MAKAM HABIB ALI KWITANG, WISATA RELIGI

Makam Habib Ali Kwitang beserta puteranya Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi, dan istri putranya Syarifah Ni’mah, serta Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali al Habsyi (dimakamkan pada tahun 2018), terletak di dalam Masjid Al Riyadh, Kwitang, yang didirikan oleh Habib Ali Kwitang atau  Habib Ali Al Habsyi. Keberadaan makam di dalam Masjid Al Riyadh menjadi daya tarik bagi sebagian umat Islam untuk berziarah.

Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Habsyi atau Habib Kwitang, lahir di Kwitang, Jakarta, pada 20 Jumadil Awal 1286 H (20 April 1870 M). Ayahanda beliau adalah Habib ‘Abdur Rahman al-Habsyi, seorang ulama dan da’i yang hidup zuhud (sederhana), sedangkan ibunda beliau bernama Nyai Hajjah Salmah, puteri seorang ulama Betawi dari Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur. Ada kisah menarik sebelum rahimahullah wafat. Beliau meminta tiga kyai kondang asal Jakarta untuk datang menemuinya dalam sebuah acara yang diadakan oleh majelis taklim pimpinannya. Kyai yang diminta datang adalah  K.H. Abdullah Syafi’i, K.H. Thahir Rohili, dan K.H. Fathullah Harun. Ternyata Habib Ali ingin mempersaudarakan mereka dengan putranya, Habib Muhammad. Dalam peristiwa mengharukan yang disaksikan ribuan jemaah itu, Habib Ali berharap, keempat ulama yang dipersaudarakan itu terus mengumandangkan dakwah Islam. Harapan Habib Ali kemudian menjadi kenyataan. Habib Muhammad meneruskan tugas ayahandanya memimpin majelis taklim Kwitang selama 26 tahun. K.H. Abdullah Syafi’i, sejak 1971 hingga 1985, memimpin Majelis Taklim Asy-Syafi’iyah, dan K.H. Thahir Rohili memimpin Majelis Taklim Ath-Thahiriyah. Sedangkan K.H. Fathullah Harun belakangan menjadi ulama terkenal di Malaysia. Ketiga majelis taklim tersebut menjadikan kitab An-Nasaih ad-Diniyyah, karya Habib Abdullah Alhadad, seorang sufi dari Hadramaut, penyusun Ratib Hadad, sebagai pegangan karena kitab itu juga menjadi rujukan Habib Ali Kwitang.

Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi wafat pada tanggal 20 Rajab 1388 H (Oktober 1968) dalam usia 102 tahun. Ketika itu, TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi yang menyiarkan berita duka cita. Ribuan orang berbondong-bondong melakukan takziah ke kediamannya di Kwitang, Jakarta Pusat, yang sekaligus menjadi majelis taklim tempat ia mengajar. Sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara berdatangan memberikan penghormatan terakhir. Sejumlah murid almarhum dari seluruh Jawa, bahkan seluruh Indonesia dan luar negeri, juga datang bertakziah. Sebelum jenazah di makamkan di Masjid Al Riyadh, yang dipimpinnya sejak Habib Ali muda, Habib Salim bin Jindan, yang sering berdakwah bersama almarhum, membaiat Habib Muhammad, putra almarhum, sebagai penerusnya. Ia berpesan agar meneruskan perjuangan almarhum dan memegang teguh akidah Alawiyin.

Makam Habib Ali Kwitang sangat ramai dikunjungi ketika Haul Shohibul Maqom yaitu pada tanggal 20 Rabiul Awal. Selain itu juga makam Habib Ali ramai dikunjungi pada hari minggu pagi bertepatan dengan pengajian rutin mingguan Majelis Ta’lim Kwitang. Ada aturan ketat saat berziarah ke makam Habib Kwitang yang berada di dalam bangunan Masjid Al Riyadh, dan ditegaskan dengan jelas bahwa pesan tertulis itu merupakan pesan dari rahimahulloh Habib Kwitang semasa hidupnya bagi siapa saja yang akan menziarahi makamnya. Wasiat Habib Ali Alhabsy ini dipegang teguh oleh putra beliau K.H.S. Muhammad Bin Ali Alhabsyi semasa hidupnya. Wasiat tersebut adalah:

  1. Jangan taruh tromol (kotak amal), maksudnya adalah peziarah dilarang memberikan atau meletakkan uang dimakamnya
  2. Jangan taruh kemenyan, membawa dan menaruh air di area atau di atas makam. Maksudnya adalah almarhum tidak ingin dikultuskan atau disucikan, karena jika  umat Islam melakukan kekeliruan dalam berziarah, maka rahimahulloh akan ikut menanggung dosanya.
  3. Kalau ingin memberikan hadiah kepada shohibul maqom berupa bacaan surat Al Fatihah atau surah Yasin. Maksudnya adalah biar bagaimanapun rahimahulloh masih mengharapkan bantuan ummat, agar almarhum mendapat ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.