Makam Habib Alaydrus, Wisata Religi

Makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus merupakan salah satu makam keramat tertua yang ada di Jakarta. Makamnya berada di dalam bangunan Masjid Luar Batang, di sebelah kiri pintu masuk masjid. Makam Habib diberi cungkup, sayangnya cungkup atau tabut dalam bahasa setempat, ditutup dengan alasan tertentu, sehingga bentuk makam atau kijing dan nisannya sama sekali tidak bisa diketahui. Bentuk tabut menyerupai bentuk rumah, yang dimaksudkan sebagai tempat peristirahatan terakhir Habib Husein. Bagian atasnya berbentuk limasan, sedangkan bagian bawah yang diberi penutup bentuknya empat persegi panjang. Di bagian atas tabut terdapat ukiran kaligrafi. Cungkup atau tabut berbahan kayu jati  Jepara, yang diberi ukiran indah bermotif geometris dan ulir-uliran pada tiang. Tabut memiliki 6 buah jendela dan 2 pintu berukuran kecil. Di dalam makam tertutup tersebut, ada tiga buah kelambu untuk menjaga agar makam tetap terawat dan utuh. Kain berwarna hijau menutupi seluruh bagian makam beserta tabutnya, dan di bagian atas kain penutup terdapat tulisan Arab dengan gaya khat tsulus. Di area makam terdapat empat tiang penyangga atap terbuat dari kayu jati kokoh.

Prasasti batu pada makam menyebutkan bahwa Sayid Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus wafat pada hari Kamis 17 Puasa 1169 H “berbetulan” dengan 24  Juni 1756. Mengenai tahun meninggalnya Habib yang tercantum pada makam masih menjadi kontroversi.

L.W.C. van den Berg tahun 1886 dalam tulisannya menyebutkan nama Habib Husein bin Abubakar Alaydrus sebagai berikut: “Cendekiawan (Hadramaut) pertama ialah Sayid Husain bin Abû Bakar al-‘Adrus, yang meninggal pada tahun 1798, setelah mengajar selama bertahun-tahun. Segera setelah wafat, ia memperoleh reputasi sebagai keramat. Di atas makamnya di Luar-Batang, dekat muara kali Batavia, telah didirikan sebuah masjid besar, yang kini menjadi pusat ziarah di Nusantara”.

Profesor Azyumardi Azra dalam disertasi doktoralnya menulis: “Al-Habib Husein al-Alaydrus lahir di Hadramaut dari keluarga sederhana sebagai yatim dan dititipkan kepada seorang ‘alim sufi’. Semasa masih belia Husein berniat hijrah ke kota Surat di Gujarat (India Utara), yang sedang terjangkit wabah dan dilanda kekeringan. Husein mendatangkan hujan dan kesehatan. Karena kejadian itu ia ditawari menjadi penguasa setempat, hal mana ditolak Husein, yang hendak berangkat ke Batavia (1736). Di sebelah barat mulut Ciliwung, di dekat tempat bongkar-muat barang kapal, di tengah-tengah semak-belukar dan hutan bakau dibangun sebuah surau. Banyak orang mengunjungi Habib Husein untuk belajar berdoa”.

Koran Bataviaasche Courant, pada 12 Mei 1827, memuat suatu karangan tentang Masjid Luar Batang. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa Habib Husein meninggal kurang lebih pada tahun 1796. Ia wafat setelah lama berkhutbah dan menyiarkan Islam di Surabaya dan Batavia. Pada tahun 1812 makamnya dikelilingi batu dan masih terletak di luar gedung masjid sampai tahun 1827. Rupanya pada waktu itu, derma tidak lagi diterima komandan (semacam lurah) daerah Luar Batang, tetapi dinikmati oleh pengurus masjid sehingga tempat ibadah ini bisa diperluas. Kramat Luar Batang adalah daerah yang termasyhur di Batavia. Habib Husein meninggal di rumah komandan Abdul Raup dan dimakamkan di samping masjid yang sudah ada.

Selain makam Habib Husein Alaydrus, di lokasi yang sama juga dimakamkan murid kesayangannya sekaligus sahabatnya yaitu Haji Abdul Qodir. Makam di kawasan kampung Luar Batang hampir tidak pernah sepi dari peziarah, setiap harinya ada ratusan yang datang. Ketika haul shohibul maqom Habib Husein bisa sampai ribuan pengunjung/penziarah dalam sehari. Haul Habib Husein diadakan setiap tahun pada minggu akhir bulan Syawal, yang diprakasai oleh Habib Utsman bin Yahya saat  menjabat sebagai mufti Betawi. Penetapan haul berbeda dengan dengan waktu meninggalnya Habib Husein Alaydrus di tanggal 17 Ramadhan. Alasan Habib Utsman bin Yahya adalah karena di bulan Ramadhan para ulama dan habaib jarang keluar rumah, khusyu’ ibadah kepada Allah. Maka atas usul Habib Utsman bin Yahya maka haul Habib Husein diadakan setiap akhir Minggu di bulan Syawal, agar bisa juga menjadi ajang silahturahim dan halal bi halal para ulama serta kaum muslimin umumnya.