tidak kuat menahan arus laut, telah memaksa pembuatan tanggul baru sesuai standar persyaratan Belanda di tahun 2007. Tanggul yang mampu menahan masuknya air laut ke kawasan makam paling sedikit harus dpat bertahan hingga jangka waktu 30 tahun ke depan. Rancangan tanggul kemudian dibuat oleh perusahaan Belanda Witteveen + Bos, sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh PT Grasindo dengan pengawas orang Belanda W.Buss. Tahun 2009 pembangunan tanggul selesai kemudian dilanjutkan dengan renovasi Ereveld secara keseluruhan paska rusak karena banjir yang sering merendam makam dan rerumputan. Peresmian tanggul yang diberi nama “Stenen Kustdijk” dan pembukaan ulang Ereveld Ancol dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2010 oleh R.S. Croll, Presiden Oorlogsgravenstichting. Makam Kehormatan Belanda yang ada di Indonesia seluruhnya memang berada dibawah pengurusan Oorlogsgravenstichting (Yayasan Makam Kehormatan Belanda) yang berpusat di Den Haag, karena ada kekhawatiran Makam Kehormatan Belanda di Indonesia tidak akan memperoleh perhatian khusus layaknya di Eropa. Dengan dirawatnya Ereveld ini, diharapkan kisah para korban dapat tetap dikenang terutama oleh para keluarga korban dan penggalan sejarah mereka mendapatkan pengakuan yang selayaknya.

Waktu kunjung: Setiap hari pukul 07.00 - 18.00