Makam Habib Kuncung, Wisata Religi

Makam keramat Habib Kuncung, demikian orang menyebutnya. Terletak di samping sebuah masjid di kawasan Kalibata, di Jl. Rawajati Timur II No.69, RT.3/RW.8, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Makam Habib Kuncung yang wafat pada usia 93 tahun, tanggal 29 Sya’ban 1345 H (1922 M), berada di antara makam keluarga Habib Al Haddad, yang sekarang seluruhnya dibuatkan bangunan bertutup untuk memberikan kenyamanan kepada para peziarah yang datang.

Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad Qurfha lahir di Qurfha, Hadramaut, Tarim, Yaman, pada tanggal 26 Syaban 1254 H bertepatan dengan 14 November 1838. Beliau berguru kepada ayahnya sendiri Al Habib Alwi Al Haddad,  Al Habib Ali Bin Husein Al Haddad, Al Habib Abdurrahman Bin Abdullah Al Habsyi, dan kepada Habib keramat Empang Bogor, Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Attas. Sejak kecil beliau sudah berdagang sebagaimana halnya Rasulullah. Berdagang membuatnya mengenal wilayah Asia Tenggara, bahkan menuai sukses di Singapura. Habib Ahmad  sering muncul di Majelis Ulama kalangan Habaib di Jakarta, yang dipusatkan di kediaman Habib Ali Al-Habsyi Kwitang. Namun beliau lebih dikenal oleh masyarakat Bogor, karena banyak menghabiskan waktu disana. Kedekatannya dengan masyarakat Bogor terlihat dari panggilan “Kuncung” yang kemudian melekat pada beliau. Habib Ahmad dijuluki “Habib Kuncung” karena kerap memakai kopiah pemberian bangsawan Bugis yang berbentuk kerucut atau kuncung (mengecil ke atas). Kerajaan Bugis memberikan kopiah istimewa karena Habib Ahmad mempunyai karomah yang besar di kalangan bangsawan Bugis masa itu.

Habib Kuncung hidup bak pengembara hingga tak banyak diketahui sejarahnya secara jelas, dahulu saat menuntut ilmu dan berdagang pun beliau selalu berpindah-pindah. Belanda, Malaysia, Singapura, Batavia, dan Makassar, adalah sebagian tempat yang dijelajahinya. Habib Ahmad bertemu dan menikah dengan isterinya pun di Makassar. Mereka mempunyai satu putera yang meninggal sebelum memberikan keturunan sehingga garisnya pun terputus. Beliau hadir dan dikenal masyarakat sebagai seorang ulama yang misterius tetapi berilmu tinggi. Habib Kuncung merupakan orang yang memiliki khariqul a'dah atau orang yang memiliki kemampuan lebih di luar kebiasaan manusia umumnya. Habib Kuncung biasa disebut dalam bahasa kewalian sebagai ahli darkah, maksudnya di saat orang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan, maka Habib Kuncung akan muncul dengan tiba-tiba untuk membantu orang tersebut. Banyak orang yang apabila mengalami masalah berat menghadap kepadanya dan meminta nasihat maupun fatwa, jika kebetulan dapat bertemu, Habib Kuncung pasti memberikan nasihat yang merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits.

Meski banyak yang menganggapnya aneh, tetapi orang mengenang Habib Kuncung sebagai pribadi terhormat yang sholeh serta tawadhu (rendah hati, tidak sombong). Beliau tak pernah mau menerima hadiah, baik uang maupun pakaian, dan tampil apa adanya. Beliau tidak ingin orang memujanya secara berlebihan dan mengarah pada pengkultusan. Namun demikian tak ada orang yang meragukan kapasitas Habib Kuncung sebagai Waliyullah.

Konon saat prosesi pemakaman Habib Kuncung terjadi hal yang tidak lazim. Habib Kuncung yang semula akan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Habib Toha Bin Ja’far Al Haddad, setelah dishalatkan di Masjid At Taubah, jenazahnya tidak bisa diangkat untuk dimasukkan ke dalam liang lahat meski sudah mengerahkan tenaga hingga 10 orang. Habib Toha kemudian melaksanakan shalat sunnah bisyaroh, dan ternyata shohibul maqom (jenazah) ingin dimakamkan di pemakaman keluarga Habib Abdulloh Bin Ja’far Al Haddad, di samping Masjid At Taubah. Ketika masih hidup Habib Kuncung pernah berpesan kepada Habib Muhammad Bin Abdulloh bin Ja’far Al Haddad untuk dibuatkan rumah kecil, artinya di situlah Habib Kuncung ingin dimakamkan, di pemakaman keluarga Abdulloh Bin Ja’far Al Haddad.

Banyak orang menziarahi makam keramat Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad Habib Kuncung. Orang berziarah sambil merenungkan cara hidup yang harus dijalani dengan tawadhu serta kesholehan yang utuh, sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan dijalani oleh Habib Kuncung semasa hidupnya. Di depan makam Habib Kuncung terdapat gentong air yang sudah berusia 85 tahun. Salah satu ritual yang dilakukan peziarah di makam Habib Kuncung adalah meminum air karomah yang ada di dalam gentong. Keberadaannya di dekat makam meyakini para peziarah bahwa air di dalam gentong secara otomatis juga ikut terdoakan. Itulah sebabnya mengapa dianggap sebagai air yang berkaromah. Namun pendapat ini harus disikapi secara hati-hati, jangan sampai terjadi “kemusyrikan” karena menganggap ada keajaiban setelah meminum air tersebut. Hakekatnya kita berziarah adalah untuk mendoakan rahimahulloh sebagai bukti kecintaan kepada ulama, serta mengingat mati hingga muncul tekad kuat di dalam hati untuk memperbaiki niat dan ibadah kepada Allah. Hal itu berarti bahwa kita juga tidak boleh membandingkan kekuatan Allah dengan selain-Nya, termasuk air. Makam Habib Kuncung di kawasan Kalibata ini tidak pernah sepi dari para peziarah, yang jumlahnya meningkat saat Kamis malam Jum’at. Ribuan peziarah biasanya memadati makam Habib Kuncung saat peringatan haul shohibul maqom dan maulid Nabi Muhammad, yang biasanya diadakan pada minggu pertama atau minggu ketiga bulan Rabiul Awal, ba’da Ashar.